KalselBabusalam.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026), dengan membukukan kontraksi sebesar 1,85% atau setara 124,07 poin. Pelemahan tajam ini menyebabkan IHSG menembus level psikologis 6.600 dan akhirnya parkir di angka 6.599,24.

Penurunan signifikan IHSG pada hari ini dinilai masih sejalan dengan tren koreksi yang terjadi di pasar global. Sentimen negatif dari pasar dunia terakumulasi selama periode libur bursa domestik pada Kamis dan Jumat pekan lalu, yang kemudian turut membebani kinerja pasar saham Tanah Air saat kembali dibuka.

Berdasarkan data RTI Business, tekanan jual terlihat dominan dengan sebanyak 616 saham terpantau berada di zona merah, sementara hanya 125 saham yang berhasil menguat. Total nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp20,70 triliun, dengan kapitalisasi pasar menyusut ke angka Rp11.562,86 triliun, mengindikasikan besarnya nilai aset yang tergerus dalam satu sesi perdagangan.

Tak hanya di Indonesia, sejumlah indeks regional juga menunjukkan pelemahan. Bursa China (SSE Composite) dan Jepang (Nikkei 225), misalnya, masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 0,09% dan 0,97%. Namun, di tengah tren koreksi ini, Singapore Straits Times Index (STI) justru mencatat penguatan tipis sebesar 0,15% ke level 4.996,75, memperlihatkan dinamika yang bervariasi di kawasan Asia.

Menanggapi kondisi pasar modal yang bergejolak, Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan akumulasi dari sentimen global selama libur bursa domestik. “Jika kita akumulasikan koreksi dua hari di pasar global Asia saat kita libur, ditambah sedikit koreksi tambahan hari ini, hasilnya memang sama dengan penurunan yang kita alami sekarang. Jadi, masih inline dengan tren pasar global,” ujarnya, dilansir dari Gedung BEI, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Melihat volatilitas yang tinggi, Jeffrey Hendrik mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terjebak dalam kepanikan. Dia menekankan pentingnya untuk kembali berpegang pada analisis fundamental dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing. “Tidak bosan-bosannya kami mengingatkan supaya investor tetap memperhatikan fundamental, tidak panik, dan menganalisis secara cermat strategi berinvestasi sesuai profil risiko masing-masing,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Jeffrey juga membantah narasi yang menyebutkan bahwa IHSG kembali ke era pandemi. Menurutnya, fundamental pasar modal Indonesia saat ini jauh lebih kuat, yang tercermin dari pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat hingga mencapai 27 juta. Selain itu, meskipun berbagai sumber ketidakpastian global masih membayangi, mulai dari fluktuasi harga komoditas, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, hingga nilai tukar, BEI memastikan bahwa infrastruktur perdagangan tetap berjalan wajar dan efisien.

“Kami tidak pernah memprediksi angka indeks, namun yang kami pastikan bahwa seluruh transaksi perdagangan itu berjalan teratur, wajar dan efisien. Selanjutnya, kami serahkan kepada mekanisme pasar,” tegas Jeffrey, menekankan kepercayaan penuh pada mekanisme pasar yang transparan.

Sebagai informasi tambahan, IHSG tercatat mencatatkan performa terburuk di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik sepanjang pekan perdagangan 11—13 Mei 2026. Berdasarkan data Global Index Comparison, indeks komposit ini terkoreksi sebesar 3,53% ke level 6.723,32. Penurunan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan performa bursa ASEAN lainnya pada periode yang sama.

Misalnya, Singapore Straits Times Index (STI) justru melonjak 1,67%, diikuti oleh Thailand SET Index yang tumbuh 1,13%. Pelemahan IHSG bahkan semakin mencolok jika ditarik ke skala Asia Pasifik, di mana Bursa Korea Selatan (KOSPI) terbang dengan kenaikan 4,61%, serta bursa China (SSE Composite) dan Jepang (Nikkei 225) mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan masing-masing sebesar 1,50% dan 0,89%.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.