KalselBabusalam.com, JAKARTA — Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) disambut positif sebagai katalisator peningkatan penyaluran kredit perbankan. Namun, potensi pertumbuhan tersebut tak lepas dari dinamika ekonomi makro yang menjadi penentu utama laju permintaan kredit.

Adhika Vista, Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), menjelaskan bahwa perluasan kriteria aset dan liabilitas yang diperhitungkan dalam RIM membuka peluang signifikan bagi perbankan. Kebijakan ini memungkinkan bank untuk lebih mendiversifikasi portofolio aset dan liabilitasnya yang kini dapat diakui sebagai aktivitas intermediasi oleh Bank Indonesia.

“Dengan demikian, kebijakan ini berpotensi mendorong pertumbuhan pembiayaan perbankan secara keseluruhan,” ujar Adhika, dilansir dari Bisnis pada Minggu (24/5/2026).

Meskipun demikian, Adhika kembali menekankan bahwa akselerasi pertumbuhan kredit tetap sangat bergantung pada tingkat permintaan yang secara intrinsik dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi makro.

BI Tambah Insentif KLM hingga 0,5% Mulai Agustus 2026, Ini Respons Bank Swasta

Per 31 Maret 2026, posisi RIM Bank Mandiri tercatat sebesar 86,3%, sebuah angka yang menunjukkan ketaatan perseroan terhadap rentang yang ditetapkan oleh BI, yaitu antara 84% hingga 94%.

Untuk mempertahankan posisi RIM yang optimal, Adhika menjelaskan bahwa Bank Mandiri senantiasa menyusun rencana dan strategi pertumbuhan kredit serta penghimpunan dana dengan cermat. Pendekatan ini memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai untuk mendukung ekspansi bisnis, sembari tetap patuh pada ketentuan regulasi yang berlaku.

“Bank Mandiri sendiri berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyaluran kredit yang berkualitas, dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko secara terukur,” tegasnya.

Selain itu, Bank Mandiri secara berkelanjutan mengkaji dan memonitor kecukupan likuiditas dari waktu ke waktu, serta mengelolanya secara pruden dan optimal demi stabilitas operasional.

Bank yang dikenal dengan logo pita emas ini juga didukung oleh beragam alternatif pendanaan. Sumber pendanaan tersebut mencakup Dana Pihak Ketiga (DPK) dan instrumen lain seperti wholesale funding, yang eksekusinya selalu mempertimbangkan kondisi likuiditas, momentum yang tepat, serta dinamika pasar.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.