
MENTERI Perdagangan Budi Santoso menyatakan telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional agar mewajibkan satuan pelayanan pemenuhan gizi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur menyerap telur ayam yang diproduksi. “Sehingga harga bisa mendekati atau sesuai HET, sehingga para peternak akan merasakan harga yang bagus,” kata Budi, di kantor Kementerian Perdagangan, Kamis, 4 Juni 2026.
Budi mengatakan, instruksi itu mempertimbangkan kondisi harga telur ayam di Jawa Timur, khususnya Blitar yang sedang anjlok. Data Kementerian Perdagangan mencatat rata-rata harga telur ayam ras di Jawa Timur pada Kamis, 4 Juni 2026 adalah Rp 25.474 per kilogram. Selain mengalami penurunan sebesar 0,02 persen secara harian, harga telur ayam ras di Jawa Timur bergerak menjauhi harga acuan pembelian (HAP) tingkat konsumen yang ditetapkan Rp 30.000 per kilogram.
Ia mengatakan, saat ini produksi telur sedang surplus 12 persen. Sehingga menurut Budi, kondisi surplus produksi ini menjadi keuntungan bagi peternak apabila disertai permintaan. “Penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik,” tuturnya.
Budi mengatakan, langkah pemerintah mewajibkan dapur MBG menyerap komoditas pangan tidak hanya terbatas pada telur. Ia mengatakan, pemerintah bakal menjadikan SPPG untuk menyerap bahan pangan seperti daging ayam jika harganya sedang jatuh.
Selain menggunakan SPPG untuk melakukan penyerapan, Budi membuka peluang untuk menjadikan telur sebagai bantuan pangan ketika produksinya sedang surplus. “Misalnya harga telur sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti Minyakita atau beras, tapi bisa juga telur,” kata politikus Partai PAN itu.
Pilihan Editor: Megap-megap Peternak Tersedak Harga Jagung










