KalselBabusalam.com – Pergerakan harga minyak mentah dunia masih menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, melayang di level tinggi di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini terus menjadi sorotan utama para pelaku pasar energi global.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 14.12 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat diperdagangkan di angka US$ 95,26 per barel. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 3,36% jika dibandingkan dengan posisi awal pekan yang berada di level US$ 92,16 per barel, menandakan respons pasar yang sensitif terhadap dinamika regional.

Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, menjelaskan bahwa fluktuasi harga minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Selat Hormuz. Selat ini merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Dilansir dari Kontan, Kamis (4/6/2026), Sutopo mengungkapkan, “Harga minyak mentah WTI sangat dipengaruhi oleh eskalasi militer di Selat Hormuz antara AS dan Iran yang berbenturan dengan titik jenuh premium risiko seiring mulai pulihnya sebagian arus logistik berkat pengawalan militer.”

Untuk proyeksi kuartal III-2026, Sutopo memperkirakan bahwa harga minyak mentah akan bergerak dalam rentang rata-rata antara US$ 88 hingga US$ 98 per barel. Ia menambahkan, potensi harga untuk menembus batas atas kisaran tersebut akan sangat bergantung pada beberapa faktor krusial. Kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz dan perkembangan cadangan minyak komersial Amerika Serikat menjadi penentu utama dalam skenario tersebut.

Lebih lanjut, pelaku pasar juga diimbau untuk mencermati serangkaian katalis lain yang berpotensi memengaruhi arah harga minyak dalam jangka pendek. Faktor-faktor tersebut meliputi konsistensi volume pelayaran yang melintasi Selat Hormuz, potensi eskalasi lanjutan dari konflik di Timur Tengah, serta data terkini mengenai persediaan minyak mentah di Amerika Serikat. “Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu apakah harga minyak dapat bertahan di level saat ini atau justru mengalami koreksi dalam beberapa waktu ke depan,” pungkas Sutopo, menegaskan kompleksitas pasar minyak global.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.