
Dilansir dari KalselBabusalam.com, nilai tukar rupiah terpantau kembali lesu pada perdagangan Kamis sore, ditutup melemah signifikan sebesar 0,46 persen. Mata uang Garuda kini berada di posisi Rp 18.049 per dolar AS, bergerak turun dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 17.966 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini, menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, merupakan dampak dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang secara berkelanjutan memberikan tekanan. Kondisi ini menuntut kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan di tengah dinamika pasar global dan nasional.
Dari kancah internasional, kekhawatiran investor semakin mendalam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Eskalasi konflik menjadi sorotan utama, memicu sentimen penghindaran risiko di pasar keuangan global.
Ibrahim, dilansir dari Antara pada Kamis, 4 Juni 2026, menjelaskan bahwa meskipun Washington telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, stabilitasnya masih sangat bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah. Hal ini menunjukkan kerentanan situasi yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Ketegangan semakin diperparah dengan laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain, disusul oleh respons Amerika Serikat yang menyerang Pulau Qeshm di Iran, sebuah lokasi strategis dekat Selat Hormuz. Sementara itu, Israel juga dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon selatan, menargetkan wilayah-wilayah yang dikuasai Hizbullah, menambah daftar panjang potensi konflik yang belum usai.
Di Amerika Serikat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dikuasai Partai Republik telah menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump dalam melanjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, agar resolusi ini dapat diberlakukan secara efektif, ia masih memerlukan persetujuan Senat serta dukungan mayoritas dua pertiga suara dari kedua kamar, sebuah syarat krusial untuk mengesampingkan potensi veto presiden.
Selain dinamika geopolitik, pelaku pasar juga sedang menantikan rilis data ketenagakerjaan AS yang penting, terutama laporan non-farm payrolls yang dijadwalkan akan diumumkan pada Jumat. Data ini diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS dan prospek ekonomi global.
Beralih ke ranah domestik, Ibrahim menyoroti kekhawatiran pasar yang meningkat tajam terkait dampak lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga komoditas strategis ini berpotensi membebani fiskal dan sektor eksternal Indonesia secara signifikan.
Menurutnya, harga minyak yang terus merangkak naik berisiko mendorong defisit fiskal mendekati ambang batas 3 persen dari PDB, sekaligus menekan neraca eksternal negara. Situasi ini mengisyaratkan potensi tantangan berat bagi stabilitas ekonomi makro Indonesia ke depan.
Di samping itu, pasar juga mencermati kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah di sektor komoditas untuk menstabilkan harga, serta belum adanya kepastian mengenai status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI. Ketidakpastian ini dapat mempengaruhi minat investor asing.
Data perdagangan bulan April juga menunjukkan sinyal peringatan, di mana surplus neraca perdagangan mulai menyusut. Fenomena ini disebabkan oleh kenaikan impor minyak yang lebih besar dan cepat dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor secara keseluruhan, menciptakan ketidakseimbangan yang perlu diwaspadai.
Sementara itu, inflasi pada bulan Mei tercatat mengalami kenaikan menjadi 3,08 persen. Angka ini melampaui titik tengah target Bank Indonesia (BI), sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga barang-barang impor yang terus berlanjut, menunjukkan tekanan inflasi yang signifikan.
Sentimen lain yang turut mempengaruhi pasar datang dari pemeringkatan PT Danantara Investment Management oleh Moody’s Ratings. Lembaga pemeringkat global ini memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note yang akan diterbitkan oleh perusahaan tersebut.
Meskipun demikian, Moody’s menetapkan prospek (outlook) negatif terhadap peringkat Danantara Investment Management. Penilaian ini, seperti dijelaskan oleh Moody’s, mencerminkan keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham penuh perusahaan tersebut.
“Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia,” ujar Ibrahim. Ia menambahkan, “Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat sovereign Indonesia melemah.” Pernyataan ini menegaskan dependensi yang erat antara kondisi perusahaan dengan stabilitas ekonomi nasional.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan bergerak fluktuatif. Namun, terdapat potensi besar untuk ditutup melemah, berada dalam kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.120 per dolar AS.
Pilihan Editor: Setelah Terjerumus, Kapan IHSG Akan Menguat?











