KalselBabusalam.com – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan berada dalam tekanan pada perdagangan awal pekan depan, Senin (18/5/2026). Sentimen eksternal yang kian memanas dinilai menjadi faktor utama yang terus membebani pergerakan mata uang Garuda, memicu kekhawatiran terhadap stabilitasnya di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY terpantau menguat 0,47% mencapai level 99,28. Pada waktu yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah 0,39% hingga menyentuh Rp 17.597 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (13/5) sebelumnya ditutup pada posisi Rp 17.496 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2026) berpotensi mengalami pelemahan lebih lanjut di kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dolar AS. Menurut Ibrahim, “Faktor utamanya masih berasal dari eksternal, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali meningkat,” sebagaimana dilansir dari Kontan, Minggu (17/5/2026).
Ibrahim menyoroti eskalasi situasi di sekitar Selat Hormuz pasca kabar penyitaan kapal asal China oleh Iran. Selain itu, konflik berkelanjutan antara Israel dengan Hamas serta serangan ke Lebanon Selatan turut memperkeruh sentimen pasar global. Kondisi ini, menurutnya, tidak hanya berpotensi mendorong penguatan dolar AS, tetapi juga memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Implikasinya, tekanan terhadap perekonomian domestik Indonesia diperkirakan akan semakin besar, terutama dari sisi impor energi.
“Indonesia masih memiliki impor minyak yang besar, sehingga membutuhkan dolar AS dalam jumlah tinggi,” jelas Ibrahim. Ia menambahkan bahwa kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo dan pembagian dividen juga menjadi faktor yang menuntut ketersediaan dolar AS dalam jumlah besar. Di samping itu, peralihan sebagian masyarakat dari simpanan rupiah ke valuta asing juga turut menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.
Di tengah gempuran tekanan eksternal tersebut, Ibrahim mengungkapkan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan strategi pembiayaan utang yang cermat. Salah satu langkah strategis yang sedang disiapkan adalah penerbitan surat utang dalam denominasi yuan, atau Panda Bond, di pasar China dengan nilai perkiraan antara Rp 2 triliun hingga Rp 4 triliun. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu BI memperkuat kapasitasnya dalam melakukan intervensi di pasar valas. “Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri, sehingga membutuhkan dukungan pemerintah untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut,” tegasnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah pada Senin (18/5/2026) merupakan respons terhadap sentimen risk off global yang kuat pada hari Jumat. “Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset termasuk obligasi, saham, kripto dan mata uang,” ujar Lukman. Menurut Lukman, aksi tersebut dipicu oleh kekecewaan investor akan hasil pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump terkait perang Iran-AS dan Selat Hormuz. Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, Lukman memperkirakan rupiah pada Senin (18/5) akan bergerak dalam rentang Rp 17.550 – Rp 17.650 per dolar AS.










