
Melansir dari KalselBabusalam.com, Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, baru-baru ini mengungkapkan alasan di balik anomali harga emas yang tidak selalu melonjak di tengah ketidakpastian konflik global, meskipun komoditas ini secara tradisional dikenal sebagai aset aman atau safe haven. Penjelasan ini mematahkan anggapan umum yang melekat pada emas sebagai penjamin nilai dalam situasi krisis.
Yazid menjelaskan bahwa dinamika pergerakan harga emas, terutama dalam situasi geopolitik yang bergejolak, sangat dipengaruhi oleh sektor energi. Kebutuhan likuiditas yang mendesak untuk menjamin pasokan energi seringkali mendorong negara-negara untuk menjual cadangan emas mereka. Hal ini dilakukan demi mendapatkan dana tunai yang diperlukan untuk pengadaan energi.
“Energi adalah kebutuhan fundamental bagi banyak negara. Negara yang memiliki cadangan emas tinggi seringkali membutuhkan likuiditas tinggi. Akibatnya, banyak emas yang kemudian dijual di pasar global untuk membeli energi,” papar Yazid di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026, dilansir dari Antara. Situasi inilah yang, menurutnya, menyebabkan pergerakan harga emas justru bertolak belakang dengan teori ekonomi konvensional.
Di tengah eskalasi konflik yang seharusnya membuat harga emas meroket, Yazid mengungkapkan bahwa harga justru bisa melemah karena tekanan likuiditas yang tinggi. “Logikanya, emas seharusnya naik karena ini adalah safe haven commodity. Namun, nyatanya tidak, harga emas justru turun. Mengapa? Karena yang terganggu adalah sektor energi,” tegasnya. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas ekonomi global di masa krisis.
Lebih lanjut, Yazid menyoroti adanya perubahan perilaku fundamental di pasar komoditas global. Jika sebelumnya fokus pelaku pasar adalah pada efisiensi dengan mencari harga termurah, kini orientasi telah bergeser pada kepastian pasokan. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam akan kelangkaan dan interupsi rantai pasok.
Menyikapi perubahan ini, JFX sebagai bursa berjangka tengah gencar memperkuat ekosistem perdagangannya. Upaya ini meliputi dorongan untuk mengembangkan kontrak yang lebih fleksibel dan mudah diakses, serta perluasan partisipasi investor ritel. JFX juga aktif meningkatkan konektivitas dengan pasar global dan memperkaya ragam produk untuk memenuhi kebutuhan lindung nilai para pelaku pasar.
Dari sisi inovasi, JFX sedang mempersiapkan peluncuran kontrak berukuran mikro dan nano untuk berbagai komoditas vital seperti emas, perak, tembaga, dan energi. Produk-produk revolusioner ini dirancang khusus untuk memperluas inklusi pasar, memberikan peluang bagi investor dengan modal terbatas untuk turut serta dalam perdagangan komoditas. Selain itu, JFX juga tengah mengembangkan perdagangan emas digital yang menggabungkan kemudahan transaksi berbasis teknologi dengan kepastian underlying emas fisik. Skema inovatif ini diharapkan dapat menyeimbangkan aspek aksesibilitas dan keamanan bagi investor.
Sejalan dengan berbagai inisiatif tersebut, Yazid menegaskan komitmen JFX untuk terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang transparan, terawasi dengan ketat, dan mampu memberikan perlindungan optimal bagi seluruh pelaku pasar. Komitmen ini terbukti dari kinerja JFX yang solid, di mana sejumlah produk unggulan mencatat kontribusi signifikan terhadap aktivitas perdagangan.
Pada sektor komoditas fisik, JFX berhasil menguasai lebih dari 95 persen pangsa pasar ekspor timah Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$ 1,7 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, di ranah perdagangan derivatif, kontrak olein (OLE01) berkontribusi sebesar 38,7 persen terhadap total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX, atau setara dengan 615.028 lot. Adapun kontrak Loco Gold mendominasi transaksi over-the-counter (OTC) dengan porsi mencapai 85,2 persen dari total volume, menunjukkan minat yang tinggi terhadap emas fisik.
Selain komoditas, JFX juga menghadirkan produk berbasis efek global melalui skema PALN. Produk ini mencakup perdagangan saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat, menjadi bagian penting dari diversifikasi instrumen yang ditawarkan JFX. Tren transaksi produk ini terus menunjukkan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir, menandakan minat investor terhadap pasar global yang semakin meningkat.
Pilihan Editor: Kiat Agar Investasi Emas Saat Harga Naik Tak Rugi











