MURUNG RAYA, KalselBabusalam.com— Sikap mandiri dan tidak mudah terprovokasi menjadi kunci utama dalam merawat keberagaman di Kabupaten Murung Raya. Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, Olivia Wiswanti, menegaskan bahwa independensi berpikir serta kemandirian ekonomi masyarakat adalah benteng terkuat untuk mencegah konflik sosial di wilayah Bumi Tana Malai Tolung Lingu tersebut.

“Kita harus bangga dengan keberagaman yang kita miliki. Namun keberagaman itu hanya akan terasa menyejukkan apabila kita semua berdiri di atas sikap independen. Tidak tergantung, tidak mudah diadu domba, dan mampu menjaga jati diri budaya kita sendiri,” tegas Olivia pada Minggu, 26 Juli 2026.

Menurut Olivia, independensi tidak sekadar berfokus pada kemandirian finansial, melainkan juga kemandirian mental dalam mempertahankan kearifan lokal dari gelombang penyeragaman budaya. Ketika masyarakat memiliki pijakan nilai yang kokoh, perbedaan suku, agama, dan adat istiadat justru akan memperkaya identitas daerah, bukan memicu perpecahan.

Untuk mengimplementasikan hal tersebut, ia mendorong tiga langkah strategis:

Melalui pendekatan ini, potensi gesekan antarwarga diharapkan dapat diselesaikan secara bijak lewat dialog konstruktif, bukan pertikaian.

Menindaklanjuti tantangan tersebut, Komisi II DPRD Murung Raya berkomitmen menyusun dan mengawal regulasi yang berpihak pada pelestarian adat serta penyediaan ruang publik inklusif. Olivia pun mengajak pemerintah daerah, komunitas lokal, dan seluruh lapisan masyarakat untuk bersinergi membangun ekosistem daerah yang damai sekaligus produktif.

“Jika kita independen, kita akan dihormati. Jika kita bersatu dalam keberagaman, kita akan kuat. Inilah jalan Murung Raya untuk maju tanpa kehilangan jati diri dan tetap menjadi daerah yang damai, sejuk, serta berdaya saing,” pungkasnya.