Demonstrasi besar Agustus 2025 menyisakan sesak yang teramat bagi keluarga Farhan dan Reno, peserta aksi yang sebelumnya dikabarkan hilang selama dua bulan dan berujung ditemukan tewas hanya tinggal kerangka akibat kebakaran. Bagaimana hari-hari mereka setelah peristiwa pahit ini?

Kalau tahun ini tidak ada halangan, Muhammad Farhan Hamid akan mengikuti serangkaian persiapan untuk lolos bekerja di kapal pelayaran dan melancong ke banyak negara di dunia, menyusul jejak dua orang kakaknya yang lebih dulu memilih jalan demikian.

Ayah Farhan, Hamidi, menceritakan rencana tersebut dengan pandangan yang antusias. Bekerja di kapal serupa cita-cita untuk Farhan. Sejak masih sekolah, Farhan tak pernah antusias bicara tentang pendidikan tinggi serta membawa pulang gelar sarjana. Yang dia mau ialah secepat mungkin mencari uang.

Hamidi, sebagai orangtua, tidak pernah mempermasalahkannya. Dia hanya bisa mendukung apa yang diinginkan anak-anaknya.

Tapi, bagaimana Hamidi memberi dukungan jika hidup Farhan tidak sepanjang yang dia bayangkan sekaligus harapkan?

Akhir Agustus 2025, demonstrasi besar meletus di Jakarta dan kota-kota lainnya di seluruh Indonesia. Pemicunya yakni rencana kenaikan tunjangan bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (RI) yang dinilai melukai hati masyarakat di tengah segala keterbatasan—minimnya lapangan kerja, penggangguran, atau kenaikan harga bahan pokok.

Protes kian membesar selepas pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas dilindas kendaraan Brigade Mobil (Brimob) di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Sehari berselang, 29 Agustus 2025, sekitar pukul 9 pagi, Farhan berpamitan kepada ibunya, Atun. Mengenakan kemeja dan celana panjang yang rapi, Farhan bilang hendak pergi ke Masjid Istiqlal guna melangsungkan ibadah salat Jum’at.

Mulanya, Hamidi hanya mendengarkan percakapan keduanya, termasuk rasa heran Atun menyaksikan tampilan Farhan, dari ruangan terpisah. Tak lama, dia turun dan menghampiri Farhan.

“Saya tanya, mau ke mana? Dia jawab mau ke pemakaman Affan [pengemudi ojol yang tewas] lalu salat Jum’at,” cerita Hamidi.

“Waktu saya tanya lagi mau ikut ke pemakaman Affan atau ikut demo, dia enggak menjawab.”

Hamidi berujar bahwa dirinya mengikuti perkembangan demi perkembangan ihwal protes massa dari tayangan di televisi. Hamidi mengakui demonstrasi Agustus cukup mengerikan serta menegangkan. Gedung dibakar. Warga ditembaki gas air mata.

“Rupanya, mungkin, dia berpikir di dalam hati kenapa bapak tahu kalau saya [Farhan], sebetulnya, mau ikut demo?” tutur Hamidi seraya tertawa.

Baca juga:

  • Pengemudi ojol Affan Kurniawan disebut ‘martir demokrasi’
  • Sopir kendaraan taktis Brimob yang melindas Affan Kurniawan dihukum demosi tujuh tahun
  • Ketika negara menangkap anak-anak muda setelah demonstrasi Agustus 2025 – ‘Pemburuan terbesar sejak Reformasi 1998’

Dampak lanjutan dari demo tersebut tidak kecil. Sekitar 700 orang diproses secara hukum, menjadikannya sebagai pemburuan politik besar-besaran pasca-1998, demikian koalisi sipil mendefinisikannya.

Mayoritas yang dibawa ke persidangan, berdasarkan temuan BBC News Indonesia dan Project Multatuli dalam liputan sebelumnya, ialah anak-anak muda, tepatnya dari kelompok Generasi Z.

Farhan tergolong aktif menyuarakan kegelisahan yang berkembang di masyarakat. Dia pernah mengutarakan kepada Hamidi betapa banyak pejabat berlaku korup sehingga menyusahkan orang-orang miskin.

Hidup di Indonesia tak ubahnya berhadapan dengan ketidakadilan, kira-kira seperti itu Hamidi merangkum pandangan anaknya.

Baik Hamidi maupun Atun, setelah berbincang dengan Farhan, bersiap melanjutkan urusan masing-masing. Keluar dari rumah, mereka bersua Farhan di warung milik saudaranya. Dalam perjumpaan itu, Farhan menatap keduanya serta tersenyum.

Tak disangka, senyum tersebut merupakan yang terakhir kali Hamidin dan Atun memperolehnya.

Matahari tenggelam. Hari berganti petang. Di rumah, Hamidi dan Atun sudah beres menuntaskan keperluannya. Farhan belum menampakkan diri. Keduanya mulai mencari keberadaannya.

Kepada keponakannya, Hamidi meraih jawaban apabila Farhan belum pulang. Keponakan Hamidi mengakui dirinya sempat bersama Farhan di lokasi demo sebelum akhirnya terpisah.

Hamidi berupaya berpikir positif. Mungkin Farhan mampir di rumah kawannya dan baru memutuskan kembali ke rumah pagi-pagi buta. Hamidi, juga Atun, memilih untuk tidur.

Sabtu, 30 Agustus 2025. Farhan belum terlihat.

Minggu, 31 Agustus 2025. Situasi masih sama.

Lalu hari-hari berikutnya. Seminggu. Dua minggu. Satu bulan. Dua bulan. Dan hampir tiga bulan lamanya.

Farhan tak pernah pulang ke rumah.

Berita dari kepolisian, pada awal November 2025, meruntuhkan tembok kehidupan Hamidi—dan keluarganya. Farhan ditemukan tewas dalam keadaan tinggal tulang belulang.

Aparat keamanan menyebut Farhan terbakar kala kerusuhan menyasar Gedung ACC di Kwitang, Jakarta Pusat, yang satu area dengan titik terpanas demonstrasi.

Hasil pencocokan DNA terhadap Hamidi menunjukkan kesesuaian dengan temuan tulang belulang yang diklaim kepolisian ialah milik Farhan.

Hamidi masih tidak percaya. Dia meyakini Farhan saat ini sedang berada di sebuah daerah, entah itu di mana persisnya. Yang pasti, sulit bagi Hamidi menerima kenyataan bahwa Farhan, anak yang dia pandang senantiasa murah senyum ke siapa pun, meninggal dengan kondisi mengenaskan.

Setiap mengingat perangai Farhan, Hamidi tak mampu menutupi limpahan suka cita.

Farhan tak pernah “neko-neko,” kata Hamidi, di samping perawakannya yang pandai bergaul sehingga “punya banyak teman” serta kepribadiannya yang begitu “humble.”

“Dan dia tidak pernah membantah ke kami,” kenang Hamidi.

Berstatus anak paling muda, alias bontot, Farhan termasuk dekat dengan ayah dan ibunya. Walaupun usianya sudah 23 tahun, Farhan kerap menemani Hamidi tidur di ruang tamu, beralaskan karpet berornamen bunga-bunga serta lampu yang sengaja dibiarkan setengah menyala.

Di momen itu, tak jarang, Farhan menawari pijatan untuk Hamidi. Hamidi terharu sebab merasa diperhatikan. Namun, keharuan berubah geleng-geleng kepala lantaran Farhan meminta “uang bayaran” dari pijatan yang telah dia rampungkan.

“Dia minta uang ke saya. Uangnya buat beli rokok di depan. Dia lalu merokok di luar rumah ini,” ucap Hamidi sambil mengarahkan telunjuknya ke jalan kecil di sebelah pintu masuk rumahnya.

Kenangan Hamidi seringkali tertambat di sudut itu. Sudut di mana dia dengan mudah menemukan sosok anaknya. Sudut di mana dia leluasa mengamati gerak-geriknya. Sudut yang mungkin dia tak lagi sama melihatnya.

‘Mengapa dia nekat menerobos gedung yang sudah terbakar?’

Menelusuri keberadaan Farhan, bagi Hamidi, tak ubahnya menyibak semak-semak lebat yang di dalamnya tak pernah tahu apa yang tengah menunggu.

Kepingan demi kepingan informasi terkait Farhan tak jarang membuatnya terkungkung dalam gelembung yang tersusun atas kepastian dan ketidakpastian.

Suatu waktu, Hamidi mendapatkan kabar bahwa ada pendemo yang terluka akibat terkena peluru aparat. Ciri-cirinya mirip dengan Farhan. Setelah dikroscek ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, petugas mengatakan tak pernah menerima pasien bernama Farhan.

Begitu pula yang terjadi kala dugaan gawai milik Farhan sempat aktif dalam rentang periode tertentu pasca-demonstrasi. Sejumlah pihak menegaskan handphone Farhan dibajak.

Dari dua berita tersebut, semuanya, kata Hamidi, tak benar-benar menyediakan petunjuk terang atas hilangnya Farhan.

Organisasi sipil yang berfokus pada isu HAM, KontraS, merilis laporan yang mengungkapkan puluhan orang hilang kontak usai demonstrasi Agustus 2025. Jumlahnya lalu menyusut menjadi cuma dua orang: Farhan dan Reno Syahputra Dewo.

Keduanya, mengutip laporan KontraS, terakhir terlihat di dekat Mako Brimob di Kwitang, Jakarta Pusat.

Bersama KontraS, Hamidi menjalin usaha bersama dalam pencarian Farhan. Jalan mencari Farhan cukup melelahkan Hamidi, terutama dari aspek psikis. Status Farhan yang belum ditemukan memaksa Hamidi berhadapan dengan kepolisian yang notabene, berujar kepada publik, berkomitmen bakal menemukan Farhan.

Namun, tak jarang, proses tersebut malah membikin Hamidi tertekan.

“Pernah polisi tanya kepada kami, apakah Farhan punya kasus [kriminal]? Itu saya mulai agak jengkel,” tandasnya.

“Saya balik tanya ke dia. Kalian mau mengarahkan kami ke mana ini? Ini kasus orang hilang. Kalau memang mau digali, dicari pada kasusnya, yang berarti mencari orang hilang ini.”

Mendengar teguran Hamidi, polisi-polisi itu lantas meminta maaf.

Tidak sekali kepolisian mendatangi kediaman Hamidi guna “mengumpulkan keterangan.”

Akhir Oktober, sebulan selepas Farhan hilang, tujuh personel kepolisian menyambangi rumah Hamidi. Hamidi, yang sudah letih meladeni polisi, langsung menanyakan tujuan mereka.

“Saya sudah capek memberikan keterangan yang sama kepada institusi yang sama. Padahal yang kemarin datang itu teman-teman kalian juga,” terang Hamidi.

Alhasil, dari situ, Hamidi memberi ultimatum.

Ini sudah hampir dua bulan, 28 Oktober 2025, anak saya hilang dan belum ditemukan.

Kerja kalian apa?

Saya tunggu satu bulan lagi, sampai tiga bulan.

Kalau tiga bulan tidak ada kabar, kalian yang saya tuntut.

Dua malam berikutnya, jelang jam 10, sebuah telepon masuk. Dari kepolisian.

Pak Hamidi, kalau bisa malam ini kami tunggu di Rumah Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Kalimat dari ujung telepon langsung membikin Hamidi dan anggota keluarga lainnya mengarahkan kendaraan ke lokasi yang dimaksud. Isinya cukup menggetarkan batin Hamidi.

Kami menemukan kerangka, diduga adalah Farhan serta Reno, di Gedung ACC Kwitang. Kami perlu tes DNA.

Sesampainya di sana, ahli forensik dari Polri menyodorkan satu buah kalung yang ditemukan bersamaan dengan kerangka.

Apakah ini punya Farhan, petugas tersebut bertanya kepada Hamidi dan istrinya, Atun.

Sang ibu histeris. Hamidi mencoba tenang. Kalung itu milik Farhan.

Beberapa saat setelahnya, baik Hamidi maupun Atun menjalani rangkaian pemeriksaan, termasuk pengambilan sampel DNA untuk mencocokkannya dengan yang melekat pada Farhan.

Hasil tes DNA memperlihatkan adanya kesesuaian antara sampel Hamidi serta Atun dengan rangka yang disinyalir ialah Farhan.

Kendati begitu, Hamidi masih menyimpan pertanyaan.

Mengapa Farhan nekat menerobos gedung yang telah dilalap api dengan volume yang besar?

Pertanyaan yang mengelilingi kepala Hamidi tak pernah menemukan jawaban.

Kerangka Farhan dibawa keluarga pulang untuk disemayamkan.

Pagi itu, Sabtu, 6 November 2025, hujan turun dengan derasnya.

Tiga mata ahli forensik

Dokter spesialis forensik Rumah Sakit Polri, Sumy Hastry Purwanti, menerangkan pihaknya menerima dua kantong jenazah berisi kerangka manusia yang sudah tidak lengkap keadaaannya akibat kebakaran pada 30 Oktober 2025.

Kerangka manusia pertama kali dilihat petugas yang sedang melakukan renovasi di Gedung ACC di Kwitang, Jakarta Pusat, yang ludes dimakan api tatkala demonstrasi Agustus pecah. Petugas kaget dan melaporkannya ke polisi.

Terhadap kantong jenazah pertama, bernomor 0080, kepolisian melakukan pemeriksaan identifikasi sekunder berupa tulang tengkorak dan tulang panggul.

“Hasilnya ditemukan jenis kelamin laki-laki, ras mongoloid, dan dari pemeriksaan tulang panjang diperkirakan tinggi badan 158-168 cm,” papar Hastry di hadapan wartawan.

Tak hanya itu, tim forensik menempuh pemeriksaan identifikasi primer berupa gigi serta pengambilan sampel DNA dari tulang.

“Dari hasil pemeriksaan DNA dan odontologi forensik bahwa 0080 identik dengan ante-mortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputra Dewo,” sebut Hastry.

Sedangkan kantong jenazah kedua, bernomor 0081, dilakukan pemeriksaan identifikasi sekunder dalam wujud kalung dan ikat pinggang. Kepolisian turut memeriksa identifikasi primer DNA dari tulang nomor post-mortem 0081 yang diklaim cocok dengan ante-mortem 001.

“Sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid,” tambah Hastry.

Hastry bilang waktu kematian keduanya berusia lebih dari satu bulan. Alasannya, tatkala diperiksa, posisi jenazah cuma tinggal kerangka serta terdapat sisa-sisa bagian tubuh karena terbakar.

Ihwal penyebab kematian, dia berujar tidak ada kekerasan tumpul pada tulang tengkorak keduanya, demikian dengan tanda-tanda terjatuh atau jatuh.

“Kami menjelaskan sebab kematian karena terbakar,” tandasnya.

Sehubungan mengapa kerangka baru ditemukan sekarang, Hastry menerangkan bahwa manakala tubuh manusia yang terbakar mengendap dalam rentang satu bulan, apalagi di lingkungan yang juga bekas kebakaran, pasti akan mengeluarkan bau yang sama-sama terbakar atau hangus.

Memasuki bulan kedua sampai ketiga, Hastry melanjutkan, bau kerangka serta sisa-sisa tubuh yang terbakar bakal tercium jelas lantaran terjadi pembusukan.

“Itu kenapa ditemukan bulan kedua, pada bulan bulan pertama tidak bau. Setelah dibongkar ternyata kerangka tubuh manusia,” tambahnya.

BBC News Indonesia dan Project Multatuli berupaya memverifikasi pernyataan kepolisian soal temuan kerangka Farhan dan Reno dengan mewawancarai tiga ahli forensik sekaligus.

Dalam usaha tersebut, kami menyediakan ruang bagi ketiga ahli forensik untuk menyajikan analisa berdasarkan kronologi kejadian, skala api yang terekam foto atau video, serta temuan di lapangan.

Kronologi peristiwa kami ambil dari dua otoritas: Polri serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Provinsi DKI Jakarta.

Versi kepolisian menyatakan bahwa pada 2 September 2025, beberapa hari pasca-demonstrasi, dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Gedung ACC Kwitang. Kala itu, personel kepolisian tidak mendapati jasad atau kerangka manusia.

Maju sekitar lebih dari dua minggu setelahnya, atau 19 September 2025, olah TKP kembali direalisasikan, kali ini melalui Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, guna mencari sumber titik api. Tidak ada jasad maupun kerangka manusia.

Baru sebulan berselang, 30 Oktober 2025, kepolisian memperoleh laporan dari staf tim teknis perbaikan gedung perihal temuan kerangka manusia. Tim perbaikan gedung mencium bau menyengat di lantai 2. Saat didekati, kerangka manusia itu tertimpa mesin pendingin serta dalam kondisi habis terbakar.

Sedangkan kronologi dari Damkar sendiri berpijak pada situasi real time, 29 Agustus 2025, atau tidak lama usai gedung terbakar. Unit Damkar tiba di lokasi pukul 16.40 WIB. Butuh kurang lebih 24 menit bagi tim Damkar, berhenti di 17.05 WIB, untuk “melokalisir kebakaran,” merujuk surat balasan yang dikirimkan ke kami.

Dalam rentang pukul 17.10 sampai 17.47 WIB, petugas melanjutkan kerja dengan masuk ke tahapan pendinginan disertai “pemeriksaan kemungkinan api menyala lagi dan korban jiwa.” Kesimpulan Damkar menegaskan “tidak terdapat korban jiwa.”

Beranjak ke poin temuan di lapangan, pihak kepolisian menyebut memperoleh tengkorak kepala, tulang gigi, tulang femur, serta tulang belakang untuk jenazah yang pertama—atas nama Reno.

Lalu di jenazah kedua, Farhan, polisi mendapatkan bonggolan tulang dengan pakaian melekat, sisa celana jeans hitam strauss, kalung liontin pipih, dan kepala ikat pinggang berbentuk persegi panjang.

Dokter forensik pertama yang kami kontak dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Universitas Indonesia, Oktavinda Safitry, menjelaskan proses pembakaran yang melibatkan tubuh manusia tergantung dari berapa suhunya serta panjang durasi kebakaran.

“Namanya tubuh manusia, itu ada otot, ada jaringan, ada segala macam,” paparnya kepada BBC News Indonesia.

“Jadi, kenapa bisa sampai ketemunya cuma tulang, kita lihat lagi nanti. Kalau seperti ini [temuan dua kerangka], berarti kemungkinannya antara lama [kebakarannya] atau apinya memang panas sekali.”

Oktavinda menambahkan dengan melihat bukti visual kerangka maupun tulang gigi yang ditemukan, besar peluang “suhunya sangat tinggi.” Perkiraan Oktavinda suhu di ruangan yang terbakar waktu itu menyentuh di atas 600 derajat Celsius.

Tentang bau yang tidak terdeteksi pada awal pemeriksaan gedung, Oktavinda mengatakan hal ini berhubungan dengan posisi jenazah yang belum menjadi tulang belulang ketika meninggal dunia. Bau jasad mulai tercium manakala “terjadi proses pembusukan,” terang Oktavinda.

“Kalau saya melihat fotonya, karena tadi masih ada jaringan dan segala macam, walaupun terbakar tapi masih ada sisa. Jadi, dia membusuk di situ,” tegasnya.

Oktavinda menggaris bawahi “menulangnya tubuh manusia” bukan semata faktor api, melainkan juga “proses pembusukan.” Rentang waktu dua bulan sudah cukup membuat jenazah “habis” lalu beralih atau menjelma tulang, demikian pandangan Oktavinda.

Sementara pakar forensik kedua, Elayne Pope, mengungkapkan periode kebakaran, yang mencuat selama hampir satu jam apabila mengacu kronologi Damkar, cocok dengan efek yang ditimbulkan terhadap kerusakan pada daging, tengkorak, hingga jaringan lunak manusia.

Elayne merupakan ahli forensik dari Knoxville, Tennessee, Amerika Serikat, yang rutin meneliti dan terlibat dalam analisis pola luka bakar, identifikasi fragmen tulang, dan struktur ruangan yang dilalap api. Pada 2007, Elayne menerima gelar doktor dari University of Arkansas dengan disertasi bertajuk The Effects of Fire on Human Remains.

“Perubahan terjadi sangat cepat, terutama ketika ruangan dilalap api. Jadi, pada dasarnya, ini terlihat konsisten dengan garis waktu dalam hal paparan api di dalam ruangan itu,” ucapnya kala dihubungi BBC News Indonesia.

“Maksud saya, berdasarkan foto tersebut, kondisi tubuh konsisten dengan paparan [api] sekitar satu jam.”

Elayne menambahkan paparan panas tidak sekadar keluar ketika api membakar ruangan, tapi muncul pula selama pemadaman. Alhasil, “paparan panas akan lebih lama,” jelasnya.

“Mungkin tidak seintens ketika ruangan dilahap api. Tapi, ketika petugas berupaya mematikan api, mungkin masih ada panas di sekitar tubuh yang menyebabkan terbakar,” ujar Elayne.

Usai terbakar, kondisi mayat, Elayne memaparkan, terlihat sama dengan puing-puing bangunan sehingga menyulitkan petugas mencarinya. Jaringan tubuh pun menghitam, begitu pula material lain di sekitarnya, sambung Elayne.

“Jadi, sangat masuk akal jika mereka tidak menyadari bahwa ada mayat korban di dalam ruangan itu karena tertutup. Mayat itu tersamarkan dan tidak langsung terlihat sebagai mayat korban,” terangnya.

Tak jauh berbeda dengan dua pakar sebelumnya, dokter forensik dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Fahmi Oscandar, menyebut pemeriksaan yang telah dituntaskan penyidik telah mengikuti “kajian ilmiah.”

Fahmi mengaku menerima salinan dokumen pemeriksaan serta menegaskan bahwa yang dilakukan forensik dari kepolisian sudah “berlandaskan pada aspek keilmuan dalam identifikasi identitas manusia.”

Akses yang dimiliki Fahmi terhadap dokumen pemeriksaan tak lepas dari kehadirannya sebagai pakar forensik independen yang ditunjuk KontraS—selaku pendamping hukum keluarga—dalam mengawal kasus ini.

“Saya sudah bisa memastikan itu. Sudah saya kaji di mana laporan yang telah diterima, berkas-berkas hasil pemeriksaannya, itu memang sudah memenuhi standar-standar dari pemeriksaan laboratorium internasional,” ungkap Fahmi ketika dihubungi BBC News Indonesia.

“Tapi, kalau seandainya dari keluarga masih ingin mengharapkan pendapat kedua, itu boleh-boleh saja.”

Langkah yang bisa diambil pihak keluarga untuk mencari second opinion sehubungan kondisi jenazah bisa diusahakan lewat ekshumasi atau penggalian kembali terhadap jenazah, tutur Fahmi. Proses ekshumasi ditujukan dalam menjawab setidaknya dua elemen yang mendasar: identitas serta penyebab kematian.

Keluarga Farhan dan Reno memang tengah mempersiapkan kemungkinan itu. Hingga sekarang, usai kami meminta konfirmasi ke KontraS, surat pengajuan ekshumasi dari pihak keluarga tinggal menunggu persetujuan penyidik kepolisian.

Fahmi menjelaskan apabila ekshumasi nanti diperbolehkan, maka ahli forensik bisa memeriksa DNA dari gigi. Pasalnya, “gigi merupakan bagian struktur tubuh manusia yang kuat dan tahan dengan suhu tinggi seperti kebakaran,” tambah Fahmi.

Nah, gigi ini menyimpan di dalam, di tengah-tengah gigi itu, ada pulpa. Itu bisa menyimpan ekstrak DNA,” sebut Fahmi.

Selesai mengambil sampel DNA dari gigi, proses pemeriksaan, Fahmi menyatakan, dapat berlanjut ke pencarian “tanda-tanda penyebab kematian.”

“Misalnya, apakah memang ini positif dari korban kebakaran. Biasanya, itu dilakukan dengan pemeriksaan kadar karbon dioksida,” ucapnya.

Namun, Fahmi memberi catatan bahwa semakin lama jenazah berada di dalam tanah, pemeriksaannya bakal kian sulit. Hanya saja, terang Fahmi, “pemeriksaan tetap dilakukan dan mudah-mudahan hasilnya mampu diperoleh.”

“Kita sedang upayakan metode ilmiahnya,” Fahmi meyakinkan.

Fahmi, tak dimungkiri, memahami keraguan publik atas pemicu kematian Farhan maupun Reno. Saat kami tanya bagaimana menempatkan sikap skeptis itu—karena melibatkan kepolisian yang sering kali dikritik—dengan kerja-kerja tim forensik, Fahmi menekankan setiap pakar forensik “bicara dengan bukti ilmiah.”

Artinya, Fahmi melanjutkan, ahli forensik “tidak boleh mengembangkan segala sesuatu hanya berlandaskan asumsi yang muncul di pikiran.”

“Sejauh ini, setiap kita bicara itu harus ada buktinya. Bukti ilmiahnya harus ada. Dan bukti itu bukan sekadar bukti saksi, atau foto saja. Lebih jauh lagi. Pemeriksaan-pemeriksaan di laboratorium, pemeriksaan-pemeriksaan lainnya,” ujarnya.

Terlepas dari itu, bukti ilmiah, terkhusus dalam ilmu forensik, dinyatakan Fahmi “selalu berkembang.” Dengan kata lain, tidak menutup peluang bahwa di masa mendatang muncul metode baru untuk menguji sebuah kondisi.

Peran ahli forensik, merujuk Oktavinda, yakni “mengambil kesimpulan sebatas dari apa yang ditemukan di lapangan.” Konteks kesimpulan mencakup mekanisme serta penyebab kematian.

Sedangkan untuk menentukan “cara kematian,” apakah korban bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan, “menjadi tugas penyidik,” tambah Oktavinda.

Oktavinda berpendapat di sinilah pentingnya kehadiran dokter forensik di TKP. Dengan dokter forensik di TKP, “dia bisa membantu melihat aspek medisnya,” terang Oktavinda.

Paling tidak, sambung Oktavinda, “kita berkontribusi dalam hal mengarahkan ke cara kematian.”

“Misalnya, ada kematian lalu kita lihat ada bercak darahnya, arahnya ke mana, gitu. Jadi, kitab isa tahu ini berarti korban dipukul dulu atau, misalnya, dibekap dulu baru kemudian dipukul,” kata Oktavinda.

Persoalannya, aturan hukum di Indonesia tidak mewajibkan demikian, klaim Oktavinda.

“Jadi, kami hanya terima jenazah di kamar autopsi, lalu kita periksa. Yang kita temukan, itu yang kita simpulkan. Kami enggak bisa mengaitkan dengan TKP-nya penyidik,” tutupnya.

Reno yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola

Juli 2025. Abraham bersua dengan kakaknya, Reno Syahputra Dewo, dalam rangka merayakan ulang tahun.

Pada 6 Juli, Abraham yang ulang tahun. Empat hari setelahnya, giliran Reno yang bertambah usianya. Keduanya bersemuka di Jakarta. Abraham berangkat dari tempat tinggalnya di Surabaya, Jawa Timur.

Selesai perjumpaan di Jakarta, Abraham pulang dan baru berkomunikasi lagi dengan Reno sekitar akhir Agustus 2025, bertepatan meletupnya demonstrasi menolak rencana kenaikan tunjangan anggota DPR sekaligus menuntut keadilan atas meninggalnya pengendara ojek online, Affan Kurniawan.

Dalam sambungan video call, Abraham terhubung dengan Reno dan satu temannya. Ketiganya saling menanyakan kabar, di samping memberi update perihal situasi di ibu kota.

Reno, cerita Abraham, sempat mengutarakan kesedihan ihwal tewasnya Affan.

Abraham membalas curhatan Reno dengan sebuah pesan: jangan ke mana-mana, apalagi sampai ikut demo.

“Kakak saya menyanggupi dan bilang kalau enggak akan ke mana-mana,” sebut Abraham.

Yang terjadi tidaklah seperti itu.

Jum’at malam, 29 Agustus 2025, Reno turut serta dalam demo. Abraham mendapatkan informasi tersebut dari ibunya setelah diberitahu pacar Reno.

Sang ibu merasa waswas; takut Reno terkena apa-apa. Terlebih, saat ibunya berupaya menghubungi, pesan di WhatsApp hanya centang satu. Panggilan telepon pun tak tersambung.

Abraham, yang melihat ibunya cemas, seketika menenangkan.

“Nanti pasti pulang,” dia mengulang apa yang dia ucapkan kepada ibunya waktu itu.

Ketenangan Abraham berubah ketakutan manakala hingga pukul 11 malam, pesan ke WhatsApp kepunyaan Reno masih belum diterima. Abraham khawatir.

Dia lalu menjalin kontak dengan pacar kakaknya dan saudara, tepatnya sepupu, di Jakarta. Usaha mencari Reno ditempuh. Malam hari, mereka menuju ke pusat demonstrasi di area Kwitang.

“Mereka hanya melihat-lihat sekilas karena takut ditangkap. Keadaan pada saat itu memang chaos,” terang Abraham.

Esoknya, pencarian Reno bergeser ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Cikini, Jakarta Pusat. RSCM dipilih lantaran ketersediaan data. Jika Reno dirawat, akan lebih mudah terlacak. Nama Reno tidak ditemukan.

Dari rumah sakit, langkah kaki orang-orang terdekat Reno melaju ke semua kantor polisi di kawasan Jakarta Pusat. Hasilnya sama: tidak ada identitas Reno.

Kabar mengenai Reno membikin ayah dan pamannya memutuskan untuk menyusul ke Jakarta. Hal serupa dilakukan Abraham.

Hingga awal September, tanda-tanda Reno tidak diketahui, sekalipun anggota keluarganya sudah mencari ke berbagai sisi kota; bertanya dari satu orang ke orang yang lainnya.

Selama dua minggu, Abraham, bersama ayahnya, menetap di Jakarta guna mengurus semua hal yang berhubungan dengan Reno.

Kepastian tentang nasib Reno diterima Abraham beberapa bulan setelahnya ketika telepon dari kepolisian meminta keluarganya ke Jakarta untuk melangsungkan tes DNA.

Kepolisian menemukan dua kerangka di gedung yang terbakar di Kwitang. Diduga Reno dan satu orang lagi adalah Farhan.

Sang ibu, begitu mendengar kabar tentang penemuan kerangka, langsung jatuh mental. Abraham menenangkan ibunya dengan berkata belum tentu kerangka tersebut merupakan Reno.

Di Jakarta, tes DNA dilakukan, mengambil sampel Abraham dan ayahnya. Hasil pemeriksaan kepolisian lalu menyatakan kerangka yang dibawa ialah Reno. Dunia Abraham beserta kedua orangtuanya runtuh.

“Kami sudah mencari selama 2 bulan, ujung-ujungnya seperti ini,” terangnya.

Abraham mengenal Reno sebagai sosok yang humoris dan gemar becanda, terlebih kalau sedang berkumpul bersama keluarga maupun teman-temannya. Cita-citanya sejak kecil ialah menjadi pemain bola, tapi tidak terwujud.

Hidup Reno, menurut Abraham, ialah tentang bertahan. Usianya baru 24 tahun.

Sehabis lulus SMK jurusan otomotif di Surabaya pada 2019, Reno mulanya bekerja di restoran. Pandemi COVID-19 memaksa tempatnya mencari uang memutus kontraknya. Dari rumah makan, Reno beralih menjadi kurir sebelum akhirnya pindah ke bagian keamanan.

Desember 2022, panggilan kerja datang dari Jakarta, dan Reno pun merantau ke sana. Di Jakarta, Reno bekerja di bengkel motor. Kontraknya cuma berlaku 2 tahun. Setelah itu, Reno membantu sepupunya berjualan ikan di pasar di Jakarta Timur.

Beberapa hari sebelum hilang, Reno, Abraham bercerita, memberi tahu kawannya bahwa dia sudah tidak kuat tinggal di Jakarta. Lebih-lebih, dia merasa merepotkan sepupunya karena mereka menetap di bawah atap kontrakan yang sama. Reno ingin kembali ke Surabaya.

Kawannya, mendengar curhatan tersebut, menyemangati Reno agar tak menyerah. Semua pasti ada jalan. Rezeki tak akan ke mana.

Di titik ini, Abraham masih menyimpan ketidakpercayaan jika kakaknya, Reno, telah meninggal. Ada sepercik harapan yang terekam jauh di pikirannya bahwa keadaan kakaknya utuh tanpa kurang, di manapun dia berada.

Dia menaruh keinginan supaya kerangka yang disebut kepolisian merupakan kakaknya diperiksa lagi. Dia tak keberatan mengulang tes DNA.

“Kalau memang hasil DNA dari tes ulang itu menunjukkan memang kakak saya, saya akan Ikhlas,” tandasnya.

Farhan yang menyelinap dalam mimpi ibunya

Kami bersua dengan Atun di sebuah malam pada pertengahan Februari 2026 di kediamannya di Jakarta Utara. Atun baru saja selesai bekerja. Sehari-hari, Atun adalah tukang pijat.

Pesanan untuk memijat yang masuk kepadanya cukup banyak. Terkadang, Atun bisa bekerja sampai tengah malam. Belum cukup, gawainya tak jarang berbunyi saat jam memperlihatkan pukul 2 atau 3 dini hari. Pesan berbunyi permintaan memijat dia baca selintas. Berhubung sudah larut, Atun akan membalasnya pagi-pagi.

Bersama Hamidi, suami yang sudah dinikahinya sejak 1993, Atun membangun keluarga kecil yang dia kerap panjatkan doa agar senantiasa bahagia.

Meskipun, di sisi lain, Atun paham betul roda hidup sering kali membawanya ke sudut-sudut yang tak menyenangkan.

Awal 2000-an, usaha kertas kecil-kecilan yang Hamidi dirikan bangkrut lantaran kena tipu. Kondisi itu membikin Hamidi menutup usahanya serta menjual semua aset-asetnya.

Hasil penjualan aset—rumah maupun peralatan usaha—menyisakannya sedikit pegangan. Dia lantas mengajak pindah keluarganya ke Jakarta Utara, dari sebelumnya menetap di Bekasi, Jawa Barat.

Di tempat tinggalnya yang baru, Hamidi menyambung hidup dengan mengurut orang-orang yang terserang pegal atau letih. Tidak lama, profesi ini digantikan oleh Atun.

Kendati bekerja ‘seadanya,’ Hamidi dan Atun bertekad untuk menyekolahkan ketiga anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi, termasuk Farhan yang notabene lahir paling terakhir, pada 2002. Mereka banting tulang ke sana-sini agar mampu menabung masa depan.

Namun, ketiga anaknya punya mimpi lain: bagaimana caranya secepat mungkin bekerja dan mengumpulkan pendapatan. Sejak usia muda, sambil sekolah, ketiga anak Hamidi serta Atun mengisi waktu dengan kerja sampingan, mulai dari restoran hingga kedai kopi.

Ketiga anak Atun dan Hamidi mengidam-idamkan berlayar di kapal.

Baik Hamidi maupun Atun tak pernah melarang mereka untuk bekerja, selama tetap bertanggung jawab.

Masih tertancap dengan kuat di ingatan Atun setiap anaknya menerima gaji, mereka selalu memakai uangnya untuk mentraktir teman-teman atau orangtuanya. Farhan bukan pengecualian.

“Dia [Farhan] kalau punya uang, itu di depan [rumah] ada warung kopi, itu kalau punya uang enggak bisa diam. Itu temannya dibayarin. Setiap ditanya dapat uang dari mana, Farhan menjawab habis bantu emak membangun rumah. Aku digaji,” kata Atun seraya tertawa.

Bagi Atun, Farhan adalah anak yang menyenangkan.

Ketika kabar penemuan kerangka diterima Hamidi, Atun baru saja tiba di rumah usai beres mengurut. Hamidi memberinya sebuah informasi: kerangka itu diduga milik Farhan dan Reno.

“Di situ, saya kayak mau pecah dadanya. Mau teriak,” terangnya.

“Rasanya badan kayak tidak ada darahnya. Lemas.”

Hamidi lantas menunjukkan foto temuan polisi: tulang dan kalung. Atun terkejut melihat kalung yang tertangkap kamera. Kalung tersebut, menurut pengakuannya, adalah pemberian teman Farhan, sekitar tiga tahun silam.

Atun menolak percaya. Yang terkumpul di kepalanya hanyalah beragam pertanyaan sehubungan dengan bagaimana tubuh Farhan bisa habis terbakar.

Apakah dia memang terbakar? Ataukah dia dibakar?

“Kalau memang itu anak saya, siapapun orang yang menyiksa anak saya, mudah-mudahan tujuh turunan dibalasnya,” Atun mengulang apa yang muncul di benaknya sewaktu mengetahui Farhan meninggal.

“Saya seorang ibu yang mengandung. Enggak pernah saya memukul anak saya. Saya berdoa, minta sama Allah.”

Hari-hari setelah Farhan dimakamkan berjalan begitu berat bagi Atun, walaupun dia berupaya keras untuk bangkit serta menyerahkan semuanya kepada ketetapan takdir.

Nyaris saban malam, Atun bermimpi tentang Farhan, sesuatu yang sudah muncul sejak pertama kali Farhan tak pulang ke rumah.

Di dalam mimpi itu, Farhan menyapa dan menanyakan kabarnya.

Atun pun bangun dari tidurnya. Dia kemudian menangis.

Laporan ini merupakan bagian kedua, sekaligus terakhir, dari liputan khusus tentang yang terjadi setelah demonstrasi besar Agustus 2025 yang dikerjakan bersama Project Multatuli.

Rangga Prasetya Aji Widodo di Surabaya berkontribusi dalam laporan ini.

Artikel pertama, yang membedah demografi tahanan politik, bisa dibaca di sini.

  • Para musikus Indonesia yang kini aktif dalam aksi protes
  • Temuan Komisi Pencari Fakta di balik kerusuhan Agustus 2025: ‘Akumulasi kemarahan publik dan pola operasi mirip Malari 1974’
  • Delpedro dkk divonis bebas dalam kasus penghasutan demo Agustus 2025
  • Setahun pemerintahan Prabowo-Gibran – ‘Arah balik demokrasi’ dan apa saja tantangan yang mungkin dihadapi ke depan?
  • Survei kinerja Prabowo – Apakah gelombang unjuk rasa diperhitungkan dan sejauh mana bias dalam klaim kepuasan publik?
  • Bendera One Piece berkibar di tengah aksi demonstrasi di Indonesia, Nepal, dan Prancis – ‘Bentuk rasa frustrasi anak muda pada pemerintah’
  • Ketika negara menangkap anak-anak muda setelah demonstrasi Agustus 2025 – ‘Pemburuan terbesar sejak Reformasi 1998’
  • Laras Faizati divonis hukuman masa percobaan enam bulan, namun tidak perlu menjalaninya – ‘Vonis bersalah membuat orang takut bicara’
  • Wawan Hermawan divonis bersalah karena mengunggah ulang konten medsos terkait demo Agustus 2025 – ‘Ini putusan sesat dan melanggar HAM’
  • Polisi dituduh ‘melampaui batas’ dalam atasi demo Agustus 2025 – ‘Kewenangan membesar tanpa pengawasan berarti’
  • Siapa aktivis hingga TikToker yang jadi tersangka penghasutan demo Agustus?
  • Viral pria diduga intel TNI ditangkap Brimob – Apa peran intelijen dalam gelombang demonstrasi?
  • TNI ditugaskan ‘memelihara keamanan dan ketertiban’ – Apakah Indonesia dalam situasi darurat militer?
  • Trauma kerusuhan 1998 usai rentetan aksi penjarahan – ‘Rumah dijaga TNI bisa dijarah, bagaimana rumah rakyat biasa?’
  • Penjarahan rumah pejabat dan korban tewas bermunculan – Akankah berujung seperti krisis 1998?
  • Mahasiswa penggugat UU TNI diduga ‘diintimidasi’ anggota TNI – Mulai menelepon orang tua, hingga Babinsa datangi ketua RT
  • Demonstrasi mahasiswa menentang UU TNI berlangsung maraton dan menyebar ke banyak kota, apa maknanya?
  • ‘Pemerintah pusat lepas tanggung jawab, pemda terjepit’ – Mengapa gerakan warga disebut satu-satunya cara batalkan kenaikan pajak?

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.