KalselBabusalam.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menghadapi tantangan signifikan pekan depan, dengan potensi menguji level psikologis 7.000. Tekanan global diidentifikasi sebagai pendorong utama pelemahan ini, menciptakan ketidakpastian di pasar modal Tanah Air.

Merujuk data dari RTI Infokom, performa IHSG menunjukkan penurunan tajam sebesar 3,38% pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026, berakhir di level 7.129,49. Sepanjang hari tersebut, pergerakan indeks terpantau dalam rentang 7.111 hingga 7.383. Lebih lanjut, dinamika pasar mencatat 83 saham berhasil menguat, namun mayoritas, yakni 670 saham, mengalami pelemahan, sementara 62 saham lainnya bergerak stagnan. Akibatnya, kapitalisasi pasar tergerus, berada pada posisi Rp12.761 triliun.

Pelemahan ini tak lepas dari bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global. Tim riset Phintraco Sekuritas menyoroti konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, yang terus memicu kekhawatiran pasar. Kondisi ini diperkirakan akan mempertahankan harga energi pada level tinggi lebih lama dari estimasi awal. Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah diperpanjang selama tiga pekan, hal tersebut belum cukup meredakan kecemasan pelaku pasar. Keraguan juga muncul terkait peluang negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat, yang berpotensi menjaga volatilitas harga komoditas energi tetap tinggi.

Secara teknikal, IHSG memberikan sinyal pelemahan yang berkelanjutan. Analisis Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan indeks akan terbatas dengan tendensi menurun. Level support krusial berada di 7.000, sementara pivot di 7.200, dan resistance di 7.300. Oleh karena itu, di tengah gejolak pasar ini, investor disarankan untuk mencermati saham-saham pilihan yang diproyeksikan aktif diperdagangkan pada pekan mendatang. Beberapa di antaranya adalah ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ, dan SRTG. Rekomendasi ini, dilansir dari riset Phintraco Sekuritas pada Sabtu, 25 April 2026, menjadi panduan bagi investor yang mencari peluang di tengah volatilitas.

Fokus investor global pekan depan akan beralih ke sejumlah agenda ekonomi penting. Di Amerika Serikat, perhatian utama tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29 April. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%–3,75%. Selain itu, berbagai data ekonomi vital juga akan dirilis, meliputi indeks kepercayaan konsumen (consumer confidence), data sektor perumahan, estimasi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026, hingga indikator inflasi kunci seperti indeks PCE dan laporan aktivitas manufaktur (ISM).

Beralih ke kawasan Asia, keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada 28 April akan menjadi sorotan. Meskipun tekanan inflasi di Jepang menunjukkan peningkatan, BoJ diprediksi akan mempertahankan suku bunga di level 0,75%. Sementara itu, di Eropa, data PDB kuartal I-2026, laporan inflasi, serta tingkat pengangguran akan menjadi titik perhatian pasar. Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga masing-masing pada level 2,15% dan 3,75%, mencerminkan sikap kehati-hatian dalam kebijakan moneter regional.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.