Pergerakan Harga Emas di Tengah Ketidakpastian Pasar dan Kebijakan Tarif

Harga emas dunia mengalami kenaikan kecil pada akhir perdagangan Rabu (9/7/2025) waktu setempat atau Kamis (10/7/2025) pagi WIB. Kenaikan ini terjadi meskipun pasar sedang memantau berbagai perkembangan, termasuk negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan mitra dagangnya.

Di pasar spot, harga emas naik sebesar 0,3 persen menjadi 3.310,26 dollar AS per ons. Sementara itu, harga emas berjangka di New York Exchange (Comex) juga meningkat sebesar 0,1 persen menjadi 3.321 dollar AS per ons. Peningkatan ini menunjukkan bahwa investor masih mencari aset yang aman dalam situasi ketidakpastian ekonomi.

Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, menyatakan bahwa di tengah volatilitas pasar, kekhawatiran fiskal, serta defisit anggaran AS yang semakin melebar, banyak investor beralih ke emas sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko. Hal ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi pasar.

Dari sisi perdagangan, Uni Eropa sedang berupaya untuk mencapai kesepakatan dengan AS menjelang akhir bulan ini. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah berjanji akan memberikan pemberitahuan tarif tambahan kepada negara-negara yang belum diumumkan. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, karena bisa memengaruhi alur perdagangan global.

Pekan lalu, Trump juga menandatangani paket besar pemotongan pajak dan belanja negara. Menurut analisis independen, kebijakan ini dapat meningkatkan utang AS sebesar 3,4 triliun dollar AS dalam 10 tahun ke depan. Hal ini memperkuat kekhawatiran tentang stabilitas fiskal AS.

Sementara itu, dolar AS terus bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua minggu. Kenaikan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi minat membeli emas. Meski begitu, permintaan emas tetap stabil karena kondisi pasar yang tidak pasti.

Risalah rapat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada 17-18 Juni 2025 menunjukkan bahwa hanya beberapa pejabat yang mendukung pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Sebagian besar pembuat kebijakan menyatakan kekhawatiran terhadap laju inflasi yang diperkirakan akan meningkat akibat kebijakan tarif perdagangan Trump.

Trump terus menekan The Fed untuk segera menurunkan suku bunga, bahkan meminta Ketua Fed Jerome Powell untuk mundur. Namun, risalah tersebut menunjukkan bahwa dukungan untuk menurunkan biaya pinjaman terbatas. Dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni 2025 lalu, para pejabat sepakat untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25-4,50 persen, seperti yang telah ditetapkan sejak Desember 2024 lalu.

Kebijakan suku bunga AS memang memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan harga emas. Ketika suku bunga tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kurang menarik bagi investor. Sebaliknya, ketika suku bunga rendah, imbal hasil dari instrumen investasi lainnya juga turun, sehingga emas menjadi pilihan yang lebih menarik. Hal ini menjadikan emas sebagai aset penting dalam portofolio investasi, terutama dalam situasi ketidakpastian ekonomi.

Tinggalkan Balasan