
PELAIHARI – KALSELBABUSALAM.COM
Pemerintah Kabupaten Tanah Laut (Tala) melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menegaskan kesiapan mengantisipasi gejolak harga, terutama komoditas pangan strategis dan sektor pendidikan, usai menghadiri Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Nasional yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara virtual, Senin (11/8/2025).
Rapat yang dipimpin Kementerian Dalam Negeri itu membahas perkembangan inflasi Juli 2025 serta tren awal Agustus 2025, baik di tingkat nasional maupun daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kabupaten Tala pada Juli 2025 tercatat 2,74% (yoy), 0,35% (mtm), dan 0,89% (ytd)—masih dalam rentang target nasional 2,5 ± 1%.
Kelompok pengeluaran yang paling besar menyumbang inflasi Juli adalah makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,25% (yoy), diikuti penyediaan makanan-minuman/restoran 0,58%, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,48%. Sejumlah komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi meliputi bawang merah, cabai rawit, tomat, minyak goreng, nasi dengan lauk, serta sigaret kretek mesin.
Memasuki Agustus 2025, harga cabai rawit mulai menurun. Namun, bawang merah dan beras masih mencatat kenaikan di ratusan kabupaten/kota, sehingga menjadi fokus pengendalian. Inflasi di sektor pendidikan juga meningkat seiring tahun ajaran baru, dengan kenaikan tertinggi pada jenjang TK (1,29%), SD (1,35%), SMP (1,16%), serta lembaga bimbingan belajar (1,91%).
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Tala, Andres Evony, bersama perwakilan lintas instansi termasuk Polres, Kodim 1009, Kejaksaan, Diskominfo, Dinas Pertanian, Diskopdag, Disnaker, Bapperida, Dishub, BPS, dan DKPP hadir dalam rapat koordinasi tersebut.
Kemendagri menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga kestabilan harga, menjamin ketersediaan pasokan, serta mengantisipasi potensi lonjakan harga komoditas pangan strategis. Menindaklanjuti arahan tersebut, TPID Tala memastikan akan memperkuat pemantauan harga dan pasokan secara rutin, khususnya menjelang momen strategis seperti hari besar keagamaan dan pergantian musim tanam.
“Kami akan terus melakukan pemantauan dan intervensi yang diperlukan agar harga tetap stabil, terutama pada komoditas yang sensitif terhadap inflasi,” ujar Andres Evony usai rapat.(*)




