MENTERI Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan tiga skenario terburuk defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) karena konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Berdasarkan hitungan tersebut defisit diperkirakan akan naik melampaui 3 persen.

Airlangga mengungkapkan hal itu di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet di Istana Negara Jakarta. Ia menghitung, dengan kondisi terburuk APBN dapat defisit 3,18 persen sampai 4,06 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Artinya, dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit untuk kita pertahankan kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan (ekonomi),” ucap Airlangga, Jumat, 13 Maret 2026 dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden.

Kalkulasinya berdasarkan tiga kemungkinan jangka waktu perang di Timur Tengah berlangsung. Selain itu, hitungan berdasarkan kenaikan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, dan pertumbuhan ekonomi.

Skenario pertama, harga minyak mentah Indonesia (ICP) senilai US$ 86 per barel lalu kurs rupiah berada di level 17 ribu per dolar Amerika Serikat (asumsi rupiah dalam APBN Rp 16.500 per dolar AS). Kemudian, pertumbuhan ekonomi dipertahankan di 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara angkanya naik jadi 6,8 persen, maka defisitnya adalah 3,18 persen terhadap PDB.

Airlangga mengungkapkan skenario moderat kedua adalah harga minyak US$ 97 per barel, kurs rupiah 17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN lebih tinggi lagi di 7,2 persen. Dengan hitungan ini, defisit APBN diprediksi mencapai 3,53 persen terhadap PDB.

Selanjutnya adalah skenario terburuk atau paling pesimistis. Hitungannya adalah harga minyak menembus US$ 115 per barel, kurs rupiah 17.500 per dolar AS, dan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil surat berharga negara 7,2 persen, maka defisit dapat menembus 4,06 persen.

Saat ini undang-undang mengatur batas defisit APBN tidak boleh melebihi 3 persen terhadap PDB. Namun berdasarkan paparannya, Airlangga menyebut berdasarkan hitungan sulit mempertahankan batasan tersebut. “Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas,” ucap Airlangga.

Pilihan Editor: Bunuh Diri Fiskal Melanjutkan MBG Saat Harga Minyak Naik

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.