KalselBabusalam.com – Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang kawasan Asia dan Pasifik akan mengalami perlambatan signifikan. Proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan akan melandai menjadi 5,1 persen pada tahun 2026 dan 2027, turun dari capaian 5,4 persen pada tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan global yang memengaruhi dinamika ekonomi regional.

Kepala Ekonom ADB, Albert Park, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa revisi proyeksi ini didorong oleh beberapa faktor utama. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan global yang terus berlanjut menjadi pemicu utama perlambatan tersebut. Di samping itu, inflasi regional juga diperkirakan akan mengalami kenaikan. Angka inflasi diproyeksikan mencapai 3,6 persen pada tahun 2026 dan sedikit menurun menjadi 3,4 persen pada tahun 2027, dari sebelumnya 3 persen pada tahun lalu.

“Prakiraan ini disusun berdasarkan sejumlah asumsi yang telah difinalisasi pada 10 Maret, di tengah kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi. Proyeksi ini mengacu pada skenario stabilisasi dini terkait konflik di Timur Tengah. Namun, perkembangan yang terjadi hingga saat ini justru menunjukkan potensi lebih besar terjadinya disrupsi yang lebih persisten dan berkepanjangan,” terang Park, dilansir dari Antara.

Meskipun menghadapi lingkungan global yang penuh gejolak, ADB menilai bahwa kawasan Asia dan Pasifik berada dalam posisi yang relatif kuat. Hal ini berkat sejumlah faktor penopang seperti permintaan domestik yang masih solid, pasar tenaga kerja yang stabil, serta tingginya pengeluaran untuk infrastruktur publik. Ketiga elemen ini berkontribusi pada ketangguhan fundamental ekonomi kawasan dalam menghadapi tantangan.

Dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026, ADB secara khusus menyoroti konflik berkepanjangan di Timur Tengah sebagai risiko terbesar terhadap proyeksi ekonomi Asia Pasifik. Situasi geopolitik ini berpotensi memicu kenaikan harga energi dan pangan dalam jangka waktu lebih lama, serta memperketat kondisi keuangan global. Selain itu, kembali munculnya ketidakpastian kebijakan perdagangan turut menambah daftar risiko yang harus diwaspadai.

Oleh karena itu, ADB menekankan pentingnya respons kebijakan yang tepat dari pemerintah di berbagai negara. “Pemerintah perlu menempuh kebijakan makroekonomi yang strategis dan tepat sasaran demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan menahan laju inflasi, sekaligus melindungi rumah tangga rentan melalui intervensi yang efektif,” imbuh Park.

Bagian khusus dalam Asian Development Outlook per April 2026 juga menganalisis secara mendalam dampak konflik terhadap berbagai perekonomian di kawasan, berdasarkan sejumlah skenario alternatif. Konflik yang memanjang dan eskalasi di Timur Tengah dapat mengganggu aktivitas ekonomi melalui beberapa jalur krusial, termasuk kenaikan harga komoditas, gangguan pada jalur pengapalan global, dan peningkatan volatilitas di pasar keuangan.

Mayoritas perekonomian negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik diperkirakan akan mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2026 dan 2027. Kondisi ini terjadi meskipun pengeluaran rumah tangga di banyak negara masih menunjukkan ketahanan yang baik, dan permintaan terhadap barang-barang yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) tetap solid.

Secara lebih spesifik, pertumbuhan ekonomi di Republik Rakyat Cina (RRC) diproyeksikan menurun menjadi 4,6 persen pada tahun 2026 dan 4,5 persen pada tahun 2027, dari 5 persen pada tahun 2025. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh berlanjutnya penurunan di pasar properti dan melambatnya pertumbuhan ekspor yang menghambat laju kegiatan ekonomi negara tersebut.

Sementara itu, ADB memperkirakan pertumbuhan di India akan sedikit melambat menjadi 6,9 persen tahun ini, dari 7,6 persen tahun lalu, sebelum kembali menguat menjadi 7,3 persen pada tahun depan. Penguatan ini didukung oleh konsumsi domestik yang kuat sebagai penopang utama perekonomian India.

Untuk kawasan Pasifik, ADB memprediksi terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi dari 4,2 persen pada tahun 2025 menjadi 3,4 persen pada tahun 2026 dan 3,2 persen pada tahun 2027. Dalam konteks harga komoditas, harga minyak diproyeksikan akan tetap tinggi dalam waktu dekat, namun berpotensi menurun secara bertahap jika ketegangan geopolitik mereda.

“Kenaikan tajam harga energi yang terjadi belakangan ini, serta potensi gangguan di pasar pupuk yang terkait dengan konflik di Timur Tengah, dapat menimbulkan tekanan inflasi harga pangan global yang signifikan,” pungkas Park, menggarisbawahi risiko terhadap stabilitas harga pangan dunia.

Pilihan Editor: Bagaimana Perang Iran-Israel Menahan Pertumbuhan Ekonomi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.