KalselBabusalam.com – Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah kini mulai merembet pada sektor krusial di pasar domestik, khususnya bahan baku industri plastik. Menanggapi situasi yang mengkhawatirkan ini, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah konkret untuk menindaklanjuti dampaknya.

Zulhas mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah memanggil sejumlah pengusaha biji plastik guna mencari titik temu solusi bersama. “Kami sedang panggil beberapa pengusaha untuk membahas soal biji plastik ini. Bagaimana kira-kira agar kenaikannya tetap wajar, tidak terlalu (tinggi),” ujar Zulhas di Yogyakarta pada Kamis, 16 April 2026.

Kenaikan harga plastik ini, menurut Zulhas, merupakan konsekuensi langsung dari tingginya ketergantungan Indonesia pada impor minyak bumi sebagai bahan baku utama, yang harganya terus berfluktuasi di pasar global. Pemerintah, lanjutnya, berupaya keras agar kenaikan harga plastik di tingkat konsumen dapat ditekan secara rasional, idealnya di kisaran 30 persen.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh lebih berat. “Harga di pasaran kenaikannya sampai 60-70 persen, semestinya kalau naik 30-an persen saja,” terang Zulhas, menyoroti disparitas antara target dan kenyataan yang dihadapi masyarakat.

Meskipun harga plastik melonjak tajam, Zulhas memastikan bahwa harga komoditas pokok penting seperti beras, bensin, dan kebutuhan pangan lainnya hingga kini tetap stabil. Permasalahan justru muncul pada aspek pengemasan, di mana masyarakat kini harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk membeli kantong plastik saat berbelanja. Sebagai contoh, harga kantong plastik yang semula Rp 500 kini bisa mencapai Rp 2.000, yang secara tidak langsung membuat total pengeluaran belanja terasa lebih mahal, sekalipun harga bahan pangan utamanya tidak berubah.

“Sekarang yang naik plastiknya, bukan berasnya. Tapi kalau plastiknya tidak ada lalu bagaimana? Kan kemasan beras harus pakai kantong, ini yang repot kalau tidak ada,” kata Zulhas, menekankan pentingnya peran kemasan dalam distribusi dan konsumsi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada plastik berbahan dasar fosil, Zulhas melihat peluang besar bagi Indonesia untuk beralih ke kemasan berbahan organik. Mengingat kekayaan sumber daya alam hayati yang melimpah ruah di tanah air, ia mendorong pengembangan alternatif pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, potensi kekayaan organik Indonesia harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menciptakan inovasi kemasan yang mampu bersaing, baik dari segi fungsi maupun harga.

“Bagus sekali kalau kita punya alternatif (pengemasan), kan kita sebetulnya kaya. Kaya dengan organik, kalau bisa plastik diganti organik bagus sekali,” pungkas Zulhas, menyiratkan visi untuk masa depan kemasan yang lebih berkelanjutan.

Pilihan Editor: Apa Sebab Harga Minyak Goreng Minyakita Mahal

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.