
WAKIL Sekjen PBB untuk Operasi Perdamaian Jean Pierre Lacroix pada Senin mengutuk serangan terbaru yang menewaskan dua penjaga perdamaian Indonesia saat sebuah ledakan menghantam konvoi logistik Pasukan Sementara PBB untuk Lebanon (UNIFIL) di dekat Bani Hayyan di Sektor Timur, serta melukai dua lainnya.
Sehari sebelumnya, seorang penjaga perdamaian Indonesia lainnya meninggal dunia akibat ledakan di dalam pangkalan UNIFIL di Ett Taibe, juga di Sektor Timur, sementara satu lainnya mengalami luka kritis dan telah dievakuasi ke Beirut.
“Kami mengutuk keras insiden-insiden yang tidak dapat diterima ini. Penjaga perdamaian tidak boleh pernah menjadi sasaran,” kata Lacroix dalam rilis yang diterima Tempo pada Senin malam.
Ia menambahkan bahwa UNIFIL sedang melakukan investigasi untuk menentukan sebab kematian tersebut. “Semua tindakan yang membahayakan penjaga perdamaian harus segera dihentikan.”
Terkait pelanggaran resolusi 1701, Lacroix mengatakan: “Kami melihat berbagai pelanggaran terhadap resolusi 1701,” merujuk pada serangan dari kedua arah melintasi Garis Biru serta keberadaan pasukan Israel di Lebanon.
“Tidak ada solusi militer. Yang dibutuhkan adalah solusi politik. Kerangka untuk solusi politik sudah ada—yaitu resolusi 1701—yang, sejauh yang kami dengar, masih menjadi komitmen semua pihak.”
Lacroix juga menyampaikan bahwa misi tersebut terus berkomunikasi secara intens dengan Indonesia, serta koordinasi dengan militer Israel (IDF) tetap berlangsung, “yang memungkinkan UNIFIL untuk menghindari konflik dalam sejumlah pergerakan, misalnya untuk pengiriman logistik ke pos-pos atau dukungan bagi penduduk sipil di wilayah tersebut.”
Ia kembali menegaskan seruan Sekretaris Jenderal kepada semua pihak untuk menghentikan pertempuran, dengan menyatakan bahwa hanya implementasi penuh resolusi Dewan Keamanan 1701 oleh kedua pihak yang akan “memungkinkan tercapainya solusi jangka panjang atas konflik ini.”
Pilihan Editor: 2 Prajurit TNI Tewas saat Kawal Kegiatan Operasional UNIFIL










