kalselbabusalam.com – , JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyampaikan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal. Pergerakan Mata Uang Garuda diketahui saat ini sudah menembus level Rp 17.900-an per dolar AS.

“Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Rabu (2/6/2026). 

Denny menjelaskan, salah satu kebijakan strategis BI adalah menerapkan threshold pembelian dolar AS. Per April 2026 lalu, BI telah menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari 100 ribu dolar AS per orang per bulan menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan. Kebijkan tersebut makin ketat. 

Per Juni 2026 ini, pembatasan kembali diturunkan dari 50 ribu dolar AS per orang per bulan menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan. Diharapkan, upaya tersebut bisa berkontribusi dalam mengurangi tekanan pada rupiah. 

“Mulai 2 Juni 2026, Bank Indonesia telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan,” terangnya. 

Denny melanjutkan, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA). 

“Bank Indonesia memandang bahwa stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” terangnya. 

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah 39 poin atau 0,22 persen pada level Rp 17.878 per dolar AS. Terpantau pada sekira pukul 13.59 WIB, Mata Uang Garuda sudah menembus Rp 17.959 per dolar AS. Angka tersebut merupakan titik terlemah rupiah sepanjang sejarah. 

Sebelumnya diketahui, di tengah tren pelemahan rupiah, Gubernur BI Perry Warjiyo pada Selasa (5/5/2026) mengungkapkan, Presiden RI Prabowo Subianto memberikan arahan kepadanya untuk melakukan tujuh langkah strategi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. 

Salah satunya adalah melakukan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying, dari 100 ribu dolar AS per orang per bulan diturunkan menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan. Kebijakan tersebut sudah dilakukan BI sejak April 2026. Perry menyebut, rencananya nominalnya bakal diturunkan kembali. 

    

“Kami persiapkan akan turunkan lagi menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan, sehingga pembelian dolar di atas 25 ribu dolar AS harus pakai underlying,” tuturnya pada Selasa (5/5/2026). 

Sejalan dengan itu, BI memperkuat local currency transaction (LCT) antara Yuan China dengan rupiah Indonesia. Kerja sama itu merupakan upaya alternatif dalam mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS. 

Local currency kita dengan Yuan China sangat tinggi, dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik, sehingga mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar, sehingga (rupiah) bisa menguat,” ujarnya. 

Perry menyampaikan, tertekannya rupiah diprediksi terjadi hanya dalam jangka pendek. Menurutnya, penyebab rupiah melemah dalam jangka pendek ini disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor global dan faktor musiman. 

Faktor globalnya yakni harga minyak yang tinggi dan suku bunga AS yang juga meningkat tinggi. Selain itu, penguatan dolar AS juga menyebabkan rupiah tertekan. Terjadi arus keluar modal atau capital outflow yang cukup masif dari emerging market, termasuk Indonesia. Tak ayal, Mata Uang Garuda mengalami koreksi. 

Mengenai faktor musiman, diantaranya adalah karena adanya permintaan terhadap dolarnya tinggi untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, serta untuk kebutuhan jamaah haji. 

Kendati demikian, Perry berujar, nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, kondisi dimana rupiah sekarang masih lebih rendah dari nilai fundamentalnya. Artinya, masih ada peluang bagi rupiah untuk menguat. 

“Nilai tukar sekarang ini undervalue. Kenapa undervalue? Fundamental kita kuat, pertumbuhan ekonomi sangat tinggi 5,61 persen (kuartal I 2026), inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Inilah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” terang Perry. 

Pembatasan Pembelian Dolar pada 2015 Stabilkan Rupiah

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama pada Jumat (22/5/2026) mengungkapkan, kebijakan pembatasan pembelian dolar AS diyakini bisa memberikan stimulus penguatan terhadap rupiah. Optimisme itu berdasarkan pengalaman sebelumnya melakukan pembatasan pembelian dolar pada 2015 yang silam. 

“Penyesuaian threshold ini bukan kebijakan yang baru, ini sudah pernah kita lakukan di tahun 2015,” kata Ruth dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk ‘Penguatan Kebijakan Valas Dan Intermediasi Untuk Stabilitas Rupiah Dan Pertumbuhan Kredit’ di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). 

Ia menjelaskan, penyesuaian threshold transaksi valas merupakan kebijakan yang lazim dan bersifat dinamis, menyesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi dan pasar keuangan global maupun domestik. Data BI menunjukkan terjadinya penguatan rupiah ketika kebijakan tersebut diberlakukan. 

Berdasarkan data historis kebijakan threshold transaksi valas BI, threshold transaksi pembelian tunai valas terhadap rupiah memang sempat diturunkan dari 100 ribu dolar AS per pelaku per bulan menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan, yang kemudian meningkat kembali menjadi 100 ribu dolar AS per pelaku per bulan pada 2022. 

Tercatat pada Agustus 2015, rupiah berada di posisi Rp 14.065 per dolar AS. Lantas mengalami penguatan menuju level Rp 13.166 per dolar AS pada Juni 2026. Dengan berkaca dari pengalaman tersebut, diharapkan rupiah pada saat ini bisa mengalami penguatan lewat instrumen tersebut, serta sejumlah instrumen lainnya. 

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi salah satu tools yang membantu penguatan rupiah,” ujarnya. 

Ruth menuturkan, pemberlakuan pembatasan pembelian dolar dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per April 2026 sendiri sudah menunjukkan efektivitas. Hal itu terlihat dari berkurangnya rata-rata harian (RRH) transaksi pasar valas. Tercatat, RRH transaksi pasar valas dari turun dari sekitar 78 juta dolar AS per hari pada kuartal I 2026, menjadi 62 juta dolar AS pada April—Mei 2026. 

“Jadi kita coba turunkan lagi ke 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan dengan harapan trennya akan sama, akan mengurangi kebutuhan pembelian dolar tanpa underlying. Saat ini rata-rata hariannya sekitar 57 juta dolar AS, kita harap ini akan menurun lagi,” terangnya. 

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.