KalselBabusalam.com
Ahli digital forensik terkemuka, Rismon Hasiholan Sianipar, baru-baru ini menyambangi Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Istana Wapres, Jakarta Pusat, pada Jumat (13/3). Kunjungan penting tersebut dilakukan dalam rangka memberikan klarifikasi serta menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Gibran, terkait polemik ijazah yang sebelumnya sempat menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Rismon Tegaskan Ijazah Jokowi Asli
Setelah pertemuan tersebut, Rismon Hasiholan Sianipar memberikan penjelasan krusial. Ia menyatakan bahwa setelah melakukan serangkaian kajian lanjutan yang jauh lebih mendalam, dirinya sampai pada kesimpulan tegas bahwa ijazah Presiden Jokowi adalah asli. “Para wartawan memang menginginkan pernyataan yang lugas dan sederhana: iya, asli,” ucap Rismon. Ia menambahkan, “Dengan segala kajian saya, saya harus mengatakan bahwa kebenaran itu menyakitkan, atau dalam istilah ‘truth hurts’. Namun, akan jauh lebih menyakitkan lagi bagi saya jika saya tidak berani mengungkapkannya.”

Rismon selanjutnya menggarisbawahi pentingnya integritas seorang peneliti. Ia menegaskan bahwa seorang peneliti memiliki tanggung jawab moral untuk mengoreksi hasil karyanya sendiri apabila ditemukan kekeliruan, bukan malah menyembunyikan kebenaran demi tujuan tertentu. “Sebagai seorang peneliti, saya merasa bertanggung jawab penuh untuk mengoreksi tulisan-tulisan saya,” ujar Rismon. “Saya tidak akan menyembunyikan kebenaran hanya agar penelitian saya dianggap final—sekadar demi tepuk tangan, demi fanatisme buta, atau demi kepentingan politik praktis semata.”


Cerminkan Kedewasaan Berdemokrasi
Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Gibran Rakabuming, dalam keterangan tertulisnya, menyambut positif inisiatif Rismon yang berani meninjau ulang dan meralat pernyataan sebelumnya di hadapan publik. Menurut Gibran, tindakan tersebut merupakan refleksi nyata dari kedewasaan dalam berdemokrasi, sebuah sikap yang patut diapresiasi.

Dalam kesempatan ini, Gibran turut mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama di momen istimewa bulan Ramadan ini, untuk senantiasa saling memaafkan dan memperkuat kembali jalinan tali persaudaraan. “Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk kita semua saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang,” pungkas Gibran dalam pernyataannya.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.