KalselBabusalam.com – Sebuah insiden mengejutkan menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Ia menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal (OTK) di wilayah Jakarta Pusat pada Kamis (12/3) malam. Serangan brutal ini terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, tak lama setelah Andrie Yunus selesai menghadiri acara podcast dengan tema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (13/3), mengonfirmasi bahwa Andrie mengalami luka serius di berbagai bagian tubuhnya, meliputi tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta area mata, akibat serangan air keras tersebut.

Diserang Dua Pelaku Berboncengan
Kronologi serangan ini, menurut informasi yang dihimpun KontraS, bermula ketika Andrie Yunus sedang mengendarai sepeda motornya di Jalan Salemba I–Talang. Mendadak, dua orang pelaku yang berboncengan dengan motor matik, yang diidentifikasi sebagai Honda Beat, datang dari arah berlawanan. Dimas Bagus Arya menjelaskan bahwa para pelaku terdiri dari dua laki-laki, dengan satu bertindak sebagai pengemudi dan yang lainnya sebagai penumpang, keduanya mengendarai satu motor. Ciri-ciri pelaku telah teridentifikasi: pengemudi mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap yang diduga jeans, dan helm hitam. Sedangkan pelaku kedua, yang bertindak sebagai penumpang, memakai masker penutup wajah hitam, kaus biru tua, serta celana panjang jeans biru yang dilipat pendek. Salah satu dari pelaku tersebut kemudian langsung menyiramkan air keras ke arah Andrie, mengenai sebagian besar tubuhnya. Serangan mendadak itu menyebabkan korban berteriak kesakitan dan kehilangan kendali hingga menjatuhkan sepeda motornya.

Luka Bakar 24 Persen, Motif Bukan Perampokan
Pasca-insiden, Andrie Yunus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Hasil pemeriksaan dokter mengungkap kondisi Andrie yang cukup parah, dengan diagnosis luka bakar mencapai 24 persen dari total permukaan tubuhnya. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menegaskan bahwa tidak ada satu pun barang berharga milik korban yang hilang selama kejadian. Fakta ini mengarahkan dugaan bahwa penyiraman air keras bukan bermotif perampokan. KontraS secara tegas menyatakan bahwa tindakan keji penyiraman air keras ini patut dinilai sebagai upaya serius untuk membungkam suara-suara kritis dari masyarakat, khususnya para pembela HAM di Indonesia.

Polisi Selidiki Meski Belum Ada Laporan Resmi
Menanggapi serangan air keras ini, pihak kepolisian telah bergerak cepat. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengonfirmasi bahwa Satreskrim Polres Jakarta Pusat telah memulai pendalaman di lokasi kejadian, memeriksa saksi-saksi, dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). “Saat ini sedang didalami oleh Sat Reskrim Polres Jakpus, mendalami saksi dan TKP. Kita semua mengecam kejadian tersebut. Semoga pelaku segera tertangkap,” ujar Budi, Jumat (13/3). Senada, Kasat Reskrim Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menambahkan bahwa meskipun belum ada laporan resmi yang diajukan oleh korban, aparat kepolisian telah mengambil inisiatif untuk memulai proses penyelidikan. “Benar ada kejadian demikian. Laporan resmi dari korban belum ada, namun kami sedang melakukan penyidikan untuk mengetahui identitas pelaku melalui scientific investigation,” terang Roby, menunjukkan keseriusan pihak berwajib dalam mengungkap kasus ini.

Menko Polhukam Yusril Ihza Mahendra Akan Koordinasikan Kasus
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan bahwa dirinya belum menerima informasi mengenai insiden penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus. “Belum tahu saya,” kata Yusril di Istana, menegaskan ketidaktahuannya. Ia kembali mengulang, “Saya belum tahu, saya. Belum dapat kabar tentang hal itu.” Meski demikian, Yusril memastikan akan segera mengambil langkah untuk mengkoordinasikan masalah serius ini dengan berbagai pihak terkait. “Ya nanti saya koordinasikan. Saya belum tahu, nanti saya koordinasi dulu ya,” pungkasnya, menunjukkan komitmen untuk menindaklanjuti kasus yang menarik perhatian publik ini.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.