
KalselBabusalam.com, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Indonesia berhasil memukau lembaga-lembaga finansial dan pemeringkat internasional, termasuk International Monetary Fund (IMF), World Bank, serta S&P Global Ratings. Mereka secara terbuka menyatakan kekaguman atas strategi fiskal yang diterapkan Indonesia dalam menghadapi gejolak dan ketidakpastian global, khususnya di tengah dinamika geopolitik yang memanas.
Pengakuan prestisius ini diperoleh Purbaya setelah serangkaian pertemuan penting di Washington D.C., Amerika Serikat. Ia berdialog langsung dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva, para pejabat tinggi World Bank, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings. Kunjungan ini merupakan bagian dari roadshow intensif yang sebelumnya telah mempertemukan Purbaya dengan berbagai investor global terkemuka di New York, termasuk raksasa investasi BlackRock.
Dalam setiap forum, Purbaya dengan tegas memaparkan komitmen tak tergoyahkan pemerintah Indonesia untuk menjaga keseimbangan krusial antara pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan disiplin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Presentasi ini menjadi sangat relevan mengingat ketegangan geopolitik global, terutama perang antara Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Iran, yang masih terus berlangsung dan berpotensi menimbulkan riak ekonomi yang luas.
“Kami berkesempatan bertemu dengan 18 investor besar, termasuk nama-nama terkemuka seperti Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Ketertarikan mereka sangat tinggi untuk memahami arah kebijakan pertumbuhan dan bagaimana kami mengelola anggaran. Mereka ingin memastikan bahwa strategi Indonesia kredibel dan mampu bertahan jangka panjang,” jelas Purbaya dalam keterangannya, seperti dikutip pada Rabu (15/4).
Dalam momen tersebut, Purbaya tidak hanya menjelaskan gambaran besar, tetapi juga merinci berbagai kebijakan strategis yang telah dan akan ditempuh pemerintah Indonesia. Ia menguraikan dampaknya terhadap anggaran negara dan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Respons yang diterima sangatlah positif, terutama dari IMF, Bank Dunia, dan lembaga pemeringkat, yang menyoroti kemampuan unik Indonesia dalam mendorong laju ekonomi tanpa harus membebani kebijakan fiskal secara berlebihan.
“Antusiasme mereka luar biasa, dan mereka menggali lebih dalam fundamental ekonomi serta kebijakan kami. Selama ini, pertanyaan besar mereka adalah bagaimana Indonesia bisa tumbuh begitu cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” tambahnya, menegaskan pengakuan atas pendekatan fiskal Indonesia yang prudent namun progresif.
Selain itu, Purbaya juga mencermati minat besar dari investor global, terutama dari Amerika Serikat, terhadap instrumen di sektor keuangan Indonesia, baik dalam bentuk fixed income maupun equity. Meskipun sebagian besar ketertarikan ini masih berupa investasi portofolio, bukan investasi langsung asing (FDI), Purbaya menyatakan optimisme tinggi. “Kami sangat optimistis bahwa dalam waktu dekat, aliran dana investasi portofolio ini akan segera masuk dan memberikan dorongan signifikan bagi penguatan pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Pada pertemuan dengan IMF, Kristalina Georgieva sempat menyampaikan kekhawatiran bahwa ketidakpastian global masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, dipicu oleh ketegangan geopolitik dan dinamika harga energi. Menanggapi hal tersebut, Purbaya menegaskan posisi kuat Indonesia. Ia menyatakan bahwa negara ini memiliki kondisi fiskal yang solid dan bantalan anggaran yang lebih dari memadai untuk menghadapi berbagai tantangan eksternal.
“IMF memang tidak memiliki otoritas untuk menekan ketidakpastian global, namun mereka siap memberikan dukungan bagi negara-negara yang membutuhkan. Indonesia tidak termasuk dalam kategori tersebut, karena kami memiliki kondisi fiskal yang sangat kuat dengan bantalan anggaran sekitar Rp 420 triliun,” tegas Purbaya, menunjukkan kemandirian finansial Indonesia.
Bendahara negara ini juga menginformasikan bahwa Indonesia telah melakukan penyesuaian kebijakan signifikan sejak akhir 2025. Langkah proaktif ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap berbagai tekanan eksternal secara efektif, termasuk lonjakan harga minyak yang diakibatkan oleh konflik global. “Kami terbukti mampu menyerap guncangan yang terjadi. IMF melihat kondisi ekonomi Indonesia secara positif, meskipun mereka tetap menjaga netralitas dan tidak memberikan perlakuan khusus kepada negara tertentu,” jelas Purbaya.
Sementara itu, dalam dialog terpisah dengan World Bank dan S&P Global Ratings, Purbaya mengklaim bahwa mereka juga memberikan penilaian yang sangat positif terhadap strategi fiskal yang diimplementasikan Indonesia. “Bank Dunia dan lembaga rating menyampaikan kepuasan mereka atas strategi yang kami paparkan. Keraguan yang mungkin sempat ada terhadap kemampuan Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, kini semakin berkurang drastis,” papar Purbaya.
Bank Dunia, lanjut Purbaya, bahkan menyatakan minat yang besar untuk memperdalam kerja sama dengan Indonesia. Kolaborasi ini khususnya difokuskan pada dukungan terhadap pembangunan jangka panjang, upaya pengentasan kemiskinan, serta pembiayaan proyek-proyek strategis di negara berkembang. Beberapa investor global terkemuka yang hadir dalam pertemuan investor di Washington D.C. antara lain Fidelity, Goldman Sachs Asset Management (GSAM), Eaton Vance, dan MFS, menunjukkan kepercayaan yang tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia.



