kalselbabusalam.com – JAKARTA. Pasar tas mewah (luxury bag) masih menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global pada kuartal I-2026. 

Meski demikian, perilaku konsumen mulai berubah menjadi lebih selektif.

Kolektor tas mewah Rita Efendy mengungkapkan bahwa permintaan tas luxury masih bertahan, terutama dari kalangan high net worth individual (HNWI). 

Namun, segmen kelas menengah cenderung menahan pembelian, bahkan mulai melepas koleksi untuk mengamankan likuiditas.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (19/4): Tak Bergerak di Rp 2.884.000 Per Gram

“Kalangan atas masih membeli tas luxury sebagai bagian dari strategi menjaga nilai aset. Sementara kelas menengah cenderung lebih berhati-hati, bahkan ada yang menjual koleksi mereka,” ujar Rita kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).

Menariknya, ia melihat adanya pergeseran minat di pasar, terutama di segmen menengah ke bawah yang mulai beralih ke tas pre-loved.  Fenomena ini mendorong maraknya bazaar tas bekas yang kini ramai peminat.

Rita menjelaskan, bagi kolektor kelas atas, tas mewah bukan sekadar barang konsumsi, melainkan telah berkembang menjadi alternatif investasi.

“Jika logam mulia dikenal sebagai aset defensif, tas luxury, khususnya merek tertentu, lebih dilihat sebagai passion investment yang nilainya bisa stabil bahkan meningkat melampaui inflasi,” jelasnya.

Dari sisi tren, Rita menyebut model klasik masih mendominasi pasar di awal tahun ini. Tas seperti seri Birkin dan Kelly dari Hermès tetap menjadi incaran utama dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta hingga di atas Rp 1 miliar.

Selain itu, produk dari Chanel juga tengah mengalami peningkatan permintaan, terutama seiring hadirnya desainer baru, Matthew Blazy, yang merilis koleksi terbatas.

“Sementara untuk LV, Dior, Bottega, Fendi dan lainnya masih stabil karena produknya cenderung banvak dan gampang dibeli,” tambahnya.

Gencatan Senjata Dorong Bitcoin ke US$ 75.000, Sentimen Data AS Masih Membayangi

Untuk prospek ke depan, Rita menilai pasar tas mewah tidak akan mengalami penurunan signifikan sepanjang 2026, namun akan semakin tersegmentasi.

Menurutnya, tas dengan desain klasik dan bersifat timeless akan tetap diminati karena memiliki nilai investasi yang lebih terjaga. Sebaliknya, produk yang mengikuti tren cenderung lebih fluktuatif.

“Ke depan, hanya tas tertentu yang benar-benar bisa dianggap sebagai aset alternatif dan layak dikoleksi dalam jangka panjang,” katanya.

Ia juga menyoroti faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan euro yang turut memengaruhi harga tas mewah di dalam negeri. Pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga, yang secara tidak langsung meningkatkan nilai koleksi yang sudah dimiliki investor.

“Ketika rupiah melemah, harga tas luxury di pasar domestik menjadi lebih mahal, yang secara tidak langsung justru meningkatkan nilai aset bagi mereka yang sudah memiliki koleksi tersebut,” pungkas Rita.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.