KalselBabusalam.com – Sebuah langkah strategis telah diambil oleh raksasa ritel, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF), dengan resmi mengganti namanya menjadi PT MDS Retailing Tbk. Keputusan signifikan ini dicapai dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Rabu, 15 April 2026.

Perubahan nama ini menandai evolusi perseroan di lanskap bisnis ritel yang dinamis. Manajemen LPPF, dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada Sabtu, 18 April 2026, menyatakan, “Menyetujui perubahan nama perseroan dari PT Matahari Department Store Tbk menjadi PT MDS Retailing Tbk, dan karenanya melakukan perubahan Pasal 1 ayat (1) Anggaran Dasar Perseroan tentang Nama Perseroan.” Dukungan kuat dari para pemegang saham terlihat jelas, dengan 93,181 persen suara menyetujui, merepresentasikan 1,58 miliar saham dari total 1,7 miliar saham yang hadir dalam RUPSLB tersebut.

Antisipasi terhadap kemungkinan kendala birokrasi juga telah dipersiapkan dengan matang. Apabila nama perseroan yang diusulkan tidak memperoleh persetujuan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atau otoritas terkait lainnya, direksi, di bawah pengawasan dewan komisaris, diberikan kuasa penuh untuk menentukan dan menggunakan nama alternatif tanpa perlu kembali mengajukan persetujuan RUPS lanjutan.

Selain agenda perubahan nama, RUPSLB juga mengesahkan pengalihan seluruh saham hasil pembelian kembali atau saham tresuri sejumlah 31 juta saham. Saham-saham ini, yang telah dibeli kembali oleh perseroan hingga tanggal 9 April 2026, akan ditarik kembali melalui mekanisme penurunan modal ditempatkan dan disetor perseroan, seperti yang dijelaskan oleh manajemen.

Tak hanya RUPSLB, pada hari yang sama, perseroan juga menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Dalam RUPST ini, para pemegang saham menyepakati pembagian dividen final sebesar Rp250 per saham yang diambil dari laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, PT MDS Retailing Tbk. (sebelumnya LPPF) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 725,4 miliar. Meskipun demikian, angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan laba tahun 2024 yang mencapai Rp 827,7 miliar, mengindikasikan adanya fluktuasi dalam performa keuangan perseroan.

Pilihan Editor: Mengapa Kuartal I Krusial bagi Bisnis Industri Retail

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.