Prospek sektor properti Indonesia kini berada di ambang transformasi signifikan, terpicu oleh kebijakan swasembada pangan yang membutuhkan lahan luas. Kondisi ini diprediksi akan menggeser preferensi pasar dari rumah tapak menuju hunian vertikal. Fenomena ini, seperti dilansir dari KalselBabusalam.com, menjadi sorotan utama dalam industri properti.

Bambang Sriyanto, Wakil Ketua Bidang Regulasi dan Perizinan DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, menegaskan urgensi perubahan ini saat pembukaan REI EXPO 2026 di Mall Solo Paragon, Jumat, 17 April 2026. “Poin menarik bahwa sekarang Indonesia sedang gencar-gencarnya swasembada pangan yang membutuhkan lahan yang begitu luar biasa,” ujarnya. Ia menambahkan, penerbitan regulasi baru terkait harga rumah vertikal menjadi indikasi kuat pergeseran pasar yang tak terhindarkan.

REI EXPO 2026, yang diselenggarakan oleh Komisariat REI Solo Raya, merupakan ajang strategis yang menandai gelaran kelima sejak kepengurusan komisariat ini dilantik pada tahun 2024. Pameran ini menjadi wadah krusial bagi para pelaku industri untuk merespons dinamika pasar properti yang terus berkembang.

Bambang lebih lanjut memprediksi bahwa dalam kurun waktu lima tahun ke depan, preferensi hunian akan beralih drastis dari rumah tapak ke hunian vertikal. Keterbatasan lahan yang semakin mendesak dan lonjakan harga tanah yang tak terbendung akan menjadikan rumah berbasis lahan semakin sulit dijangkau oleh mayoritas masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat akan secara bertahap diarahkan menuju hunian vertikal, meskipun dengan konsekuensi biaya pembangunan yang lebih tinggi dan biaya operasional yang juga meningkat.

“Lima tahun ke depan, mungkin tidak akan ada lagi rumah yang secara langsung menyentuh tanah,” papar Bambang dengan lugas. Ia merinci bahwa rumah tapak akan menjadi barang mewah yang sulit diakses, bahkan impian untuk memiliki kebun pribadi pun akan sirna. Lebih jauh, tinggal di hunian vertikal akan menuntut biaya konstruksi yang mahal, ditambah dengan biaya operasional yang sangat tinggi, serta potensi keterbatasan interaksi sosial.

Mengamati tren ini, Bambang pun secara tegas mendorong masyarakat untuk segera memanfaatkan momentum berharga saat ini, di mana stok rumah tapak masih relatif tersedia di pasar. Ia menekankan bahwa penyelenggaraan REI EXPO adalah kesempatan emas dan strategis bagi calon pembeli untuk segera bertransaksi sebelum perubahan struktur pasar properti semakin nyata dan ketersediaan rumah tapak menipis.

“Maka di kesempatan expo yang luar biasa ini, mumpung stok rumah developer itu semuanya masih menyentuh tanah di sini, mohon dimanfaatkan semua yang hadir di mall ini. Silakan bertransaksi,” ajak Bambang kepada para pengunjung.

Di sisi lain, Oma Nuryanto, Ketua Komisariat REI Solo Raya, menyoroti tantangan struktural lain yang tidak kalah berat. Selain gejolak ekonomi global dan domestik, industri properti juga terhimpit oleh persoalan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang regulasinya masih tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah.

“Banyak teman-teman pengembang yang telanjur mengambil kredit, namun akhirnya terhambat permasalahan LSD ini dan berhenti di tengah jalan, berpotensi mengalami kredit macet,” jelas Oma, menggambarkan dampak serius dari regulasi yang belum sinkron.

REI EXPO 2026, yang kali ini berlangsung dari tanggal 16 hingga 26 April 2026, diharapkan menjadi katalisator untuk mendongkrak penjualan properti di tengah tekanan industri yang masih terasa sejak awal tahun. Oma Nuryanto optimistis bahwa saat ini adalah momentum yang sangat tepat bagi masyarakat untuk membeli rumah impian mereka.

“Suku bunga relatif murah, sekitar 4 sampai 5 persen. Angka ini sangat menarik bagi konsumen untuk mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR), baik untuk skema subsidi maupun komersial,” terang Oma.

Selain penawaran suku bunga yang menarik, stimulus lain datang dari kebijakan pemerintah melalui insentif pajak. Program bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang masih berlaku hingga akhir tahun menjadi daya tarik tambahan yang signifikan bagi calon pembeli properti.

Tak hanya itu, penyelenggara REI EXPO juga gencar menawarkan promosi agresif, termasuk hadiah umrah istimewa bagi konsumen yang melakukan pembelian rumah secara tunai senilai Rp 2 miliar. Strategi ini dirancang untuk memacu transaksi instan dan signifikan selama pameran berlangsung.

Optimisme di kalangan pelaku industri properti juga semakin menguat berkat kebijakan terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pelonggaran aturan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) ini membuka peluang baru, di mana masyarakat dengan catatan kredit kecil di bawah Rp 1 juta sekalipun kini berkesempatan untuk mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi.

“Ini adalah angin segar bagi para pengembang, terutama yang fokus pada segmen properti subsidi, karena selama ini banyak pengajuan kredit yang terhambat karena masalah SLIK,” ungkap Oma dengan nada positif.

REI EXPO 2026 berhasil menarik partisipasi 30 peserta, meliputi 15 pengembang perumahan dan 15 sektor pendukung vital, mulai dari perbankan, toko material bangunan, hingga biro perjalanan umrah. Penyelenggara optimis dapat mencapai target nilai transaksi sebesar Rp 50 miliar, sebuah peningkatan signifikan dari capaian tahun lalu yang sebesar Rp 30 miliar.

Di antara para pengunjung, Nur Anggraini, mengungkapkan bahwa ia sedang mencari informasi tentang beragam pilihan perumahan. Nur berencana untuk membeli rumah sebagai investasi di wilayah Solo Raya pada tahun ini.

“Banyak pilihan menarik yang ditawarkan. Saya sedang mencari informasi lebih lanjut sebagai bahan pertimbangan untuk membeli rumah yang sesuai dengan keinginan saya. Semoga ada yang cocok,” ujar Nur, penuh harap.

Pilihan Editor: Dilema Perluasan Sawah atau Penyediaan Rumah

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.