
KalselBabusalam.com – Pelatih tim nasional Malaysia, Harimau Malaya, secara blak-blakan melontarkan kritik pedas terhadap kondisi sepak bola di negara tersebut. Ia menilai bahwa sistem sepak bola Malaysia saat ini tidak berfungsi optimal dan tengah mengarah pada “dekade yang hilang” dalam pengembangan talenta.
Juru taktik asal Australia tersebut meyakini bahwa perkembangan pemain muda dan sistem akar rumput di Malaysia pada dasarnya sudah rusak. Pandangan Cklamovski memiliki bobot yang signifikan, mengingat rekam jejaknya selama satu dekade terakhir dalam membangun dan memperbaiki struktur pengembangan di dua negara sepak bola terkuat di Asia, yakni Jepang dan Australia.
Sebagai bukti keahliannya, di Liga Jepang 2024, di bawah asuhannya, FC Tokyo berhasil menurunkan skuad termuda dalam sejarah klub dengan rata-rata usia hanya 22,7 tahun. Tim ini bahkan menempati peringkat lima besar di Asia untuk jumlah menit bermain pemain U-21. Evolusi yang didorong oleh pemain muda ini tidak lantas mengorbankan hasil. FC Tokyo sukses finis di peringkat ketujuh, menjadi salah satu tim dengan intensitas tertinggi di Asia, dan memecahkan rekor penonton baik di tingkat klub maupun liga.
Pengalaman Cklamovski juga mencakup perannya sebagai pelatih kepala Timnas U-17 Australia. Kala itu, ia mereformasi total struktur kepanduan dan sistem identifikasi bakat negara tersebut. Konsep inovatifnya, ‘Elite Matches’ – di mana para pemain terbaik dari setiap wilayah saling berhadapan secara rutin – kini telah menjadi standar nasional yang masih diterapkan hingga saat ini.
Federasi Malaysia Diminta Jangan Lakukan Perombakan Sebelum Urusan Skandal Naturalisasi Beres
Setelah rentetan kegagalan Timnas U-17 Malaysia yang tidak lolos ke Piala Asia 2026 dan Timnas U-23 yang juga gagal dua kali di tahun ini, dilansir dari Timesport, Cklamovski dimintai pandangannya mengenai akar permasalahan sesungguhnya. “Itulah pertanyaannya, saya sangat antusias dengan pertanyaan ini,” jawab Cklamovski, dilansir dari New Straits Times.
Ia melanjutkan, “Jika kita melihat secara historis, kategori pemain muda usia 23 tahun, 20 tahun, dan 17 tahun, belum pernah lolos secara konsisten atau bahkan tidak pernah lolos ke Piala Asia.” Cklamovski menegaskan, “Saya pikir pengembangan pemain muda Malaysia sangat disfungsional dan membutuhkan intervensi serius. Kompetisi di level pemuda terbukti sangat lemah, dengan struktur yang kacau balau. Beberapa negara bagian melakukan ini, sementara yang lain melakukan hal berbeda.”
“Liga KPM, yang hanya menyajikan 11 pertandingan, itupun beruntung jika bisa mendapatkan 10 atau 11 pertandingan setahun untuk U-13 dan U-14. Apa harapan kita sebagai sebuah negara dengan kondisi seperti ini?” tanyanya retoris.
Lebih lanjut, Cklamovski menyoroti ironi bahwa Malaysia seolah mengharapkan keajaiban dari tim-tim kelompok usia, padahal fondasi dan jalur pengembangannya sendiri telah rusak. “Sebagai pelatih tim nasional, saya memang harus bermain sekarang dan meraih hasil. Namun, saya juga bertanggung jawab untuk memiliki rencana jangka panjang bagi masa depan. Dan di sinilah letak disfungsi saat ini, karena semuanya kacau balau,” jelasnya.
Ketika ditanya tentang apa yang akan ia bangun kembali pertama kali jika diberi kendali penuh, Cklamovski memberikan jawaban komprehensif. “Saya ingin memahami mekanisme konkret untuk meningkatkan pengembangan pemain muda, sebuah peluang besar untuk menyempurnakan sistem pendidikan sepak bola dan menjembatani sekolah-sekolah olahraga atau sepak bola sekolah,” katanya. “Kemudian, saya berharap akademi-akademi klub dapat mengembangkan sistem mereka sendiri. Dengan begitu, akan tercipta sistem sekolah dan sistem klub untuk pengembangan pemain muda, yang kemudian disalurkan ke AMD (Akademi Mokhtar Dahari) sebagai pusat berkumpulnya para elite,” paparnya.
Cklamovski juga menggarisbawahi urgensi pembentukan ekosistem kepelatihan yang kuat, sebuah aspek krusial yang sayangnya terabaikan di Malaysia selama puluhan tahun. Ia mencontohkan kebangkitan sepak bola Jepang selama 30 tahun sebagai cerminan komitmen jangka panjang. “Sistem mereka sangat solid, membentuk piramida yang kokoh dari level anak-anak hingga puncak,” ujarnya. “Mereka membutuhkan waktu 30 tahun, dan bahkan memiliki rencana 50 tahun ke depan.”
Merangkum dilema yang melanda sepak bola Malaysia, Cklamovski dengan tegas menyatakan tanpa tedeng aling-aling: “Jika tidak ada tindakan nyata yang diambil sekarang, dan kita terus mengabaikannya serta menutup mata, permainan ini akan terus tertidur. Sepak bola Malaysia sudah berjalan dalam tidur selama satu dekade atau bahkan beberapa dekade.”
Rekomendasi mendesak Cklamovski meliputi perbaikan fondasi di tingkat sekolah dan klub, peningkatan pendidikan pelatih, serta penguatan identifikasi bakat nasional. Jika tidak, siklus kegagalan di level pemain muda akan terus terulang.
Sebagai informasi, Timnas U-17 Malaysia belum lama ini mengalami kegagalan di ajang Kualifikasi Piala Asia U-17 2026. Mereka tak mampu finis sebagai juara grup, syarat utama untuk lolos kualifikasi, setelah dihantam Vietnam 0-4 di laga terakhir Grup B. Hasil pahit ini membuat Malaysia gagal menyusul Timnas U-17 Indonesia ke Piala Asia U-17 2026. Sebagai perbandingan, Timnas U-17 Indonesia justru telah mengamankan tempat di putaran final Piala Asia U-17 2026 tanpa perlu melalui babak kualifikasi. Hal itu dikarenakan skuad Garuda Asia berhasil tampil di Piala Dunia U-17 2025, sehingga otomatis lolos ke Piala Asia tahun depan.











