KalselBabusalam.comKONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar aset kripto kembali menunjukkan performa impresif, melanjutkan tren penguatan di tengah ketidakpastian dinamika geopolitik global. Momentum positif ini didukung oleh gelombang minat investor yang kian masif, diiringi likuiditas global yang masih cukup memadai untuk mendorong pergerakan pasar.

Berdasarkan pemantauan dari CoinMarketCap pada pukul 19.17 WIB, valuasi Bitcoin melonjak 2,88% dalam sehari, mencapai level US$ 78.453. Tak ketinggalan, Ethereum juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar 3,74% ke US$ 2.402, diikuti oleh Solana yang naik 2,95% menjadi US$ 88,38. Angka-angka ini menegaskan dominasi penguatan di seluruh spektrum aset digital utama.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, mengemukakan bahwa reli pasar kripto saat ini bukan tanpa alasan. Pergerakan positif ini didorong oleh serangkaian katalis fundamental dan perubahan perilaku investor yang semakin matang.

Fahmi menjelaskan, ketersediaan suplai Bitcoin dan Ethereum di pasar semakin terbatas. Kondisi ini dipicu oleh aksi akumulasi yang agresif dari para investor besar, yang secara efektif mengurangi pasokan yang beredar. Bersamaan dengan itu, narasi fundamental Bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge asset) terhadap inflasi kembali mendapatkan traksi, terutama di tengah memanasnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong investor mencari tempat berlindung yang aman.

IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Berpotensi Lanjutkan Fase Bearish

“Likuiditas global yang masih memadai turut menjadi pendorong utama minat investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto,” demikian ungkap Fahmi, dilansir dari Kontan, Rabu (22/4).

Lebih lanjut, Fahmi memaparkan bahwa kondisi ini semakin diperkuat oleh dukungan likuiditas global yang terus mengalir, yang pada gilirannya memicu gelora minat investor terhadap berbagai aset berisiko, termasuk kripto.

Menurutnya, sinergi dari berbagai faktor positif ini secara kolektif membuka peluang besar untuk kenaikan harga yang jauh lebih signifikan. Kendati demikian, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas pasar dalam jangka pendek masih tetap menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.

Meskipun demikian, Fahmi juga tak lupa mengingatkan bahwa potensi koreksi harga tetap harus diantisipasi dengan cermat. Analisis historis dari sejumlah indikator on-chain kunci, seperti rasio RHODL (Realized HODL Waves), mengindikasikan bahwa fase reli besar (bull run) mungkin belum sepenuhnya dimulai. Ini menyiratkan bahwa pergerakan pasar saat ini masih berada pada tahap-tahap awal siklus, membuka ruang untuk fluktuasi harga.

Kendati demikian, Fahmi tetap optimistis terhadap valuasi aset kripto saat ini, yang dinilainya masih relatif menarik bagi investor. Apabila terjadi koreksi, penurunan harga diperkirakan akan terbatas, dengan Bitcoin memiliki potensi untuk bertahan kuat di kisaran level US$ 60.000 hingga US$ 70.000, menunjukkan adanya lantai dukungan yang solid.

Para investor juga disarankan untuk memantau dengan seksama arus dana yang mengalir ke pasar kripto, baik dari entitas institusional maupun investor ritel. Lonjakan signifikan dalam aliran dana ini berpotensi besar untuk mempercepat laju reli harga, bahkan mampu melampaui sinyal awal yang ditunjukkan oleh indikator on-chain.

Menatap kuartal II-2026, pergerakan pasar kripto diproyeksikan akan tetap sangat sensitif terhadap dinamika makroekonomi global dan tensi geopolitik. Dengan tingkat ketidakpastian yang masih membayangi, potensi untuk kenaikan lanjutan maupun terjadinya koreksi signifikan tetap terbuka lebar, menuntut kewaspadaan ekstra dari para pelaku pasar.

Meskipun beberapa proyeksi dari institusi global terkemuka secara konsisten menunjukkan prospek yang cenderung bullish untuk Bitcoin, Ethereum, dan Solana, namun tingginya tingkat volatilitas intrinsik pasar kripto berarti pergerakan harga tidak akan selalu berjalan linier. Fluktuasi tajam masih akan menjadi ciri khas pasar ini.

Dalam lanskap pasar yang dinamis seperti ini, strategi investasi yang matang menjadi faktor kunci keberhasilan. Fahmi menyarankan agar investor pemula mempertimbangkan pendekatan akumulasi bertahap atau dollar cost averaging untuk meminimalisir risiko fluktuasi harga.

“Sedangkan bagi para trader yang lebih berpengalaman, pengelolaan portofolio secara aktif dan adaptif menjadi esensial untuk mengoptimalkan potensi imbal hasil dalam berbagai kondisi pasar,” imbuh Fahmi.

Fahmi juga menyoroti bahwa sinyal dari indikator on-chain lainnya, seperti MVRV Z-score dan Puell Multiple, selaras dengan rasio RHODL, turut mengindikasikan bahwa peluang terjadinya koreksi pasar masih terbuka lebar di tengah euforia tren kenaikan yang sedang berlangsung saat ini.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.