KalselBabusalam.com JAKARTA. Kabar signifikan datang dari sektor pertambangan nasional. Holding industri pertambangan, Mining Industry Indonesia (MIND ID), telah mengonfirmasi bahwa proses divestasi saham tambahan PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh Freeport-McMoran kepada pemerintah Indonesia akan segera dirampungkan. Langkah strategis ini dipercaya akan semakin memperkuat kendali negara atas salah satu aset pertambangan paling vital di tanah air.

Komisaris Utama MIND ID, Fuad Bawazier, secara gamblang menyatakan bahwa proses divestasi ini diharapkan tuntas dalam waktu dekat. “Insyaallah, perjanjiannya akan diperpanjang dalam waktu yang tidak terlalu lama atau dalam waktu dekat ini,” ujar Fuad, dilansir dari Kontan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tahapan-tahapan penting menuju finalisasi kesepakatan telah berada di penghujung jalan.

Fuad menambahkan, melalui proses divestasi ini, MIND ID dipastikan akan mengakuisisi tambahan 10% saham PTFI. Penambahan ini akan secara drastis meningkatkan porsi kepemilikan saham Indonesia dalam perusahaan tambang raksasa tersebut. Sebagai informasi, saat ini Indonesia telah menguasai 51,23% saham Freeport Indonesia melalui MIND ID, sementara sisanya sebesar 48,77% dipegang oleh Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Dengan tambahan 10% ini, kepemilikan MIND ID akan melonjak menjadi 61%, menegaskan dominasi kepemilikan negara atas operasional PTFI.

Peningkatan kepemilikan saham ini memiliki implikasi besar, terutama pada perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Freeport di Indonesia. Dengan kepemilikan 51,23%, IUPK Freeport saat ini berlaku hingga tahun 2041. Namun, dengan tambahan 10% saham yang menaikkan kepemilikan MIND ID menjadi 61%, IUPK dapat diperpanjang hingga tahun 2061. “Dengan diperpanjang masa berlakunya (izin pertambangan) ke (tahun) 2061,” jelas Fuad, menggarisbawahi dampak jangka panjang dari kesepakatan strategis ini terhadap keberlanjutan investasi dan operasional pertambangan di Papua.

Dalam perkembangan yang menunjukkan optimisme lebih lanjut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadahlia, sempat mengungkapkan potensi akuisisi yang lebih besar. Menurut Bahlil, Indonesia berpeluang mendapatkan lebih dari sekadar tambahan 10% saham di Freeport Indonesia. “Awalnya kan kita sepakat untuk menambah saham 10% Freeport. Tapi tadi berkembang negosiasi yang insyaallah, katanya lebih dari itu,” ungkap Bahlil di Istana Merdeka pada Senin. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pemerintah terus berupaya memaksimalkan keuntungan bagi negara melalui negosiasi yang alot dan cermat.

Terkait harga saham, Bahlil juga memberikan pandangan yang melegakan. Ia menyebutkan bahwa nominal yang dikeluarkan untuk mengakuisisi tambahan saham tersebut, baik itu 10% maupun lebih, terbilang sangat murah. “Untuk 10% lebih itu (saham) biayanya sangat murah sekali karena valuasi asetnya kita anggap sudah, nilai bukunya sangat tipis sekali,” jelasnya. Ini mengindikasikan keberhasilan pemerintah dalam mendapatkan kesepakatan yang amat menguntungkan, memanfaatkan kondisi valuasi aset yang ada untuk kepentingan nasional.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.