
Warga Iran kini tengah menghadapi ketegangan luar biasa menyusul ancaman serius dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemimpin AS itu bertekad untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan vital di Iran jika negara tersebut menolak membuka akses Selat Hormuz. Ancaman ini memicu gelombang reaksi dan kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat Iran.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Minggu, Trump secara blak-blakan menulis, “Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya sekaligus, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!” Pernyataan yang penuh retorika keras tersebut menggarisbawahi tekad AS untuk menekan Teheran di tengah gejolak regional yang kian memanas.
Menanggapi tenggat waktu yang ditetapkan Trump, yaitu pada Selasa, 7 April pukul 20:00 Waktu Timur, para pejabat Iran sontak melontarkan ejekan. Seorang ajudan presiden menggambarkan ancaman itu sebagai “hinaan dan omong kosong” yang murni lahir dari “keputusasaan dan kemarahan” di pihak AS, menegaskan penolakan mereka terhadap ultimatum tersebut.
Di tengah situasi genting ini, suara-suara dari rakyat biasa Iran berhasil digaungkan. KalselBabusalam.com, dilansir dari BBC, berhasil berbicara dengan sejumlah warga Iran, yang semuanya menentang pemerintahan saat ini. Upaya ini bukan tanpa tantangan, mengingat sulitnya menghubungi orang di dalam negeri akibat pemadaman internet yang telah diberlakukan otoritas selama lebih dari lima minggu. Demi keamanan narasumber, nama-nama mereka telah disamarkan.
Kasra, seorang pemuda berusia 20-an yang tinggal di Teheran, mengungkapkan perasaannya yang mendalam. “Rasanya seperti kami tenggelam semakin dalam ke rawa-rawa,” ujarnya. “Apa yang bisa kami lakukan sebagai orang biasa? Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Kami tidak bisa menghentikannya [Trump]. Saya terus membayangkan sebuah skenario di mana, sebulan lagi, saya duduk bersama keluarga tanpa air, tanpa listrik, tanpa apa-apa. Lalu seseorang meniup lilin dan kami pun tidur.” Ungkapan ini merefleksikan keputusasaan dan ketidakberdayaan warga sipil di tengah pusaran konflik yang tak berkesudahan.
Kontras dengan tayangan televisi pemerintah Iran yang menampilkan toko-toko kelontong penuh stok, dilansir dari BBC, sejumlah warga justru mulai menimbun persediaan kebutuhan pokok. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan air menjadi salah satu pemicu utama. Kondisi ini menunjukkan adanya jurang informasi dan realitas yang berbeda antara narasi resmi dan pengalaman langsung masyarakat.
“Ibu saya mengisi setiap botol yang bisa dia temukan di rumah dengan air,” kata Mina, juga berusia 20-an dari Teheran. “Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan sekarang. Saya pikir semakin banyak orang di Iran yang menyadari bahwa Trump sama sekali tidak peduli pada mereka. Saya membencinya dari lubuk hati terdalam, dan juga membenci mereka yang mendukungnya.” Sentimen ini menyoroti pergeseran pandangan publik terhadap peran AS dan kemanusiaan dalam konflik.

Sebelumnya, pada Januari lalu, ketika gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang mematikan melanda Iran, Presiden AS Donald Trump pernah menjanjikan “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran. Namun, janji tersebut tidak terpenuhi. Trump tidak mengambil tindakan ketika pasukan keamanan Iran melancarkan penindakan keras yang belum pernah terjadi, menewaskan sedikitnya 6.508 orang dan menangkap 53.000 lainnya, berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS.
Awalnya, beberapa warga Iran yang dilansir dari BBC melihat serangan AS-Israel sebagai bagian dari bantuan yang dijanjikan. Namun, pandangan tersebut kini berubah drastis. Mayoritas dari mereka kini menganggap serangan terhadap infrastruktur energi sebagai “garis merah” yang tidak boleh dilanggar, menunjukkan batas toleransi masyarakat terhadap dampak konflik.
Arman, seorang pemuda berusia 20-an dari Karaj, sebelah barat Teheran, sebelumnya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Israel dan AS atas target-target yang telah mereka hancurkan. Namun, ia kini menyuarakan kekhawatiran mendalam. Media-media Iran sebelumnya melaporkan bahwa 13 orang tewas dan hampir 100 lainnya terluka ketika sebuah jembatan yang sedang dibangun di Karaj dibom pada Kamis, menambah daftar panjang penderitaan sipil. Arman, yang tinggal sekitar satu kilometer dari pembangkit listrik terbesar di Karaj, menegaskan, “Mereka pasti punya alasan kuat untuk target-target itu. Tapi saya bersumpah, menghantam pembangkit listrik hanya akan melumpuhkan negara. Itu justru menguntungkan Republik Islam. Jika mereka menghantamnya, yang tersisa hanyalah penderitaan bagi saya.”
Senada, Radin, juga berusia 20-an dan tinggal di Teheran, menambahkan perspektif lain. “Jika menyerang target di negara ini bisa menjatuhkan Republik Islam, saya tidak keberatan,” ujarnya. “Karena jika Republik Islam bertahan dari perang ini, dia akan bertahan selamanya.” Pernyataan ini mencerminkan dilema sebagian warga yang menginginkan perubahan politik drastis, bahkan jika itu berarti risiko konflik yang lebih besar.

Kekhawatiran akan dampak ekonomi perang menjadi isu sentral bagi banyak warga Iran yang dilansir dari BBC. Gejolak ekonomi yang diakibatkan oleh konflik ini telah terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka, menciptakan ketidakpastian dan tekanan finansial yang berat.
Bahman, seorang pemuda berusia 20-an yang menetap di Teheran, mengutarakan kekhawatirannya. “Saya pikir Trump takut dengan apa yang akan dilakukan Iran,” katanya. “Saya yakin Iran akan menyerang ke seluruh wilayah sebagai balasan.” Lebih lanjut, ia menggambarkan dampak personalnya: “Bagi saya pribadi, saya sudah tidak punya rutinitas lagi, bahkan tidak bisa bekerja dengan kondisi sekarang karena saya seorang insinyur pengawas bangunan dan tidak ada yang membangun apa pun saat ini. Beberapa perusahaan kecil sudah mulai memberhentikan karyawan mereka.” Situasi ini melukiskan gambaran suram tentang pasar tenaga kerja yang lumpuh dan prospek masa depan yang tidak menentu.
Jamshid, pria berusia 30-an yang mengelola sebuah restoran di Teheran, merasakan langsung pukulan ekonomi ini. Bisnisnya “tidak sama lagi seperti sebelum perang.” Dengan pesimisme, ia memperkirakan restorannya “bisa bertahan sebulan, mungkin dua bulan paling lama.” Beban sewa yang mencapai 200 juta toman per bulan (sekitar $1.270; £960; €1.100) menjadi sangat memberatkan, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata gaji bulanan yang hanya berkisar $200 hingga $300. Kesenjangan ini menunjukkan tekanan finansial yang luar biasa terhadap pengusaha kecil di tengah krisis.
Selain itu, tantangan lain yang dihadapi warga adalah akses internet. Mayoritas dari mereka yang dilansir dari BBC masih harus membayar harga tinggi untuk internet. Jalur utama untuk konektivitas adalah melalui berbagi koneksi dari mereka yang memiliki sistem internet satelit Starlink. Namun, penggunaan atau kepemilikan Starlink di Iran dapat berujung pada hukuman hingga dua tahun penjara. Pihak berwenang dilaporkan terus memburu perangkat parabola untuk memutus akses ini, memperketat kontrol informasi dan membatasi kebebasan berekspresi warga.
Bahkan, akses internet pun diperdagangkan melalui aplikasi pesan Telegram, dengan harga sekitar $6 untuk 1GB data. Harga ini sangat mahal bagi kebanyakan warga Iran, menunjukkan betapa berharganya dan sulitnya mendapatkan koneksi di tengah pemadaman luas yang diberlakukan pemerintah.
Kondisi serba sulit ini berdampak besar pada kesehatan mental warga. Marjan, seorang pemuda berusia 20-an dari Teheran, mengakui, “Saya merasa seperti kehilangan akal.” Ia bahkan tidak memperpanjang paket internet mahal yang sudah dibayarnya. “Apa gunanya kalau Trump menghantam infrastruktur energi?” tanyanya penuh tekanan. “Saya tertekan. Orang tua saya juga… mereka bertengkar soal hal-hal kecil sekarang. Saya terus meyakinkan diri bahwa saya baik-baik saja, tapi hari ini saya sudah tiga kali mengalami kehancuran mental.” Kisah Marjan menjadi gambaran pilu tentang beban psikologis yang harus ditanggung masyarakat di tengah ketidakpastian dan ancaman perang yang terus membayangi.










