
DIREKTUR Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan konflik di Timur Tengah telah menyebabkan kesulitan besar di seluruh dunia. “Ekonomi dunia yang tangguh sedang kembali diuji oleh perang yang kini sedang mendera Timur Tengah,” katanya, mengacu pada gencatan senjata yang dicapai antara AS dan Iran, seperti dikutip dari Antara.
Salah satu dampak negatif utama akibat perang tersebut adalah guncangan pasokan global minyak mentah. Saat ini, kata Georgieva, distribusi minyak turun hingga 13 persen dan gas alam cair (LNG) sebesar 20 persen per hari.
Pada saat yang sama, ia memperkirakan gangguan pasokan tersebut menyebabkan penutupan kilang serta krisis bahan bakar dan pangan. “Sebagai peringatan, karena ini adalah guncangan negatif terhadap pasokan, penyesuaian permintaan tidak dapat dihindari,” ujar Georgieva.
Sebelumnya, pada Selasa lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Hal ini ditanggapi oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menyatakan Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan LNG global—akan dibuka kembali, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Adapun gencatan senjata ini merupakan perkembangan positif setelah konflik terbaru di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sebagai balasan, Iran kemudian menyerang wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah serta membatasi lalu lintas di Selat Hormuz—yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga energi secara global.
Pilihan Editor: Hitung-hitungan Beban Fiskal Menahan Harga Bahan Bakar










