Jakarta, IDN Times – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan rerata valuasi saham di Indonesia sekarang lebih murah dibandingkan dengan bursa saham di kawasan regional. Hal tersebut terjadi sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menjauh dari level tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH) pada awal 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menjelaskan, kondisi tersebut terjadi imbas dinamika global saat ini. Adapun Price to Earning Ratio (PER) saham ini disebutnya ada pada level 16 kali.

“IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara peer regional, tingkat rata-rata PER saham-saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa-bursa lainnya, sekarang tingkatnya di level 16 kali,” tutur Hasan dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (13/5/2026).

1. Saatnya investor pasar modal masuk

Kondisi yang terjadi saat ini membuat Hasan menilai sebagai sebuah peuang bagi investor untuk mulai masuk ke pasar modal. Meski begitu, dia mengimbau untuk tetap selektif dalam memilih saham yang punya prospek panjang.

“Kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja dari waktu-waktu,” kata Hasan.

2. IHSG alami tekanan hari ini

Untuk diketahui, IHSG kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari ini. IHSG dibuka melemah 94,96 poin (-1,38 persen) ke level 6.763,94 pada perdagangan hari ini dan terpantau masih ada di zona merah hingga siang ini.

IHSG sempat menyentuh ATH pada pertengahan Januari 2026. Meski begitu, OJK menilai tekanan yang terjadi hari ini hanya jangka pendek imbas pengumuman rebalancing MSCI.

“Hari ini kalau kita cermati tadi sampai pukul 10 terkonfirmasi ada penurunan indeks, tapi dengan tingkat aktivitas yang kami nilai masih dalam batasan wajar dan sebagai konsekuesi reaksi rebalancing,” kata Hasan.

3. Enam saham didepak dari MSCI Global Index

Sebelumnya, MSCI mengumumkan tinjauan indeks global untuk Mei 2026. Dalam pengumuman anyarnya, MSCI menyingkirkan enam saham domestik dari MSCI Global Standard Index dan tidak ada saham baru yang masuk.

Adapun keenam saham yang terdepak dari MSCI Global Standard Index tersebut, yakni PT Amman Mineral International Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).

Di sisi lain, MSCI juga mengeluarkan 13 saham domestik dari daftar MSCI Global Small Cap Indexes dan memasukkan satu saham ke dalam indeks tersebut. Saham baru yang masuk indeks tersebut adalah PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).

Berikut daftar 13 saham yang ditendang dari MSCI Global Small Cap Index:

  1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

  2. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

  3. PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)

  4. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)

  5. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)

  6. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)

  7. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)

  8. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)

  9. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)

  10. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)

  11. PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)

  12. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)

  13. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)

Seluruh perubahan yang disampaikan MSCI tersebut akan efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.

MSCI Tendang 18 Saham Indonesia dari Indeks, Ini Daftarnya 3 Saham Orang Terkaya di RI Didepak dari MSCI Global Standard Index IHSG Anjlok Terdampak Rebalancing MSCI, Begini Respons OJK

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.