kalselbabusalam.com JAKARTA. . Industri aset keuangan digital di Indonesia terus menunjukkan perkembangan, baik dari sisi jumlah investor maupun penguatan infrastruktur pasar.

Di tengah meningkatnya partisipasi investor kripto dan semakin matangnya kerangka regulasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaku industri mulai memperkuat posisi mereka dalam ekosistem perdagangan aset digital nasional.

Terbaru, ICEx Group mengumumkan, PT Multikripto Exchange Indonesia (OSL Indonesia) resmi menyelesaikan proses transisi dan efektif bergabung ke dalam ekosistem ICEx Group. Sebelumnya, OSL Indonesia merupakan anggota CFX.

Sebagai organisasi self-regulatory (SRO) pasar aset keuangan digital berlisensi OJK serta ekosistem infrastruktur aset keuangan digital terintegrasi pertama di Indonesia, ICEx Group menyatakan terus berkomitmen mendukung pengembangan pasar yang aman, transparan, dan patuh terhadap regulasi.

OSL Indonesia merupakan salah satu dari sebelas Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) pendiri sekaligus pemegang saham ICEx Group.

Transisi ini menjadi bagian dari proses onboarding bertahap seluruh PAKD pendiri ke dalam ekosistem ICEx yang dilakukan melalui koordinasi dengan CFX guna memastikan keberlangsungan layanan bagi investor dan pelaku pasar.

Perkembangan ini terjadi di tengah momentum pertumbuhan industri aset keuangan digital Indonesia. Berdasarkan data OJK, jumlah investor aset kripto di Indonesia meningkat dari sekitar 4 juta pada 2020 menjadi lebih dari 21,37 juta per Maret 2026.

Jumlah tersebut  telah melampaui investor pasar modal. Sementara itu, nilai transaksi spot aset kripto bulanan mencapai Rp 22,24 triliun pada Maret 2026.

Transaksi Kripto RI Turun Maret 2026, Dipicu Sentimen Global dan Domestik

ICEx Group sendiri beroperasi sebagai infrastruktur aset keuangan digital terintegrasi di bawah pengawasan OJK yang terdiri dari tiga entitas, yakni Indonesia Crypto Exchange (ICEx) sebagai bursa aset keuangan digital, Crypto Asset Clearing International (CACI) sebagai lembaga kliring, serta International Crypto Custodian (ICC) sebagai pengelola tempat penyimpanan aset digital.

CEO ICEx Group, Kai Hamza, mengatakan pihaknya menyambut baik bergabungnya OSL Indonesia ke dalam ekosistem ICEx. “Seiring berkembangnya pasar aset keuangan digital Indonesia, fokus kami tetap pada pembangunan infrastruktur yang menjunjung tinggi integritas, transparansi, dan ketahanan jangka panjang bagi seluruh pelaku pasar,” ujar Kai, dalam keterangannya, Selasa (12/5). 

Sementara itu, Head of Marketing OSL Indonesia, Vincent Salaka menyebut, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan di Indonesia.

“Transisi ini mencerminkan fokus kami untuk bertumbuh dalam ekosistem yang mendukung kejelasan regulasi dan kesiapan jangka panjang. Kami melihat peran kami bukan hanya sebagai pelaku pasar, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem aset keuangan digital yang lebih kuat dan inklusif di Indonesia,” kata Vincent.

Dari sisi grup global, Executive Director dan Chief Executive Officer OSL Group, Kevin Cui, menilai Indonesia menjadi salah satu pasar strategis bagi ekspansi perusahaan.

“Dengan lebih dari 21 juta investor aset kripto dan kerangka regulasi yang semakin matang di bawah pengawasan OJK, Indonesia merepresentasikan kombinasi antara skala pasar dan kejelasan regulasi. Penyelesaian transisi OSL Indonesia ke ekosistem ICEx mencerminkan keyakinan kami terhadap arah pertumbuhan pasar Indonesia,” ujarnya.

Ke depan, partisipasi OSL Indonesia dalam ekosistem ICEx diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar, memperluas partisipasi industri, serta memperkuat struktur pasar aset keuangan digital yang lebih terintegrasi dan tangguh.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.