Ekspor produk sawit meningkat 9,51 persen pada 2025KalselBabusalam.com melaporkan bahwa proyeksi ekspor produk sawit Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan, diperkirakan mencapai total 32,343 juta ton. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 9,51 persen dibandingkan volume ekspor tahun 2024 yang tercatat 29,535 juta ton. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melalui Sekretaris Jenderal Hadi Sugeng Wahyudi, menegaskan bahwa lonjakan terbesar didominasi oleh produk minyak sawit olahan.

Menurut Hadi Sugeng Wahyudi, peningkatan ekspor produk minyak sawit olahan akan menjadi motor utama pertumbuhan. Volume ekspornya diprediksi melonjak dari 20,451 juta ton pada tahun sebelumnya menjadi 22,727 juta ton. Selain itu, ekspor minyak olahan inti sawit juga mengalami kenaikan substansial, dari 1,262 juta ton menjadi 1,560 juta ton. Data yang dirilis GAPKI pada konferensi pers Kinerja Industri Sawit 2025 dan Prospek 2026 di Shangri-La Jakarta, Kamis petang, 12 Maret 2026, juga menunjukkan pertumbuhan ekspor oleokimia menjadi 5,076 juta ton dari 4,796 juta ton. Sementara itu, ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO), meskipun tidak setinggi produk olahan, tetap menunjukkan tren positif dengan kenaikan tipis dari 2,916 juta ton menjadi 2,964 juta ton.

Tren positif ekspor minyak sawit ini tidak hanya terbatas pada volume, tetapi juga tercermin dari nilai ekspor yang fantastis. Pada tahun 2025, total nilai ekspor produk sawit diperkirakan mencapai US$ 35,87 miliar, setara dengan sekitar Rp 590 triliun. Angka ini melonjak 29,23 persen dibandingkan nilai ekspor tahun 2024 yang sebesar US$ 27,76 miliar, atau sekitar Rp 440 triliun. Hadi menjelaskan bahwa kenaikan nilai ekspor yang mengesankan ini didorong oleh dua faktor utama: peningkatan volume dan kenaikan harga rata-rata komoditas. Harga rata-rata cif Rotterdam untuk tahun 2025 diproyeksikan mencapai US$ 1.221 per ton, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tahun 2024 yang berada di angka US$ 1.084 per ton.

Secara geografis, pertumbuhan ekspor pada tahun 2025 menunjukkan pergeseran pasar yang menarik. Pasar Afrika memimpin dengan kenaikan sebesar 991 ribu ton, diikuti oleh China dengan 644 ribu ton, Malaysia 516 ribu ton, Bangladesh 503 ribu ton, dan Pakistan 214 ribu ton. Namun, tidak semua pasar menunjukkan tren serupa; beberapa negara justru mengalami penurunan ekspor. India mencatat penurunan sebesar 859 ribu ton, disusul oleh Uni Eropa dengan 97 ribu ton, dan Amerika Serikat sebesar 15 ribu ton. Perubahan dinamika pasar ini menunjukkan perlunya strategi adaptif bagi industri sawit Indonesia.

Perkembangan positif dalam produksi, konsumsi, dan ekspor minyak sawit ini berdampak pada tingkat stok akhir. GAPKI mencatat, stok akhir CPO dan minyak inti sawit (PKO) pada tahun 2025 diperkirakan sebesar 2,068 juta ton. Angka ini menandakan penurunan sebesar 19,79 persen dibandingkan stok akhir tahun 2024 yang mencapai 2,577 juta ton, menunjukkan efisiensi dalam distribusi dan permintaan pasar yang kuat.

Pilihan Editor: Mengapa Area Konsesi Hutan Jadi Perkebunan Sawit