
KalselBabusalam.com — Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menunjukkan optimisme terhadap geliat pasar modal domestik. Terungkap bahwa sebanyak 15 perusahaan antre untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) hingga Agustus 2026 mendatang. Angka ini mencerminkan minat yang kuat dari berbagai entitas bisnis untuk melantai di bursa saham, memberikan sinyal positif bagi iklim investasi Indonesia.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa pipeline IPO yang ada saat ini masih sangat solid, meskipun kondisi pasar saham domestik sempat mengalami gejolak. “Jadi, ke-15 perusahaan itu adalah entitas yang sangat berpotensi untuk tercatat di Bursa Efek Indonesia hingga bulan Agustus 2026,” ujar Nyoman Yetna kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta, dilansir dari KalselBabusalam.com.
Perusahaan-perusahaan yang tengah dalam proses antrean IPO ini berasal dari beragam sektor industri, yang menunjukkan diversifikasi ekonomi Indonesia. Sektor consumer cyclical dan consumer non-cyclical menjadi penyumbang terbesar dalam daftar tersebut, mencerminkan kekuatan daya beli masyarakat serta kebutuhan pokok yang stabil. “Jika kita cermati sektornya, yang paling mendominasi adalah di consumer cyclical, diikuti oleh consumer non-cyclical,” jelas Nyoman.
Lebih lanjut, Nyoman Yetna merinci beberapa sektor menarik lainnya yang turut meramaikan daftar antrean IPO. Selain sektor konsumsi, terdapat pula perusahaan dari sektor infrastruktur, teknologi, dan bahkan healthcare. “Kemudian ada infrastruktur, ada teknologi, healthcare. Nah, ini kan menarik juga ya healthcare,” tambahnya, menyoroti potensi pertumbuhan di sektor kesehatan.
Yang tak kalah menarik, Nyoman juga membocorkan kehadiran perusahaan dari sektor hiburan atau entertainment yang bersiap untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal. “Multi-sektor ada entertainment, kan. Menarik nih entertainment,” ungkapnya dengan antusias. Namun, dia menegaskan bahwa perusahaan hiburan yang dimaksud bukanlah berasal dari sektor rumah produksi atau production house, memberikan sedikit petunjuk tentang jenis bisnis di balik entitas tersebut.
Dari total 15 perusahaan dalam pipeline IPO tersebut, mayoritas merupakan perusahaan dengan skala besar. Nyoman Yetna memaparkan komposisinya, di mana 11 perusahaan adalah entitas besar, sementara empat lainnya merupakan perusahaan menengah. “Artinya, tren yang saat ini ada adalah perusahaan-perusahaan yang masuk relatif dengan size yang besar dan menengah,” jelasnya, mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang substansial semakin tertarik untuk memasuki pasar modal.
Di samping itu, BEI juga terus aktif mendorong peningkatan porsi saham publik atau free float bagi perusahaan-perusahaan jumbo yang telah tercatat di pasar modal. Ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan memberikan kesempatan lebih besar bagi investor ritel maupun institusi untuk berpartisipasi. “Untuk perusahaan-perusahaan yang market cap-nya di atas Rp 5 triliun ke atas sampai dengan Maret nanti di 2027 itu adalah waktu yang terus berjalan,” terang Nyoman.
Nyoman berharap peningkatan free float ini sudah akan terlihat nyata pada tahun ini, seiring dengan implementasi aturan baru yang telah dijalankan oleh BEI. “Kami harapkan di tahun ini sudah ada peningkatan dari sisi jumlah free float. Jadi, kalau teman-teman melihat di sisi likuiditas itu sudah berjalan, peraturan kita sudah berlakukan dan argo sudah mulai berjalan,” pungkasnya, menunjukkan keyakinan BEI terhadap dampak positif regulasi baru ini.
Terkait jadwal IPO, Nyoman menjelaskan bahwa proses pencatatan saham akan berlangsung secara bertahap. Hal ini dikarenakan laporan keuangan masing-masing calon emiten memiliki tenggat waktu yang berbeda, sehingga proses peninjauan dan persetujuan juga akan menyesuaikan. “Jadi, kalau dari laporan keuangannya itu bervariasi, ada yang due-nya di bulan Juli, ada yang due-nya di Agustus,” imbuhnya, menandakan bahwa investor dapat mengharapkan gelombang IPO yang berkesinambungan.












