TANAH SIANG, KalselBabusalam.com – Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya dari Daerah Pemilihan (Dapil) II, Kabik Amaz Jasikha, S.E., menegaskan komitmennya untuk mengawal aspirasi kaum perempuan dan pelaku UMKM pedesaan agar masuk dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hal itu disampaikannya di hadapan warga saat menggelar Kegiatan Reses Masa Sidang di Desa Kolam, Kecamatan Tanah Siang, Rabu, 1 Juli 2026.
Dalam dialog langsung yang berlangsung di desa pesisir Sungai Barito tersebut, isu penguatan ekonomi domestik dan infrastruktur dasar mendominasi jalannya serap aspirasi. Kabik menegaskan bahwa turun ke lapangan bukan sekadar agenda seremonial parlemen, melainkan langkah krusial untuk menyusun kebijakan yang berpihak pada akar rumput.
“Kegiatan reses hari ini di Desa Kolam adalah untuk memastikan suara ibu-ibu, pelaku usaha kecil, dan masyarakat dapil II didengar langsung. Aspirasi ini akan kami bawa ke parlemen sebagai bahan pokok-pokok pikiran DPRD,” ujar politikus senior tersebut kepada media.
Berdasarkan jalannya reses, kelompok ibu-ibu dan pelaku UMKM rumah tangga di Desa Kolam mengeluhkan sejumlah persoalan klasik yang menghambat produktivitas mereka. Masalah utama yang mengemuka meliputi sulitnya akses permodalan usaha, fluktuasi harga bahan pokok, keterbatasan infrastruktur desa, hingga belum optimalnya layanan kesehatan dan pendidikan.
Mendengar keluhan tersebut, Kabik Jasikha menyatakan bahwa seluruh masukan ini tidak akan sekadar menjadi catatan di atas kertas. Pihaknya akan melakukan konsolidasi dan harmonisasi data aspirasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Murung Raya.
“Prinsipnya: mendengar, mencatat, memperjuangkan. Kami ingin kebijakan daerah berpihak pada perempuan, UMKM, dan desa-desa produktif seperti Kolam,” tegas Kabik.
Langkah turun langsung ke desa-desa pedalaman ini dinilai memperkuat fungsi pengawasan dan penganggaran legislatif. Melalui pola demokrasi partisipatif, DPRD Murung Raya berupaya memastikan arah pembangunan di Bumi Tana Malai Tolung Lingu benar-benar berangkat dari kebutuhan riil masyarakat bawah, bukan sekadar proyek top-down.
Dalam dokumentasi kegiatan, dialog interaktif ini ditutup dengan sesi foto bersama antara Kabik Amaz Jasikha, tokoh masyarakat, dan kelompok ibu-ibu Desa Kolam di bawah spanduk resmi kedewanan. Seluruh poin tuntutan warga kini resmi menjadi modal politik bagi fraksi di parlemen untuk dikawal dalam ketok palu anggaran daerah mendatang.
Reporter: Suara Akar Rumput
Editor: tim




