
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa ia memahami kebijakan fiskal dengan baik setelah belajar dari para ahli terbaik dunia. Atas dasar itu, ia menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan batas defisit anggaran melampaui 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sebagaimana dispekulasikan sejumlah pihak, termasuk analis dari Citibank.
“I am the minister, not him. I understand fiscal policy very, very well. I have learned from the best experts around the world on fiscal policy,” kata Purbaya dalam forum Indonesia Economic Summit di Shangri-La Hotel Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Purbaya mengatakan defisit APBN 2025 diperkirakan akan berakhir di kisaran 2,88 persen. Angka tersebut mendekati batas maksimal, setelah pada tahun sebelumnya defisit sempat didorong ke level sekitar 3 persen.
Ia menjelaskan dorongan defisit mendekati batas tersebut dilakukan karena perekonomian mengalami perlambatan sejak awal tahun, bahkan menurut dia sejak 2024. Pada periode itu, arah perekonomian dinilai sedang menurun sehingga pemerintah perlu mengambil kebijakan fiskal yang bersifat kontra-siklikal.
Menurut Purbaya, pemerintah merespons kondisi tersebut dengan memperluas belanja fiskal dan memberikan stimulus untuk mencegah perlambatan berkembang menjadi resesi. Ia menyebut upaya tersebut mulai menunjukkan hasil pada September, ketika arah perekonomian berhasil dibalik dan perbaikan berlanjut pada Oktober, November, dan seterusnya.
Meski mendorong defisit mendekati ambang batas, Purbaya menegaskan pemerintah tetap menjaga agar defisit tidak melampaui level 3 persen. Ia menilai keberhasilan membalikkan arah perekonomian sekaligus menjaga disiplin fiskal merupakan hasil dari pengelolaan kebijakan fiskal yang terukur.
Pemerintah, kata Purbaya, tetap akan menggunakan anggaran negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun tetap dalam koridor kehati-hatian fiskal. Ia menyebut pemerintah memiliki instrumen kebijakan lain di luar perluasan defisit untuk mempercepat pertumbuhan.
Dia juga membandingkan posisi fiskal Indonesia dengan sejumlah negara lain. Menurut dia, rasio defisit terhadap PDB di Amerika Serikat berada di kisaran 5 persen, Jepang sekitar 4 persen, dan negara-negara Eropa berkisar 4 hingga 5 persen. Dalam konteks tersebut, ia menilai kebijakan fiskal Indonesia relatif lebih terjaga.
Menurut dia, meskipun menjalankan kebijakan fiskal yang lebih konservatif dibandingkan sejumlah negara maju, pemerintah tetap mampu membalikkan arah perekonomian dan menjaga stabilitas fiskal secara bersamaan.
Pilihan Editor: Risiko Sistemik Jika Pasar Modal Diintervensi











