
KalselBabusalam.com – Indeks dolar AS (DXY) yang kian melemah, menyentuh kisaran 98, telah memicu penguatan signifikan pada sejumlah mata uang utama dunia. Pergeseran sentimen global ini membuat mata uang utama seperti yuan China (CNY), yen Jepang (JPY), dan franc Swiss (CHF) terpantau mengukir penguatan substansial terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Trading Economics pukul 16.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) tercatat merosot tipis 0,12% pada perdagangan harian, mencapai level 98,098. Namun, dalam rentang sebulan terakhir, pelemahannya jauh lebih signifikan, yakni sebesar 1,99%. Fenomena ini sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang utama terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY, misalnya, tercatat melemah 0,76% secara bulanan menuju level 158,62. Sementara itu, USD/CNY juga menunjukkan penurunan sebesar 1,23% dalam sebulan terakhir ke posisi 6,81. Adapun USD/CHF mengalami pelemahan paling dalam di antara ketiganya, yakni sebesar 1,44% secara bulanan ke level 0,78.
Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap dolar AS saat ini bersumber dari ekspektasi pasar akan kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih akomodatif, seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik global.
Indeks Dolar AS Loyo, Yen Jadi Primadona Valas Safe Haven
“Pelemahan US Dollar Index (DXY) ke area 98 mencerminkan tekanan terhadap dolar AS di tengah ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif dari Federal Reserve serta membaiknya sentimen geopolitik,” jelas Amru, dilansir dari Kontan pada Jumat (17/4/2026). Situasi ini membuka ruang bagi mata uang lain seperti CNY, JPY, dan CHF untuk menguat, meskipun ia menambahkan bahwa penguatan tersebut cenderung terbatas.
Ia menjelaskan, yuan China (CNY) menunjukkan stabilitas relatif dengan kecenderungan penguatan yang terbatas. Hal ini tidak terlepas dari peran aktif otoritas moneter China yang berupaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menahan penguatan berlebihan demi kepentingan ekonomi domestik.
Di sisi lain, yen Jepang (JPY) mencatatkan penguatan yang lebih signifikan. Menurut Amru, dorongan utama datang dari potensi normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan serta spekulasi pasar mengenai intervensi yang dilakukan di pasar valuta asing.
Sementara itu, franc Swiss (CHF) tetap kokoh sebagai aset safe haven pilihan di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Sikap hati-hati dan independen bank sentral Swiss turut menopang kekuatan mata uang ini, menjadikannya menarik bagi investor.
Indeks Dolar Melemah, Begini Prospek Valas Utama
Ke depan, Amru menilai ketiga mata uang tersebut masih berpotensi melanjutkan tren penguatan terhadap dolar AS. Namun, pergerakannya diperkirakan tidak akan terlalu agresif dan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global serta arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank-bank sentral utama dunia.
Dari sisi strategi investasi, Amru menyarankan investor untuk mulai melakukan akumulasi secara selektif dan berbasis momentum. Ia menilai kondisi pasar saat ini belum menjadi waktu yang tepat untuk mengambil posisi agresif yang berisiko tinggi.
“JPY dan CHF menarik sebagai instrumen lindung nilai saat volatilitas meningkat, sedangkan CNY lebih cocok untuk strategi stabilitas jangka menengah karena dikendalikan oleh otoritas,” jelasnya. Adapun dari sisi prospek, yen Jepang dinilai memiliki potensi paling menarik dibandingkan dua mata uang lainnya, dengan kombinasi faktor intervensi dan peluang perubahan kebijakan sebagai katalis utama penguatan JPY ke depan.
Dipengaruhi Sentimen Geopolitik, Begini Prospek Pergerakan Valas Komoditas
Untuk semester I 2026, Amru memproyeksikan pergerakan nilai tukar ketiga mata uang utama tersebut akan berada dalam kisaran terbatas. Ia memperkirakan USD/CNY akan bergerak di level 6,80-7,20, USD/JPY di kisaran 159,00-160,50, serta USD/CHF di rentang 0,78-0,80.
“Kisaran tersebut mencerminkan pelemahan dolar AS yang masih terbatas, di tengah upaya stabilisasi oleh bank sentral dan ketidakpastian global yang masih menjadi faktor utama penggerak pasar,” tutup Amru.











