Rupiah Melemah di Awal Perdagangan, Dipengaruhi Faktor Eksternal dan Internal

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Kamis (10/7/2025). Rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.257,5 per dolar AS. Penurunan ini mencerminkan tekanan yang berasal dari berbagai faktor eksternal maupun internal.

Di sisi lain, dolar AS terpantau menguat signifikan. Dari data yang diperoleh, indeks dolar AS turun sebesar 0,23% ke level 97,33. Sementara itu, mata uang negara-negara Asia seperti yuan China dan yen Jepang mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,05% dan 0,33%. Ringgit Malaysia serta won Korea juga menguat dengan kenaikan sebesar 0,09% dan 0,11%.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Ahli forex Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada hari ini. Namun, ada kemungkinan besar bahwa rupiah akan ditutup melemah di kisaran Rp16.240 hingga Rp16.300 per dolar AS.

Menurutnya, beberapa faktor utama memengaruhi pergerakan rupiah. Dari sisi eksternal, investor cenderung waspada menantikan pengumuman tarif perdagangan lebih lanjut dari Presiden AS Donald Trump. Surat tarif yang dikirimkan oleh Trump berisi informasi bahwa bea masuk yang lebih tinggi akan berlaku mulai 1 Agustus mendatang untuk 14 negara. Dari 14 negara tersebut, sembilan di antaranya berada di Asia. Tarif yang diberlakukan mencapai 25% untuk barang dari Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, negara-negara kecil bisa menghadapi tarif hingga 40%.

Selain itu, Trump juga akan memberlakukan tarif 50% untuk lembaga impor serta menerapkan bea masuk yang telah lama dijanjikan untuk semikonduktor dan farmasi.

Fokus pada Risalah Rapat The Fed

Sementara itu, pelaku pasar saat ini sedang memperhatikan risalah rapat The Fed yang dirilis pada dini hari pukul 01.00 WIB. Laporan ini akan menjelaskan alasan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%-4,50% dalam pertemuan bulan Juni lalu.

Dari Asia, data inflasi konsumen China menunjukkan sedikit peningkatan pada Juni 2025. Kenaikan ini didorong oleh subsidi pemerintah serta meredanya tensi dalam perang dagang dengan AS, yang memberikan dorongan ringan terhadap belanja rumah tangga.

Dampak dari Dalam Negeri

Dari sisi dalam negeri, hasil survei konsumen terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap pasar tenaga kerja. Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja semakin pesimis, disertai dengan penurunan keyakinan terhadap ekspektasi penghasilan rumah tangga.

Ibrahim menambahkan bahwa kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih banyak di masa depan serta meningkatnya jumlah pengangguran.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) per Juni 2025 tercatat sebesar 94,1, yang berada di bawah ambang optimisme (100). Angka ini juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 95,7.

Ekspektasi penghasilan yang memburuk turut memperkuat sinyal bahwa masyarakat tidak melihat adanya perbaikan signifikan dalam prospek ekonomi keluarga. Hal ini semakin diperjelas dengan perubahan perilaku keuangan rumah tangga.

Kondisi ini mengindikasikan dua kemungkinan. Pertama, konsumsi meningkat secara terpaksa untuk memenuhi kebutuhan dasar di tengah pendapatan yang stagnan. Kedua, penurunan tabungan menunjukkan ruang fiskal rumah tangga yang menipis, hingga menyentuh dana darurat atau bahkan berutang untuk menutupi kebutuhan.

Tinggalkan Balasan