
BANJARBARU — Rumah roboh beruntun di sebuah kompleks perumahan memantik keresahan warga. Setelah bangunan yang telah berdiri sekitar 13 tahun ambruk, warga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait membongkar persoalan konstruksi melalui audit menyeluruh.
Yusuf, warga setempat, menilai kondisi tanah di kawasan tersebut patut diperiksa. Meski musim kemarau, air disebut masih menggenangi bagian bawah bangunan.
“Perumahan ini sudah 13 tahun berdiri. Walaupun musim kemarau, di bawah kolomnya masih banyak air. Jadi, robohnya rumah itu bukan karena galamnya patah. Kalau galam masih di dalam air, kekuatannya masih kuat,” ujar Yusuf.
Ia menduga persoalan justru berada pada konstruksi pondasi yang tidak maksimal, terutama jumlah cerucuk galam yang digunakan saat pembangunan.
“Saya menduga kemungkinan rumahnya kurang cerucuk galam. Dulu waktu developer membangun rumah saya, saya perhatikan cerucuknya. Karena itu kekuatan pondasinya masih kuat. Saya juga menambah suai,” katanya.
Rentetan rumah roboh membuat warga mulai mempertanyakan kualitas konstruksi perumahan tersebut. Kekhawatiran bukan lagi sekadar soal satu bangunan ambruk, melainkan potensi keselamatan penghuni rumah lain.
Warga meminta pemerintah turun tangan dan tidak menunggu korban berikutnya. Audit konstruksi dinilai mendesak untuk memastikan kondisi pondasi, struktur bangunan, serta karakteristik tanah di seluruh kompleks.
Jika ditemukan persoalan konstruksi, warga berharap pemerintah mengambil tindakan tegas sebelum kerusakan berubah menjadi bencana yang lebih besar.



