Outlook tak berubah, dampak peringatan S&P ke rupiah dinilai terbatas
KalselBabusalam.com, JAKARTA – Lembaga pemeringkat global S&P Global baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi peningkatan risiko profil kredit Indonesia. Peringatan ini sontak berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah, yang tercatat melemah signifikan sepanjang hari Jumat, 27 Februari 2026.

Menurut Analis Sovereign S&P, Rain Yin, salah satu kekhawatiran utama adalah potensi pembayaran bunga utang pemerintah yang melampaui ambang batas krusial 15% dari total pendapatan negara pada tahun lalu. Rasio ini, yang selama bertahun-tahun berhasil dijaga Indonesia sebagai batas aman, kini menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang perlu diwaspadai.

S&P Global menegaskan bahwa jika rasio pembayaran bunga utang tersebut bertahan di atas 15% secara berkelanjutan, ada kemungkinan besar lembaga tersebut akan mengeluarkan pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat kredit Indonesia. Hal ini tentu menjadi sorotan penting bagi stabilitas ekonomi nasional dan kepercayaan investor.

Kekhawatiran pasar pun terlihat jelas dengan melemahnya nilai tukar rupiah di pasar spot. Pada hari Jumat (27/2/2026), mata uang Garuda tercatat melemah 0,17% ke level Rp 16.787 per dolar Amerika Serikat (AS), angka yang lebih dalam dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.759 per dolar AS.

Menanggapi situasi ini, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah akibat peringatan dari S&P Global Ratings kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, hal ini dikarenakan lembaga pemeringkat tersebut belum mengubah outlook terhadap Indonesia.

“Selama S&P tidak mengeluarkan perubahan outlook rating kita, ataupun juga S&P tidak mengeluarkan perubahan rating kita, saya rasa sih dampaknya masih relatif minim,” ujar Myrdal, dilansir dari Kontan, Jumat (27/2/2026). Ia lebih lanjut menerangkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi pada hari tersebut sebagian besar disebabkan oleh permintaan dolar AS yang bersifat musiman di akhir bulan.

Permintaan dolar AS pada akhir bulan cenderung meningkat signifikan, didorong oleh kebutuhan pembayaran impor dan pelunasan utang luar negeri. Fenomena ini menciptakan tekanan alami terhadap rupiah. “Pelemahan diakibatkan permintaan akhir bulan, jadi ada dampak musiman atau dampak rutin terkait dengan permintaan dolar yang tinggi,” jelasnya.

Myrdal juga menambahkan, kecil kemungkinan rupiah bisa menguat secara signifikan dalam waktu dekat. Permintaan dolar AS dan valuta asing (valas) diperkirakan masih akan tetap tinggi hingga bulan Juli mendatang. Selain itu, minimnya likuiditas pasar saat periode libur panjang juga turut mendorong investor untuk menarik dananya dari pasar domestik, menambah tekanan pada rupiah.

“Investor asing yang berada di sini juga pasti akan mengonversikan dolar yang ada di Indonesia untuk dipindahkan ke negara asal mereka. Jadi, dananya dipindahkan dari sini ke negara mereka,” pungkas Myrdal, menjelaskan lebih lanjut dinamika arus modal.