
KEPALA Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia sedang mengalami pergerakan yang dinamis dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut sejalan dengan tekanan geopolitik serta situasi domestik dan global yang masih mengalami eskalasi. “Kalau kita lihat per 1 April 2026 kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) ada di level 7.184,44 atau telah mengalami koreksi sebanyak 16,91 persen secara year to date,” kata Hasan di Kantor Bursa Efek Indonesia, Kamis, 2 April 2026.
Menurut dia, kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami hampir seluruh bursa di kawasan regional maupun global. Hal tersebut mencerminkan dinamika eksternal, bukan semata respons terhadap kondisi fundamental domestik.
Di tengah situasi tersebut, kata dia, OJK terus mencermati perkembangan pasar dari hari ke hari untuk mengukur tingkat reaksi investor. Hasan memastikan sejauh ini resiliensi atau daya tahan pasar domestik masih terjaga.
Dia menjelaskan bahwa aktivitas transaksi saham, misalnya, tetap menunjukkan angka yang solid. Sepanjang Maret 2026, rata-rata nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp 20,66 triliun. Likuiditas pasar juga dinilai stabil, tercermin dari rentang spread bid dan ask yang berada di level relatif baik, yakni 1,55 kali.
Industri reksadana juga masih mencatatkan pertumbuhan di tengah kondisi pasar yang bergejolak. Nilai aktiva bersih (NAB) reksadana tercatat mencapai Rp 695,71 triliun atau naik 3,02 persen secara year to date.
Selain itu, pasar modal tetap menjalankan fungsinya sebagai sumber pembiayaan bagi korporasi. Hingga akhir Maret 2026, total penghimpunan dana korporasi di pasar modal telah mencapai Rp 51,96 triliun.
Pilihan Editor: Pengaruh Keterbukaan Data Pemilik Emiten pada IHSG










