
KalselBabusalam.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan kembali menghadapi tekanan pada pekan mendatang, terutama akibat hasil kocok ulang (rebalancing) FTSE Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/5/2026) di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berakhir di level 6.162,04. Angka ini menandai penurunan signifikan sebesar 8,35% dalam sepekan terakhir. Jika dilihat lebih jauh, performa IHSG menunjukkan tren pelemahan yang kian mendalam, dengan akumulasi penurunan 18,48% dalam sebulan terakhir, dan mencapai 28,74% secara year-to-date (YTD) sejak awal tahun.
Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, penyebab utama merosotnya IHSG sejak awal 2026 adalah kombinasi dari beberapa faktor. Dilansir dari Kontan, arus keluar dana asing pasca-rebalancing indeks MSCI dan FTSE, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%, semuanya berkontribusi pada tekanan pasar.
Fenomena ini tercermin dari derasnya arus keluar dana asing di pasar reguler, yang mencapai Rp 2,14 triliun dalam sepekan, Rp 17,10 triliun dalam sebulan, dan total Rp 51,43 triliun sepanjang tahun berjalan (YTD). “Ditambah lagi, kekhawatiran investor terhadap transparansi pasar dan risiko kebijakan domestik (headline policy risk) turut memperburuk sentimen,” pungkas Rully, dilansir dari Kontan.
Senada, Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai bahwa penurunan IHSG yang masif, mencapai 18,48% dalam sebulan dan hampir 28,74% YTD, merupakan hasil dari akumulasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara simultan. Secara eksternal, lonjakan tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kenaikan harga minyak mentah di atas US$100 per barel. Kondisi ini membangkitkan kekhawatiran inflasi global dan memperkecil peluang penurunan suku bunga acuan di berbagai negara.
Selain itu, ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, terus mendorong eksodus dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. “Sementara itu, dari sisi domestik, pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.700 per dolar AS, kekhawatiran akan arah kebijakan fiskal, serta ketidakpastian dalam kebijakan pemerintah, menjadi faktor kunci yang merusak kepercayaan investor,” jelas Hendra, dilansir dari Kontan.
Penurunan IHSG sebagian besar disumbangkan oleh sektor perbankan besar dan konglomerasi, yang selama ini menjadi tulang punggung indeks. Saham-saham unggulan seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, serta emiten konglomerasi di sektor petrokimia dan infrastruktur, mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Meskipun demikian, fundamental sebagian besar perusahaan ini masih terbilang solid, mengindikasikan bahwa koreksi yang terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar dan arus keluar dana asing, ketimbang kerusakan fundamental perusahaan secara menyeluruh.
“Secara valuasi, IHSG sebenarnya sudah mulai memasuki area undervalue dengan forward PER (Price-to-Earnings Ratio) yang jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historis beberapa tahun terakhir,” tambah Hendra.
Menyikapi pekan pendek menjelang libur Idul Adha, Rully menilai bahwa pasar masih akan rentan. Likuiditas cenderung menipis selama periode libur panjang, mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko di tengah tingginya ketidakpastian.
Selain itu, pergerakan IHSG pada pekan singkat ini juga akan diwarnai sentimen dari hasil kocok ulang FTSE Indonesia. Lembaga indeks global FTSE Russell telah mengumumkan penghapusan empat saham Indonesia dari Indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Keputusan ini termuat dalam pengumuman June 2026 Quarterly Review yang dirilis pada Sabtu (23/5/2026). Perubahan tersebut akan direalisasikan pada rebalancing 19 Juni 2026 dan secara resmi berlaku efektif mulai 22 Juni 2026.
Dalam proses rebalancing ini, FTSE Russell mengeluarkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari kategori emiten berkapitalisasi besar. Penghapusan ini disebabkan mayoritas saham DSSA yang dikuasai oleh segelintir pemegang saham, atau dikategorikan sebagai high shareholding concentration (HSC).
Selain DSSA, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) juga didepak dari daftar emiten berkapitalisasi kecil. Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan nikel dan batu bara ini dinilai gagal memenuhi batas minimal saham beredar (free float) yang wajib dimiliki publik dan dapat diperdagangkan secara bebas di pasar. Dua emiten lain yang turut terdepak adalah PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). Penghapusan keduanya oleh FTSE Russell dilatarbelakangi oleh status pengawasan atau pemantauan khusus oleh otoritas bursa Indonesia, menyusul indikasi aktivitas perdagangan yang tidak wajar.
Namun, Rully menggarisbawahi bahwa dampak kocok ulang FTSE terhadap IHSG pada pekan depan lebih bersifat sentimen dan tekanan psikologis, bukan sebagai pengubah permainan (game changer) langsung bagi indeks secara agregat. Hal ini karena keputusan FTSE baru akan direalisasikan pada rebalancing 19 Juni dan berlaku efektif pada 22 Juni 2026. “Jadi, untuk pekan depan, pasar akan lebih dulu merespons melalui penetapan harga awal, bukan melalui full forced flow seperti saat tanggal efektif perubahan,” ujarnya.
Hendra menambahkan, pekan pendek menjelang libur Idul Adha justru berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Volume transaksi yang biasanya lebih tipis dapat membuat pergerakan indeks menjadi jauh lebih sensitif. Selain itu, pasar juga dibayangi oleh efek rebalancing FTSE dan potensi window dressing oleh investor asing, yang berpotensi memicu tekanan pada saham-saham tertentu, khususnya big caps yang bobotnya dikurangi.
Untuk pekan pendek ini, IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang 6.000–6.300 dengan kecenderungan volatilitas yang tinggi. Level psikologis 6.000 menjadi area support krusial yang akan dicermati dengan seksama oleh pelaku pasar. “Jika tekanan pada rupiah dan arus keluar dana asing belum mereda, peluang IHSG untuk kembali menguji area tersebut masih sangat terbuka, sebelum akhirnya mampu membangun rebound yang lebih sehat,” ungkapnya.
Meskipun demikian, sentimen positif pada pekan depan berpotensi muncul dari aksi bargain hunting mengingat valuasi saham yang sudah tergolong murah. Stabilisasi harga minyak jika tensi geopolitik di Timur Tengah mereda, serta peluang technical rebound setelah koreksi yang sangat dalam, juga bisa menjadi katalis positif. Namun, sayangnya, sentimen negatif masih terasa lebih dominan. Ini mencakup pelemahan rupiah, tekanan jual dari investor asing (foreign sell), ketidakpastian global, hingga kekhawatiran akan perlambatan ekonomi domestik.
Untuk pilihan sektor, saham-saham berbasis komoditas dan energi, sektor defensive consumer, serta second liner dengan valuasi yang sudah terdiskon, dinilai masih menarik untuk dicermati. “Sementara itu, sektor perbankan besar tetap menjadi penentu arah utama IHSG, mengingat kontribusinya yang sangat besar terhadap pergerakan indeks,” papar Hendra.
Hendra berpendapat bahwa IHSG masih berpotensi mengalami fase bottoming process atau pencarian titik terendah terlebih dahulu sebelum benar-benar pulih. Dalam jangka pendek, risiko pengujian level 6.000 masih terbuka lebar. Namun, jika tekanan global mulai mereda, rupiah menunjukkan stabilitas, dan arus dana asing kembali masuk, khususnya ke saham perbankan besar, maka IHSG berpeluang pulih secara bertahap pada akhir semester I, bergerak menuju area 6.300–6.500.
Untuk proyeksi akhir tahun 2026, apabila kondisi makroekonomi dan geopolitik mulai membaik, serta pertumbuhan laba emiten kembali normal, IHSG berpotensi bergerak ke kisaran 6.800–7.200 secara bertahap. “Saat ini pasar memang dipenuhi tekanan, namun fase seperti inilah yang biasanya mulai membuka peluang akumulasi jangka panjang bagi investor yang sabar dan selektif,” pungkasnya.
Strategi Investor dan Rekomendasi
Untuk pekan mendatang, Rully menyarankan investor untuk lebih selektif dengan memilih saham-saham berfundamental kuat, memiliki likuiditas tinggi, dan relatif tahan terhadap fase risk-off pasar. Faktor-faktor krusial yang perlu dicermati investor saat ini meliputi arus dana asing (foreign flow), stabilitas nilai tukar rupiah, implementasi pasca-rebalancing indeks, rincian aturan kebijakan ekspor, serta indikasi apakah laba emiten besar di kuartal II mampu bertahan. “Dalam pekan yang singkat, faktor likuiditas juga sangat penting, sebab volume transaksi yang tipis dapat memicu pergerakan harga menjadi lebih ekstrem dari biasanya,” papar Rully.
Rully merekomendasikan saham DEWA, BRMS, JPFA, dan CMRY dengan rekomendasi beli, menargetkan harga masing-masing Rp 800, Rp 1.100, Rp 3.750, dan Rp 7.100 per saham.
Sementara itu, Hendra menyarankan investor untuk mencermati stabilitas rupiah, arah arus dana asing, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, serta respons kebijakan pemerintah terhadap kondisi pasar dan ekonomi domestik. Di tengah kondisi pasar yang masih sangat sensitif, disiplin dalam pengelolaan keuangan (money management) dan menghindari penggunaan margin atau leverage yang terlalu agresif menjadi kunci. Fokuslah pada saham-saham dengan fundamental yang sehat, arus kas (cash flow) yang baik, serta valuasi yang sudah murah dibandingkan rata-rata historisnya. “Dalam kondisi seperti sekarang, strategi stock picking atau memilih saham secara individual jauh lebih penting dibandingkan sekadar membeli indeks,” tegas Hendra.
Hendra merekomendasikan investor untuk mencermati IMPC, UNVR, ULTJ, dan SCMA pada pekan depan, dengan target harga masing-masing Rp 2.000, Rp 1.960, Rp 1.800, dan Rp 254 per saham. “Bagi investor yang agresif, saham-saham berbasis komoditas seperti MDKA dan INCO juga masih menarik, selama harga nikel dan komoditas global lainnya tetap kuat,” tambahnya.
Jessica Leonardy, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, turut menambahkan bahwa di tengah gejolak pasar saat ini, investor dapat mempertimbangkan saham-saham yang masih memiliki prospek laba (earnings) solid. Sektor-sektor yang direkomendasikan antara lain perbankan, komoditas terpilih, sektor terkait konsumen (consumer-related), dan telekomunikasi. Jessica menyematkan rekomendasi beli untuk BBCA, BMRI, MEDC, ANTM, MAPI, ISAT, dan TLKM, dengan target harga masing-masing Rp 8.500, Rp 5.800, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 1.800, Rp 2.500, dan Rp 4.200 per saham.










