
KalselBabusalam.com – Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, ternyata masih menghadapi tantangan besar dalam pengembangan perbankan syariah. Pangsa pasar perbankan syariah Indonesia dilaporkan masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara Muslim lain yang memiliki populasi lebih kecil. Pernyataan ini disampaikan oleh Rahmatina Awaliah Kasri, Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS FEB UI).
Berdasarkan catatan PEBS FEB UI, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia pada tahun 2025 diproyeksikan baru mencapai 7,3 persen, padahal jumlah penduduknya mencapai 242,7 juta jiwa. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan Arab Saudi yang memiliki pangsa pasar perbankan syariah sebesar 73,5 persen dengan total populasi 31,5 juta jiwa. Demikian pula Malaysia, yang dengan 20 juta penduduk, berhasil mencapai pangsa pasar 33,2 persen. Kesenjangan ini menunjukkan potensi besar yang belum tergarap optimal di Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, Rahmatina menekankan pentingnya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Tanah Air. “Kita harus terus mengupayakan kenaikan pangsa pasar perbankan syariah menuju 15-20 persen yang merupakan ambang psikologis yang diperlukan agar pertumbuhan industri terjadi secara berkelanjutan dan saling memperkuat (self-reinforcing),” ujar Rahmatina. Pernyataan ini disampaikan dalam acara peluncuran Indonesia Sharia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin, 1 Desember 2025.
Meskipun pangsa pasar perbankan syariah masih menjadi pekerjaan rumah, ada kabar baik dari sisi aset keuangan syariah. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, total aset keuangan syariah menunjukkan pertumbuhan impresif, mencapai Rp 3.029 triliun per September 2025. Angka ini merepresentasikan peningkatan signifikan sebesar 68 persen dibandingkan posisi tahun 2020 yang tercatat Rp 1.801 triliun, mengindikasikan kepercayaan dan minat yang terus tumbuh pada sektor ini.
Aset keuangan syariah tersebut terdistribusi ke berbagai sektor. Pasar modal syariah menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 1.840,5 triliun. Sementara itu, perbankan syariah menyumbang Rp 1.006,8 triliun, dan industri keuangan non-bank syariah tercatat sebesar Rp 182,2 triliun. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah Indonesia mulai berkembang di berbagai lini.
Menatap ke depan, PEBS FEB UI memproyeksikan aset keuangan syariah akan terus mengalami ekspansi. Dalam skenario optimis, aset ini diprediksi mencapai Rp 3.715 triliun pada tahun 2026. Sementara itu, skenario moderat memperkirakan aset keuangan syariah tahun depan sebesar Rp 3.565 triliun. Rahmatina bahkan menyatakan optimisme bahwa dalam lima tahun ke depan, aset keuangan syariah berpotensi melipatgandakan nilainya, menembus angka Rp 5.439 triliun dalam skenario paling positif, menegaskan potensi besar industri keuangan syariah di masa depan.
Pilihan Editor: Rencana Besar Gurita Bisnis Muhammadiyah










