
PENGIRIMAN pasokan makanan siap saji atau ready to eat (RTE) bagi jemaah haji dari Indonesia ke Tanah Suci mengandalkan jalur udara. Menurut Direktur Utama PT Halalan Thayyiban Indonesia (HATI) Sugiri, selaku penyedia katering haji dari Indonesia, perusahaan memilih jalur udara untuk memastikan distribusi logistik berjalan lancar dan tepat waktu, khususnya selama masa puncak haji 2026.
Sugiri mengatakan pengiriman pasokan makanan tersebut dilakukan dengan mengandalkan pesawat kargo dari Bandara Soekarno Hatta untuk menuju Jeddah, Arab Saudi. Langkah tersebut dipilih karena kondisi distribusi laut dinilai kurang stabil akibat situasi geopolitik global.
“Tahun ini seluruh pengiriman menggunakan pesawat untuk menjamin barang sampai tepat waktu. Karena kalau lewat kapal terlalu berisiko terlambat, sementara jemaah harus tetap mendapatkan makanan saat puncak haji,” ujar Sugiri saat ditemui wartawan di Hotel Kapsul Kali Pepe Land Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 16 Mei 2026.
Sugiri menjelaskan kebutuhan konsumsi jemaah akan meningkat drastis selama fase Armuzna atau puncak haji yang berlangsung selama enam hari, mulai 25 hingga 30 Mei 2026 atau bertepatan dengan 8–13 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Menurutnya, kondisi jutaan jemaah yang berkumpul di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina membuat distribusi makanan menjadi tantangan tersendiri. Kepadatan massa dan keterbatasan akses kendaraan menyebabkan makanan siap saji menjadi solusi paling efektif.
“Bayangkan ada sekitar dua juta orang berkumpul di area yang sangat terbatas. Transportasi logistik sulit bergerak. Karena itu makanan siap saji menjadi solusi agar jemaah tetap mendapat konsumsi tepat waktu,” katanya.
PT HATI mulai terlibat dalam penyediaan konsumsi haji sejak 2023. Menu yang dikirim ke Arab Saudi merupakan masakan khas Indonesia, seperti rendang daging, rendang ayam, opor ayam, semur daging, semur ayam, hingga gulai ikan. Selain makanan siap saji, perusahaan juga mengirimkan bumbu khas Indonesia untuk menyuplai dapur-dapur fresh food bagi jemaah haji.
Sugiri menjelaskan layanan konsumsi haji terbagi menjadi dua kategori, yakni makanan fresh food dan makanan siap saji atau ready to eat (RTE). Sekitar 87,5 persen konsumsi jemaah disiapkan melalui dapur fresh food di Arab Saudi. Sedangkan sekitar 12,5 persen lainnya berupa makanan siap saji yang diekspor langsung dari Indonesia.
“Kami juga mengirim sekitar 150 ton bumbu masakan Indonesia untuk kebutuhan dapur fresh di sana. Totalnya dipakai untuk memasak sekitar 22 juta porsi makanan sehingga cita rasanya tetap khas Indonesia,” ujar Sugiri.
Ia menuturkan produksi makanan haji untuk musim 2026 telah dimulai sejak November 2025 dengan melibatkan sekitar 400 tenaga kerja lokal. Seluruh proses produksi dilakukan dengan standar keamanan pangan yang ketat.
Sugiri mengatakan PT HATI dengan jenama produk MakanKu telah mengantongi sejumlah sertifikasi, di antaranya izin BPOM dengan penerapan manajemen risiko, sertifikat halal BPJPH, ISO 22000 tentang manajemen keamanan pangan, serta sertifikasi dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA).
Menurut Sugiri, daya tahan makanan siap saji diperoleh melalui teknologi sterilisasi suhu tinggi mencapai 121 derajat Celsius dengan tekanan dua bar. Produk dikemas secara vakum sehingga terbebas dari kontaminasi mikroba dan mampu bertahan hingga 18 bulan selama kemasan belum dibuka.
“Makanan ini bisa langsung dimakan tanpa dipanaskan, tanpa microwave, tanpa direbus. Ini yang menjadi keunggulan dan sangat cocok untuk kondisi puncak haji,” katanya.
Ia mengklaim PT HATI saat ini menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mampu memproduksi makanan siap saji haji dengan standar tersebut secara massal.
“Semua proses harus higienis dan sesuai SOP. Mulai pekerja masuk area produksi, penggunaan perlengkapan sanitasi, hingga pengemasan diawasi ketat demi menjaga kualitas produk,” katanya.
Pendiri sekaligus pemilik PT HATI, Puspo Wardoyo, mengatakan perusahaannya dipercaya membantu penyediaan konsumsi haji karena dinilai memenuhi standar yang dibutuhkan pemerintah Arab Saudi maupun Kementerian Haji dan Umrah.
“Kami membantu Kementerian Haji dan Umrah karena memang saat ini yang siap dengan standar seperti ini ya PT HATI. Dari sisi kualitas pabrik, sistem produksi, sampai sertifikasi memang kami sudah siap,” ujar dia.
Puspo mengatakan makanan siap saji menjadi bagian penting dalam layanan konsumsi haji, terutama saat fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Menurutnya, kondisi distribusi yang padat membuat makanan praktis dengan daya tahan panjang sangat dibutuhkan.
Menurut Puspo, produk PT HATI dibuat tanpa bahan pengawet dan tetap mampu bertahan lama berkat teknologi sterilisasi modern. Ia menambahkan, bahan baku yang digunakan juga melibatkan pasokan dari petani lokal untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan menjaga kualitas produk.
Sementara itu, hari ke-26 operasional haji, Embarkasi Solo telah menerima 73 kelompok terbang (kloter) calon jemaah haji dengan total 26.241 orang. Pada Sabtu, 16 Mei 2026, dijadwalkan tiga kloter masuk ke Asrama Donohudan di Boyolali.
“Yakni kloter 74, 75 dan 76 dari Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Purbalingga. Jumlah calon jemaah haji yang berhasil diberangkatkan menuju Tanah Suci sebanyak 72 kloter, sejumlah 25.799 jemaah,” ungkap Kasi Humas PPIH Embarkasi Solo Nabiila Azka Amaalia, di Boyolali, Sabtu, 16 Mei 2026.
Pilihan Editor: Ibadah Haji Sebentar Lagi, Kartu Nusuk Belum Terdistribusi











