
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi Fitch Ratings yang memangkas outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Dia mengklaim bahwa indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi aman.
Purbaya menyebutkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih dalam batas aman. Selain itu, kata Purbaya, pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang mencapai 5,11 persen menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara G20. “Mungkin karena masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sanksi jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa berhitung,” kata Purbaya di kantornya, Jumat, 6 Maret 2026.
Salah satu kekhawatiran yang diangkat Fitch dalam pertimbangannya adalah mengenai penerimaan negara. Namun Purbaya mengungkapkan penerimaan pajak sampai dengan Februari 2026 telah mencapai Rp 245,1 triliun atau tumbuh 30,4 persen secara year on year.
Bendahara negara itu mengatakan pemerintah akan menggunakan semua mesin pertumbuhan untuk memastikan ekonomi berjalan, sehingga keraguan lembaga pemeringkat utang bisa terbantahkan. “Jadi tidak usah takut Fitch mengeluarkan outlook negatif. Fondasi kita masih kuat,” ucap Purbaya.
Purbaya juga mengatakan dia akan bertolak ke luar negeri pada April mendatang untuk menjelaskan kebijakan fiskal Indonesia. Sebagai catatan, April merupakan jadwal untuk pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington, D.C., Amerika Serikat.
Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu mengaku tidak berencana ke luar negeri sebelum ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen. Namun, mengingat situasi saat ini, dia mengatakan, pemerintah perlu memaparkan kebijakan fiskal Indonesia. “Jadi April saya akan keluar negeri untuk memastikan bahwa Menteri Keuangan kita mengerti apa yang dikerjakan,” ujar Purbaya.
Fitch Ratings memangkas outlook atau proyeksi rating utang Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Rabu, 4 Maret 2026. Namun demikian, Fitch mempertahankan rating Indonesia di peringkat BBB atau layak investasi. Fitch menjadi lembaga kedua yang menurunkan outlook Indonesia setelah Moody’s.
“Revisi outlook ini mencerminkan meingkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran mengenai terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pembuatan kebijakan,” tulis Fitch dalam keterangan resmi pada Rabu, 4 Maret 2026. Menurut Fitch, hal tersebut dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada cadangan eksternal.
Pilihan Editor: Seberapa Besar THR ASN Mendorong Pertumbuhan Ekonomi











