
KalselBabusalam.com – JAKARTA. Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), proyeksi kuat mengindikasikan bahwa suku bunga acuan BI rate akan tetap bertahan pada level terakhirnya. Stabilitas suku bunga ini diperkirakan membuka ruang bagi perbankan untuk memaksimalkan transmisi kebijakan moneter dan meredakan tekanan pada margin keuntungan, sekaligus mendorong sektor ini memasuki fase pemulihan harga di pasar modal.
Namun, di penghujung perdagangan Jumat (17/4/2026), saham-saham perbankan masih menunjukkan koreksi harga yang signifikan dibandingkan posisi awal tahun (year-to-date/ytd). Dari jajaran bank-bank besar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 20,43% ytd, mencapai Rp 6.425. Disusul oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 15,1% ytd ke Rp 3.710, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan koreksi 9,41% ytd menjadi Rp 4.620, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang melemah 6,28% ytd ke Rp 3.430.
Sejak awal tahun, Bank Sentral memang masih mempertahankan BI rate di level 4,75%. Meskipun demikian, angka tersebut sejatinya sudah mencerminkan penurunan kumulatif sebesar 125 basis poin (bps) sejak Januari 2025. Sayangnya, transmisi kebijakan penurunan suku bunga ini masih cenderung terbatas. Hingga Februari 2026, suku bunga kredit baru turun sekitar 40 bps, sementara suku bunga deposito satu bulan hanya menurun 64 bps dari Januari 2025.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa sebelumnya biaya dana (cost of fund/COF) telah lebih dulu mengalami peningkatan akibat ketatnya persaingan dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK). Kombinasi faktor ini sempat menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan secara signifikan. Apabila Bank Indonesia memutuskan untuk terus mempertahankan suku bunga acuan, Hendra optimistis tekanan terhadap margin akan mereda, sehingga profitabilitas bank dapat kembali stabil dalam beberapa kuartal mendatang.
Dari sudut pandang fundamental, stabilitas suku bunga merupakan katalis positif yang krusial bagi sektor perbankan. Hendra memprediksi pertumbuhan kredit akan tetap solid, bergerak dalam kisaran high single digit hingga low double digit. “Itu didorong oleh permintaan dari segmen konsumsi dan korporasi yang mulai pulih,” kata Hendra, dilansir dari Kontan, Sabtu (18/4/2026). Selain itu, risiko kredit juga dinilai relatif terkendali, karena tidak ada lonjakan beban bunga yang signifikan bagi para debitur. Dengan demikian, kinerja laba perbankan berpotensi tetap tumbuh secara sehat, meskipun tidak seagresif pada periode suku bunga rendah sebelumnya.
Namun demikian, dari perspektif pasar, Hendra melihat bahwa tekanan harga saham perbankan dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global dan aksi ambil untung investor asing, bukan disebabkan oleh penurunan fundamental perusahaan. Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, juga mengungkapkan bahwa pasar sudah mengantisipasi stabilitas suku bunga, mengingat kondisi rupiah yang masih lemah dan tingginya volatilitas pasar global.
Nico menambahkan, saat ini berbagai bank sentral dunia sedang memfokuskan perhatian pada inflasi, yang berpotensi justru menaikkan tingkat suku bunga global. “Bank Sentral Eropa dan The Fed tampaknya memperlihatkan peluang tersebut,” ujar Nico. Oleh karena itu, menurut Nico, transmisi kebijakan moneter masih menjadi kunci utama akselerasi fundamental perbankan. Ia juga menegaskan bahwa saat ini, bank-bank besar (big banks) masih menjadi pilihan investasi terbaik, baik dari sisi fundamental maupun potensi valuasi ke depannya.
Maximilianus Nico Demus menetapkan target harga akhir tahun untuk saham BBCA di level Rp 9.600, BBRI di Rp 4.380, BMRI di Rp 5.860, dan BBNI di Rp 5.000. Sementara itu, Hendra Wardana merekomendasikan speculative buy untuk BBCA dengan target harga Rp 6.800. Untuk BMRI, ia melihat potensi menguat ke Rp 4.800, BBNI ke Rp 3.900, dan BBRI di target Rp 3.600.
Secara keseluruhan, Hendra menyimpulkan bahwa sektor perbankan berpotensi memasuki fase pemulihan harga yang lebih sehat selama kebijakan suku bunga tetap stabil dan tekanan global mereda. “Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham perbankan berfundamental kuat yang sebelumnya mengalami koreksi,” pungkasnya, memberikan pandangan positif bagi para pelaku pasar.










