Iran menunda pemilihan penerus Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei karena alasan keamanan, menurut New York Times mengutip sumber seperti dilansir Antara.

Menurut media tersebut pada Kamis, penundaan itu berkaitan dengan kekhawatiran akan keselamatan putra ayatollah yang terbunuh, Mojtaba Khamenei, dengan semakin meningkatnya informasi di Teheran melalui media bahwa Mojtaba akan menjadi penerus sang ayah.

Selain itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz pada Rabu mengatakan bahwa pemimpin baru Iran akan menjadi “target tanpa syarat untuk dihabisi” oleh tentara Israel.

Sebelumnya, Majelis Pakar Iran dijadwalkan akan mengadakan sesi darurat pada Kamis untuk secara resmi mengumumkan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi, sebagai pemimpin berikutnya, meskipun ada penentangan dari beberapa anggota yang memperingatkan terhadap “kepemimpinan turun-temurun,” demikian yang dilaporkan media oposisi Iran International.

Pertemuan ini berlangsung dua hari setelah Iran International melaporkan bahwa Majelis Pakar telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya di bawah tekanan dari Garda Revolusi.

Dua sumber dari kantor perwakilan Majelis Pakar mengatakan kepada Iran International bahwa setidaknya delapan anggota tidak akan menghadiri sesi darurat pada Kamis sebagai protes atas apa yang mereka gambarkan sebagai “tekanan berat” dari Garda Revolusi (IRGC) untuk memaksakan Mojtaba Khamenei.

Pertemuan darurat pertama badan ulama untuk memilih pengganti Ali Khamenei diadakan pada Selasa, tetapi berakhir sebelum waktunya setelah serangan udara Israel menargetkan gedung Majelis di kota Qom.

Menurut sumber, pertemuan Kamis diadakan secara daring dan dikelola dari sebuah gedung di dekat makam Fatima Masumeh di Qom. Beberapa perwakilan dan anggota dewan pimpinan Majelis yang tinggal di Qom mungkin akan hadir secara langsung.

Argumen dari Para Penentang Mojtaba

Sumber-sumber mengatakan kepada Iran International bahwa sekelompok orang menghubungi ketua Majelis dan anggota dewan pimpinannya pada Rabu, memperingatkan bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin dapat menimbulkan kekhawatiran publik tentang kepemimpinan yang menjadi turun-temurun dan Republik Islam menyerupai monarki.

“Ayatollah Ali Khamenei tidak senang dengan gagasan kepemimpinan putranya dan tidak pernah mengizinkan masalah ini diangkat selama hidupnya,” kata seorang anggota Majelis kepada ketua dan anggota pimpinan badan tersebut dalam panggilan telepon, menurut sumber-sumber tersebut.

Anggota lain berpendapat bahwa Mojtaba Khamenei “tidak memiliki kedudukan ulama dan ahli hukum yang mapan dan publik,” dan karena alasan itu pemilihannya sebagai Ahli Hukum Tertinggi negara (Vali-ye Faqih) akan kurang memiliki legitimasi agama, tambah sumber-sumber tersebut.

Para perwakilan ini menyerukan agar Mojtaba Khamenei mengundurkan diri dan agar pemungutan suara baru diadakan pada sesi Kamis.

Beberapa pihak oposisi juga mengisyaratkan bahwa jika Mojtaba Khamenei tidak mengundurkan diri, mereka mungkin menganggap proses seleksi tersebut “tidak sah,” sebuah langkah yang dapat memperdalam perpecahan di dalam pemerintahan dan memperburuk krisis legitimasi Republik Islam.

Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangkaian serangan yang menargetkan wilayah Iran sejak Sabtu, termasuk Teheran yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.

Serangan tersebut juga menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang dikonfirmasi media pemerintah.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel, dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Pilihan Editor: Iran Tunda Pemakaman Kenegaraan untuk Khamenei

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.