IRAN menyatakan telah menutup kembali Selat Hormuz, dan menyebut keputusan itu sebagai tanggapan terhadap blokade berkelanjutan terhadap pelabuhan-pelabuhannya oleh Amerika Serikat.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu 1 April 2026 seperti dilansir Aljazeera menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali ke “kondisi sebelumnya” di bawah kendali “angkatan bersenjata.” Pernyataan ini merujuk pada blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan Iran yang masih terus berlangsung.

“Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah pengelolaan dan kendali ketat angkatan bersenjata,” kata komando gabungan IRGC, seperti dikutip kantor berita Tasnim.

IRGC menegaskan hingga AS “memulihkan sepenuhnya kebebasan pergerakan kapal yang menuju dan keluar dari Iran”, situasi di Selat Hormuz akan tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak berubah.

Sebuah kapal tanker dan sebuah kapal kontainer masing-masing melaporkan serangan saat melintasi Selat Hormuz seperti dilansir CNN pada Sabtu. Insiden tersebut terjadi setelah militer Iran mengatakan pembatasan di jalur air vital itu diberlakukan kembali, dengan alasan “pelanggaran kepercayaan berulang” oleh AS.

Pernyataan IRGC tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Jumat menyatakan bahwa selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” bagi seluruh kapal komersial.

Keputusan itu diambil “sejalan dengan gencatan senjata di Lbanon,” ujarnya melalui platform media sosial X.

Pada Sabtu pukul 10:30 GMT, setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas telah melintasi selat tersebut, tetapi setidaknya jumlah kapal yang sama tampaknya telah berbalik arah, setelah mulai meninggalkan Teluk Persia.

Kesepakatan Damai

Penutupan tersebut menimbulkan keraguan atas optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump sehari sebelumnya, bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran “sudah sangat dekat”.

Trump telah merayakan pembukaan kembali selat tersebut pada Jumat, tetapi memperingatkan bahwa blokade AS akan berlanjut sampai Iran menyetujui kesepakatan, yang mencakup program nuklirnya.

“Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya,” kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One tentang perjanjian gencatan senjata sementara yang akan berakhir pada Rabu pekan depan. “Jadi akan ada blokade, dan sayangnya kami harus mulai menjatuhkan bom lagi.”

Ditanya apakah kesepakatan potensial dapat dibuat dalam jangka waktu singkat ini, Trump berkata: “Saya pikir itu akan terjadi.”

Tetapi Iran mengatakan belum ada tanggal yang disepakati untuk putaran pembicaraan damai berikutnya, menuduh AS “mengkhianati” diplomasi dalam semua negosiasi.

Laporan yang saling bertentangan dan berubah-ubah tentang Selat Hormuz dan seberapa besar kebebasan kapal untuk melintasinya, telah membuat banyak kapal enggan menyeberang, menurut John-Paul Rodrigue, seorang spesialis pelayaran maritim di Universitas Texas A&M.

“Kapal-kapal telah mencoba melintasi selat tersebut sejak pengumuman itu, tetapi tampaknya banyak dari mereka kembali karena situasinya tidak jelas,” kata Rodrigue kepada Al Jazeera. “Ada informasi yang saling bertentangan yang dikeluarkan oleh semua pihak.”

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke Israel serta negara-negara lain di kawasan yang menampung aset militer AS, sebagai bentuk pertahanan diri.

Perang tersebut berada dalam kondisi jeda sejak 8 April, setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua pekan.

Washington dan Teheran juga telah menggelar pembicaraan di Pakistan pada akhir pekan lalu untuk mengupayakan perdamaian jangka panjang, sementara upaya untuk mengadakan pertemuan lanjutan di Islamabad masih terus dilakukan.

Pilihan Editor: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Lagi jika Blokade AS Berlanjut

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.