
KalselBabusalam.com – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) (DXY) menunjukkan penguatan signifikan, naik 0,24% secara harian ke level 97,14 pada Selasa (17/2/2026), demikian data yang dihimpun dari Bloomberg. Kenaikan ini sebagian besar dipicu oleh sentimen geopolitik global yang memanas.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang, menyatakan bahwa pergerakan indeks dolar AS (DXY) cenderung fluktuatif namun condong pada penguatan. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh fokus para spekulan terhadap arah kebijakan bank sentral AS, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed. Publik diharapkan mencermati dengan saksama arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Warsh nanti.
Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi bahwa indeks dolar AS akan kembali menguat di kuartal I – 2026. Analisis ini didukung oleh data-data ekonomi AS yang menunjukkan performa positif, termasuk angka tenaga kerja yang solid, penurunan tingkat pengangguran, serta data inflasi yang lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya. Kombinasi faktor-faktor ini secara inheren mendukung apresiasi nilai tukar dolar AS.
Selain indikator ekonomi, Ibrahim juga menyoroti peran sentimen geopolitik dalam mendongkrak penguatan indeks dolar AS. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan Eropa menjadi faktor krusial. Rencana AS untuk mengirimkan kapal induk tambahan ke Timur Tengah mengindikasikan potensi eskalasi konflik, khususnya terhadap Iran. Situasi ini diperkirakan akan menahan laju penguatan mata uang lainnya, menjadikan dolar AS sebagai aset yang lebih diminati. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, dolar AS secara historis cenderung menguat, sementara valuta asing lainnya akan mengalami pelemahan signifikan, jelas Ibrahim, dilansir dari Kontan pada Selasa (17/2/2026).
Bertolak belakang dengan pandangan tersebut, Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, memiliki proyeksi berbeda untuk indeks dolar AS (DXY). Menurutnya, prospek DXY di kuartal I – 2026 justru akan terus berada di bawah tekanan. Lukman mengemukakan bahwa serangkaian aksi dan kebijakan AS yang dinilai “tidak bersahabat” akan semakin memicu fenomena debasement trade (aksi pelepasan aset AS) dan dedolarisasi di pasar global. Lukman melihat pergerakan indeks dolar AS sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah AS, kinerja ekonomi AS, dan prospek suku bunga The Fed.
Dalam skenario terburuk yang melibatkan memburuknya kondisi ekonomi global (terutama pasar saham) dan eskalasi geopolitik, Lukman menyarankan Swiss Franc (CHF) sebagai pilihan valuta asing paling ideal. Ia bahkan memperkirakan bahwa apabila terjadi eskalasi geopolitik yang signifikan, ditambah dengan potensi pecahnya gelembung artificial intelligence (AI), nilai tukar CHF dapat mencapai kisaran 0,70 – 0,72.










