KalselBabusalam.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Jumat (13/3/2026) pagi dengan pelemahan signifikan. Sentimen negatif ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap sikap The Fed yang kemungkinan akan lebih hawkish (ketat), didorong oleh risiko inflasi energi global akibat konflik yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada pembukaan sesi, IHSG terkoreksi 23,30 poin atau 0,32 persen, bergerak ke posisi 7.338,82. Tren serupa juga terlihat pada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45, yang turun 2,74 poin atau 0,36 persen, menempati level 748,45.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengungkapkan dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, bahwa laju penguatan IHSG memang cenderung terhambat. “Seperti yang diramalkan Kiwoom Research, IHSG agak sulit naik tinggi mengingat berbagai sentimen global yang terjadi, terlebih menjelang libur panjang Idul Fitri yang membuat banyak investor mengurangi posisi portofolio mereka guna menghindari gejolak pasar selama masa liburan,” jelas Liza. Pernyataan ini menegaskan bagaimana tekanan global dan faktor musiman domestik secara bersamaan menahan performa indeks.

Dari kancah internasional, International Energy Agency (IEA) mengeluarkan peringatan serius mengenai dampak konflik AS-Iran. Menurut IEA, konfrontasi ini berpotensi memicu gangguan pasokan energi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Hal ini secara langsung memengaruhi rute vital Selat Hormuz, di mana aliran minyak telah anjlok drastis dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi nyaris terhenti. Konsekuensinya, negara-negara produsen di kawasan Teluk terpaksa memangkas produksi hingga sekitar 10 juta barel per hari.

Secara global, pasokan minyak diperkirakan menyusut sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026. Untuk meredam dampak tersebut, IEA telah merespons dengan melepaskan cadangan strategis sekitar 400 juta barel, sementara Amerika Serikat juga berencana melepas sekitar 172 juta barel dari cadangan daruratnya.

Di tengah ketegangan yang memuncak, Iran sendiri telah melontarkan peringatan bahwa harga minyak global bisa melambung hingga 200 dolar AS per barel jika konflik terus memanas. Ironisnya, di saat yang sama, Iran masih berhasil mengirimkan sekitar 11,7 hingga 12 juta barel minyak melalui Selat Hormuz menuju Tiongkok sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026.

Data perdagangan menunjukkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level 95,54 dolar AS per barel, sementara minyak jenis Brent menembus 100,41 dolar AS per barel per pukul 09.07 WIB. Lonjakan harga minyak ini bukan hanya sekadar angka; ia membawa potensi risiko stagflasi global yang serius dan dapat menekan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk pengetatan oleh bank sentral global.

Pergeseran drastis terlihat dalam ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika sebelumnya diperkirakan akan ada dua hingga tiga kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, kini pasar hanya memperhitungkan sekitar 20 basis poin (bps) pelonggaran hingga akhir tahun. Ini mencerminkan perubahan sentimen yang signifikan.

Meskipun Presiden AS Donald Trump telah kembali mendesak Ketua The Fed Jerome Powell untuk segera menurunkan suku bunga, pasar justru melihat lonjakan harga energi sebagai pemicu potensi perpanjangan tekanan inflasi. Dalam waktu dekat, sorotan akan tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang dijadwalkan pada 17–18 Maret 2026, di mana keputusan vital mengenai suku bunga acuan akan ditetapkan.

Beralih ke ranah domestik, pemerintah mulai mengambil langkah strategis dengan menarik sebagian surplus Bank Indonesia (BI) ke kas negara. Kebijakan ini bertujuan untuk membantu pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah melonjaknya kebutuhan anggaran. Disebutkan bahwa sekitar Rp 16 triliun telah ditarik, berlandaskan kewenangan dalam PMK No.115/2025.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa penarikan ini tidak dilakukan secara penuh dan senantiasa melalui koordinasi erat antara pemerintah dan BI. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan krusial antara kebijakan fiskal dan moneter, sekaligus stabilitas sistem keuangan nasional. Namun, langkah ini berpotensi memicu kekhawatiran di kalangan investor, yang mungkin menginterpretasikannya sebagai intervensi terhadap independensi bank sentral dan indikasi tekanan fiskal yang semakin besar.

Pergerakan bursa global juga mencerminkan sentimen negatif yang meluas. Pada perdagangan Kamis, pasar saham Eropa kompak ditutup melemah. Indeks Euro Stoxx 50 terkoreksi 0,69 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,47 persen, indeks DAX Jerman turun 0,21 persen, dan indeks CAC 40 Prancis juga merosot 0,71 persen.

Sentimen serupa juga melanda bursa saham Amerika Serikat di Wall Street. Pada Kamis (12/03), ketiga indeks utama ditutup kompak melemah: Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 739,42 poin (1,56 persen) ke 46.677,85, Indeks S&P 500 terkoreksi 1,52 persen ke 6.672,77, dan Indeks Nasdaq Composite melemah 1,78 persen menjadi 22.311,98.

Gelombang pelemahan ini berlanjut ke pasar Asia pada Jumat pagi. Mayoritas bursa Asia mencatatkan penurunan: Indeks Nikkei turun 551,00 poin (1,01 persen) ke 53.902,00, Indeks Shanghai melemah 4,47 poin (0,11 persen) ke 4.124,62, dan Indeks Hang Seng turun 85,84 poin (0,33 persen) ke 25.630,91. Hanya Indeks Strait Times yang berhasil menguat tipis 0,58 poin (0,01 persen) ke 4.855,92, menunjukkan sedikit anomali di tengah tren bearish global.

IHSG Turun, Namun Transaksi Pasar Saham Makin Ramai

Menariknya, di tengah fluktuasi indeks, aktivitas pasar saham Indonesia justru menunjukkan dinamika yang berbeda. Economist Analyst Indonesian Stock Exchange (IDX), Anita Kesia Zonebia, mengungkapkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang mengalami volatilitas tinggi di awal tahun 2026. Namun, meskipun IHSG mengalami penurunan, nilai transaksi perdagangan saham justru memperlihatkan kinerja yang positif dan kuat.

“Meskipun indeks kita mengalami gejolak dan volatilitas serta menurun sepanjang tahun ini secara year to date (YTD), nilai transaksi masih terbilang aktif,” ujar Anita, dilansir dari acara Edukasi Wartawan mengenai IDX Market Update yang digelar secara daring pada Kamis (12/3/2026) lalu. Pernyataan ini menyoroti kontras antara pergerakan indeks dan gairah transaksi di pasar.

Data historis menunjukkan bahwa IHSG sempat menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high atau ATH) di level 9.134,7 pada 20 Januari 2026. Namun, puncak ini tidak bertahan lama. Indeks kemudian mengalami koreksi tajam, dipicu oleh perubahan outlook dari beberapa lembaga pemeringkat serta eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan semakin berat hingga IHSG anjlok sekitar 8 persen, mencapai 8.321 pada 28 Januari 2026. Situasi kritis ini bahkan memaksa penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama dua hari berturut-turut, yang berujung pada pengunduran diri pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pelemahan tersebut berlanjut sepanjang Februari hingga Maret 2026, dengan IHSG tercatat di level 7.362 per 12 Maret 2026. Kendati demikian, fenomena menariknya adalah aktivitas perdagangan saham tetap menunjukkan kinerja yang kuat.

Anita menjelaskan, “Kalau kita lihat dari sisi aktivitas perdagangan seperti trade value, frekuensi transaksi, dan volume perdagangan, sebenarnya aktivitasnya masih tinggi.” Ini mengindikasikan bahwa meskipun indeks bergerak turun, minat investor dan dinamika pasar tetap terjaga.

Lebih lanjut, Anita memaparkan data per 6 Maret 2026 yang menunjukkan peningkatan impresif pada nilai transaksi harian rata-rata (RNTH), mencapai Rp29 triliun. Angka ini secara signifikan melampaui capaian tahun 2025 yang sebesar Rp18,1 triliun per hari, bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan periode puncak pandemi Covid-19 pada 2022 yang hanya Rp14,7 triliun per hari.

Anita menambahkan, “Kita tahu pandemi merupakan kondisi anomali karena pada 2020 hingga 2022 aktivitas transaksi meningkat. Namun pada 2026 peningkatannya tetap cukup impresif, yang didukung pertumbuhan investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pertumbuhan aktivitas transaksi di tahun 2026 bukan sekadar efek pasca-pandemi, melainkan didorong oleh basis investor yang semakin luas.

Fenomena ini turut didukung oleh pertumbuhan jumlah investor yang masif. Data per 6 Maret 2026 mencatat total investor pasar modal telah mencapai 23,47 juta orang. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari 20,35 juta investor pada tahun sebelumnya, dan bahkan melonjak hampir enam kali lipat dibandingkan jumlah investor pada 2020 yang tercatat sebanyak 3,88 juta. Dari keseluruhan jumlah tersebut, sekitar 9,2 juta di antaranya merupakan investor saham aktif.

Tak hanya nilai, frekuensi transaksi perdagangan juga mencetak rekor. Per 6 Maret 2026, tercatat 3,29 juta kali transaksi, sebuah lonjakan sebesar 83,9 persen dibandingkan frekuensi transaksi pada 2025 yang sebesar 1,79 juta kali. Capaian ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, melampaui 1,13 juta transaksi pada 2024, 1,18 juta transaksi pada 2023, dan 1,31 juta transaksi pada 2022, menegaskan tingginya gairah transaksi di bursa.

Demikian pula dengan volume perdagangan saham, yang mencapai 53,3 miliar lembar saham per 6 Maret 2026. Angka ini menandai peningkatan impresif sebesar 76 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 30,3 miliar lembar saham. Capaian volume ini juga menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, jauh melampaui 19,9 miliar lembar saham pada 2024, 19,8 miliar lembar saham pada 2023, serta 23,9 miliar lembar saham pada 2022, mengukuhkan aktivitas pasar modal yang sangat dinamis.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.