KalselBabusalam.comLONDON. Harga emas mengalami penurunan tajam, anjlok lebih dari 5% pada Senin (23/3/2026). Penurunan ini membawanya ke level terendah sepanjang tahun 2026, dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.

Pada Senin (23/3/2026) pukul 06.33 GMT, harga emas spot tercatat merosot 5,8%, mencapai US$ 4.226,16 per ons. Angka ini menandai titik terendah sejak 11 Desember 2025 dan menjadi kerugian untuk sesi kesembilan secara berturut-turut, menunjukkan tekanan jual yang signifikan di pasar.

Tren penurunan ini bukanlah hal baru. Sepanjang minggu lalu, logam mulia tersebut telah kehilangan lebih dari 10% nilainya, mencatat minggu terburuknya sejak Februari 1983. Bahkan, harga emas kini telah terkoreksi lebih dari 20% dari puncak rekornya sebesar US$ 5.594,82 per ons yang sempat dicapai pada 29 Januari 2026.

Senada dengan harga spot, harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga terpangkas tajam, anjlok 7,5% menjadi US$ 4.231,80.

Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, menjelaskan bahwa memanasnya konflik Iran yang kini memasuki minggu keempat, ditambah dengan harga minyak yang stabil di sekitar US$ 100 per barel, telah mengubah ekspektasi pasar secara drastis. “Ekspektasi telah bergeser dari pemotongan suku bunga ke potensi kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya merusak daya tarik emas dari sudut pandang imbal hasil,” ujarnya, dilansir dari Reuters.

Ancaman eskalasi semakin nyata setelah Iran menyatakan kesiapannya untuk menyerang sistem energi dan air negara-negara tetangganya di Teluk. Pernyataan ini merupakan respons balasan jika Presiden AS Donald Trump benar-benar merealisasikan ancamannya untuk menyerang jaringan listrik Iran dalam kurun waktu 48 jam.

Dampak dari ketegangan geopolitik ini tidak hanya terasa di pasar emas. Bursa saham Asia turut berguguran, sementara harga minyak mentah tetap bertengger jauh di atas US$ 110 per barel, mencerminkan kekhawatiran global.

Waterer menambahkan bahwa tingginya likuiditas emas justru menjadi bumerang dalam periode penghindaran risiko seperti ini. “Penurunan di pasar saham menyebabkan sebagian portofolio emas ditutup untuk menutupi margin call pada aset lain,” jelasnya.

Situasi semakin diperparah dengan potensi penutupan Selat Hormuz, yang terus menjaga harga minyak mentah tetap tinggi. Kondisi ini secara langsung memicu kekhawatiran inflasi, mengingat dampaknya pada kenaikan biaya transportasi dan manufaktur. Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga yang tinggi justru menekan permintaan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

BMI, unit dari Fitch Solutions, juga menyoroti adanya pergeseran signifikan dalam alokasi aset. “Pergeseran yang diperkuat dari alokasi aset aman menuju posisi yang didorong oleh faktor makro dapat semakin menggeser risiko ke arah penurunan, karena dolar AS yang lebih kuat dan berkurangnya kemungkinan pelonggaran kebijakan The Fed mendominasi narasi,” demikian pernyataan BMI.

Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga AS semakin menguat. Perkiraan pasar untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve AS tahun ini melonjak tajam, dengan kontrak berjangka suku bunga, berdasarkan alat FedWatch CME, menunjukkan bahwa bank sentral AS kini lebih cenderung menaikkan suku bunga daripada menurunkannya pada akhir tahun 2026.

Gelombang tekanan jual juga merambah ke logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 8,9% menjadi US$ 61,76 per ons, sementara harga platinum spot merosot 9% menjadi US$ 1.749,31. Tidak ketinggalan, harga paladium juga turun 5,2% ke level US$ 1.330,50.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.