DATA Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional, dengan komoditas utama meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703).

“Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan internasional,” kata Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 21 Maret 2026.

Namun bagi Indonesia, kata dia, dampak langsung terhadap perdagangan diperkirakan relatif terbatas mengingat eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil. Rini menjelaskan bahawa impor Indonesia dari kawasan Timur Tengah mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas.

Berdasarkan data terkini, sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4 persen), Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen), dan Eropa Barat (5,7 persen). Sehingga, ujar Rini, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor yang menentukan bagi kinerja ekspor nasional.

Rini menegaskan bahwa perkembangan konflik dan implikasinya terhadap perdagangan global terus dipantau, terutama yang berhubungan dengan stabilitas jalur energi internasional. Indonesia Eximbank memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia.

Kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam sistem energi global karena menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak dunia, sementara sekitar 20–30 persen perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat memengaruhi harga energi internasional sekaligus meningkatkan biaya logistik perdagangan global.

Walaupun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap dapat dirasakan melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara tersebut juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia.

Indonesia Eximbank Institute juga mencermati dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Cina, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia. Peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

Pilihan Editor: Kejar Tayang Menambal Jalan Berlubang Menjelang Lebaran

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.